Urgensi Syahadatain

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Bisa dibilang, syahadatain adalah pintu gerbang seseorang untuk menjadi Muslim. Belum disebut sebagai seorang Muslim bila seseorang belum bersyahadat. Karena itu, kedudukan syahadat menjadi sangat penting. Orang-orang yang sudah bersyahadat tapi ia masih melanggar ketentuan yang bisa merusak syahadatnya, maka besar kemungkinan ia harus mengulang syahadatnya.

Dalam tulisan singkat ini, akan dibahas tentang Urgensi Syahadatain (Pentingnya dua kalimat syahadat). Bisa jadi, selama ini kita sudah bersyahadat dan mengucapkannya setiap lima kali dalam 24 jam. Namun, yang perlu dipahami, apakah ucapan syahadat kita itu mewujud dalam keseharian? Atau malah sebaliknya ucapan itu hanya sebatas fatamorgana, hilang tanpa wujud, pergi tanpa jejak.

Syahadat akan sangat menentukan sejauh mana kualitas seorang hamba dalam bertauhid dan mengenal siapa Nabinya. Karena itulah, syahadat berkontribusi besar dalam melahirkan kualitas iman, fikrah, amal dan jasadiyah seorang Muslim. Pemahaman syahadat yang benar, akan mempengaruhi kepribadian, prilaku dan perbuatan seseorang.

Sebaliknya, ketidakfahaman seseorang terhadap syahadat yang diucapkannya, bisa menyebabkan dirinya tak punya kualitas, tak bermakna bahkan walau untuk dirinya sendiri. Di sinilah mengapa syahadatain itu sangat penting difahami oleh setiap Muslim.

Syahadat Tauhid

Syahadat tauhid adalah adalah pemahaman seorang hamba tentang tidak adanya Tuhan yang disembah selain Allah. Pemahaman yang lurus ini akan memberikan pengaruh yang sangat besar dalam kesehariannya. Bukan hanya dalam ibadah vertikal (habblum minalllah) tapi juga dalam ibadah-ibadah horizontal (habblum minannas).

Bila syahadat tauhidnya benar, maka dimanapun seseorang itu berada, ia akan memberi warna yang jelas dan baik kepada lingkungannya. Sebaliknya, jika pemahamannya tentang syahadat tauhid ini buruk, besar kemungkinan ialah yang akan terbawa oleh arus kemaksiatan.

Intinya, syahadat tauhid ini adalah meluruskan akidah dan pemahaman bahwa Allah adalah segala-galanya yang berhak dan wajib disembah, dimintai pertolongan, tempat mengadukan segala keluh kesah dan tempat bergantung atas segala sesuatu. Bila keyakinan syahadat tauhid ini benar, maka tentu efek positifnya akan terpancar kepada lingkungan dimana pun ia berada.

Syahadat Risalah

Untuk memuliakan manusia, maka Allah Ta’ala menurunkan petunjuk berupa wahyu dalam lembaran-lembaran kitab suci Al Qur’an. Tidaklah mungkin wahyu itu bisa dipahami tanpa adanya perantara risalah yang dibawa dan dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sebagaimana diketahui, untuk menebarkan hukum di muka bumi ini, Allah Ta’ala mengirimkan para Nabi dan Rasul-Nya. Sebab manusia tidak mungkin mendengar langsung suara Allah kecuali dengan perantara Malaikat Jibril yang Dia utus kepada para Nabi dan Rasul-Nya.

Inilah Urgensi Syahadat itu

Sebagaimana difahami oleh setiap Muslim, syahadatain mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam agama Islam. Syahadat merupakan rukun Islam pertama yang mesti dilalui siapapun ketiak ia ingin memeluk agama Islam ini. Berikut ini adalah urgensi-urgensi syahadatain.

Pertama, pintu gerbang Islam

Untuk berada dalam Islam, seseorang harus menyatakan persaksiannya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Syahadat tauhid merupakan pengakuan seseorang bahwa tidak ada Ilah (Tuhan) yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala semata. Allah-lah yang menurunkan sistem mulia (al Islam) kepada umat manusia melalui Rasul-Nya sehingga selamatlah manusia di dunia dan akhirat kelak.

Syahadat rasul merupakan persaksian seseorang bahwa Muhammad bin Abdullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Nabi dan utusan-Nya untuk memberi penerangan kepada umat manusia dengan wahyu Allah Ta’ala. Jadi jelas tujuan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam itu untuk mengajak manusia mengesakan Allah semata.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan aku adalah utusan Allah. Apabila mereka sudah bersaksi demikian, maka mereka telah melindungi darah dan hartanya dariku.” (HR. Bukhari Muslim).

Kedua, intisari ajaran Islam

Secara umum, Islam terdiri atas akidah dan syariat. Sisi lain Islam terdiri dari ibadah, akhlak, dan muamalah yang merupakan implementasi dan penjabaran dari syahadat tauhid dan syahadat rasul. Karena itu, ia sangat menentukan baik dan tidaknya aspek-asapek lain dalam diri dan masyarakat. Jika syahadatainnya lurus dan benar menurut pandangan Allah dan Rasul-Nya, maka ibadah, akhlak dan muamalahnya pun menjadi baik.

Sebaliknya, jika ia buruk, maka buruk pula aspek-aspek kehidupan lainnya. Misalnya dalam hal ibadah, maka inti ibadah itu adalah menuju kepada Allah bukan selain Dia. Ibadah yang ikhlas akan membuahkan ridha dan pahala berlipat dari Allah. Namun, jika ibadahnya bukan karena Allah, yang terjadi adalah kerugian dunia akhirat.

Ibadah juga tentu saja bukan sekedar menggugurkan kewajiban. Cara ibadah itu juga harus dilakukan sesuai petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak boleh menambah-nambah ibadah atau menguranginya.

Ketiga, merupakan asas perubahan

Saat hendak membangun masyarakat baru di atas puing-puing jahiliyah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengawali perubahan itu dari bidang ekonomi dengan mendirikan perusahaan misalnya. Tidak pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membangunnya dari bidang politik atau yang lainnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam justeru mengubah sisi internal (jiwa), yang disebut keyakinan.

Dengan syahadatain itu terjadilah perubahan maha dahsyat yang mendasar dalam seluruh aspek kehidupan generasi terbaik itu. Kaum yang tadinya kecil dan terisolasi, bahkan terbelakang itu lalu menjelma menjadi umat terbaik sepanjang masa yang pernah dilahirkan untuk umat manusia. Kaum itu dibawanya hijrah dari jahiliyah kepada Islam, dari kegelapan menuju cahaya terang benerang, dari kemunafikan kepada keikhlasan, dari keterbelakangan, kemiskinan menuju kemajuan dan kesejahteraan.

Inilah asas perubahan itu, bisa dilihat selama perjalanan dakwahnya. Selama 13 tahun, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam fokus membangun akidah dan akhlak yang tidak lain adalah syahadatain itu sendiri. Tahun-tahun pertama hijrah ke Madinah, pembangunan fisik dimulai dengan masjid sebagai sentra kegiatan dan inspirasi dari seluruh aktivitas yang akan dilakukan setelah itu, yaitu menghamba kepada Allah dan menebarkan rahmat (kebaikan) kepada seluruh alam.

Keempat, inti dakwah para Rasul

Syahadatain adalah inti dakwah yang dilakukan oleh semua rasul Allah Ta’ala, sejak rasul yang pertama hingga rasul yang terakhir. Mereka semua mengatakan, “Sembahlah Allah dan ikuti aku.”

Statemen mereka diabadikan Al Qur’an dalam kisah-kisah para nabi yang tersebar di berbagai surat. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus pada setiap umat itu seorang rasul, agar beribadahlah kalian kepada Allah dan jauhilah taghut.” (Qs. An Nahl: 36).

Kelima, fadhilah dan keutamaannya

Bicara tentang fadhilah syahadatain, akan lebih baik jika kita merujuk kepada berita-berita kenabian. Itulah yang lebih terjamin kebenarannya. Adapun sumber lainnya merupakan pelengkap, dengan catatan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip akidah itu sendiri. Adapun fadhilah dan keutamaan yang terkandung di dalam syahadatain itu di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Memasukkan orang yang mengucapkannya ke dalam surga. Dalam sebuah hadis, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mengucapkan la ilaha illallah, maka ia masuk surga.” (HR. Tirmidzi dari Az Zuhri ra).

Dalam hadis lain dijelaskan, “Barangsiapa yang mati sedang ia mengetahui bahwa tidak ada tuhan selain Allah, maka ia masuk surga.” (HR. Muslim dari Utsman ra).

  1. Dengan syahadat, akan mendapatkan kemuliaan dunia dan akhirat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika berdialog dengan Abu Jahal dan para pembesar kafir Quraisy. Kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Satu kalimat saja yang mereka berikan kepadaku, dengannya mereka akan menguasai bangsa Arab dan dengannya pula bangsa Ajam akan tunduk kepadanya, yaitu kalimat la ilaha illallah.”

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menuntun kita untuk menjadi orang yang benar-benar memahami urgensi (pentingnya) syahadatain/dua kalimat syahadat yang merupakan inti ajaran Islam ini sehingga kita bisa istiqamah dalam syahadat dan kelak mati husnul khatimah dengan syahadat itu pula, wallahua’lam.(A/RS3/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)