Oleh : Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita Islam MINA
Wabah virus corona yang mematikan berdampak signifikan pada penurunan serius dalam pariwisata ke Israel, Globes melaporkan. Dilaporkan setidaknya 21 warga Israel terkonfirmasi terkena virus ini.
Pasalnya, sejak pertama kali muncul pada bulan Desember 2019 dari Wuhan, provinsi Hubei Cina, virus ini telah menyebar di sebagian besar dunia. Dampak lainnya adalah adanya pencegahan orang-orang dari dan ke Cina, termasuk yang terdampak adalah Israel, dengan andalan turismenya.
Menurut Direktur Jenderal Asosiasi Operator Tour Israel Incoming, Yossi Fattal, pariwisata ke dan dari Israel menghadapi penurunan antara 50% hingga 60%. The Jerusalem Post melaporkan.
Baca Juga: Tradisi Mudik, Sejak Kapan Dilakukan?
Beberapa di antaranya tampaknya merupakan pembatalan dari kelompok yang sudah memesan perjalanan ke Israel, termasuk dari Negara-negara di kawasan Eropa.
“Kami segera mengadakan rapat darurat, di mana kami akan berbicara tentang bagaimana menghadapi kemungkinan pembatalan massal,” katanya.
Menurutnya, pasar pariwisata sangat terkejut dengan puluhan telepon pembatalan dari grup di Eropa dan AS.
“Kami khawatir tentang pembatalan, dan juga khawatir tentang kesehatan keuangan pemasok ke Israel, mengingat pembatalan layanan yang dilakukan mitra kami di luar negeri,” lanjutnya.
Baca Juga: Urgensi Rukyatul Hilal sebagai Bagian Dari Syariat Islam
Sampai akhir Februari saja sudah ada pembatalan sekitar 10% booking, dan trennya jelas akan meningkat.
Pasar di Israel dipengaruhi oleh kepanikan yang ditunjukkan oleh Departemen Kesehatan setempat yang telah mengisolasi sekitar 100.000 warganya untuk mencegah corona masuk.
corona-israel-300x169.jpg" alt="" width="346" height="195" />Terus Menurun
Banyak sumber sektor pariwisata telah mencanagkan bahwa Israel akan memiliki rekor lima juta wisatawan yang akan masuk pada tahun 2020. Namun wabah corona telah mengubah segalanya. Sekarang, industri pariwisata Israel khawatir bahwa virus itu bisa menjadi bencana.
Baca Juga: Palestina: Tanah Suci yang Terlupakan
“Semuanya berantakan. Selain mengonsumsi antidepresan, tidak ada yang dapat dilakukan, ”kata seorang sumber sektor.
Sumber-sumber sektor pariwisata Israel menyebutkan, trend penuruan bisa mencapai 30% pada bulan-bulan mendatang.
Ini seperti dikatakan, Kepala Kantor Direktur Jenderal Kementerian Pariwisata, Dikla Cohen-Sheinfeld, “Jika ternyata ini hanya acara tiga bulan dan musim panas bisa diselamatkan, itu satu hal. Namun jika corona berlanjut, itu masalah lain sepenuhnya dan tidak jelas bagaimana Israel akan menanganinya.” Ia mengatakan pada harian Israel Haaretz.
Ia menambahkan, Kementerian Pariwisata terus-menerus memberi tahu kontak di luar negeri bahwa Israel menjamin ke dapan semuanya berjalan seperti biasa.
Baca Juga: Munculnya Kabut Tebal di Akhir Zaman
“Tetapi jelas bahwa kami sedang memeriksa apakah akan menghentikan pariwisata yang masuk dari Italia, kami menerima beberapa panggilan telepon yang sangat mengkhawatirkan,” katanya.
Pada titik ini, tidak ada yang mau mengukur sejauh mana industri pariwisata Israel akan terpengaruh untuk tahun ini. Industri ini mungkin akan sangat terpukul jika wabah corona masih terus menyebar.
“Itu akan mengubah seluruh prediksi, dan semua grup wisata yang masih datang dari Eropa dan Amerika Serikat akan membatalkan,” lanjut Sheinfeld.
Walau begitu, Kementerian Pariwisata masih terus berusaha menjaga pandangan optimis, yang sangat penting untuk bisnis.
Baca Juga: Keluarnya Binatang dari Perut Bumi: Tanda Besar Akhir Zaman
Bukan hanya wisatawan Italia yang jelas-jelas saat ini dilarang masuk, juga wisatawan Korea Selatan.
Survei oleh CofaceBdi menambahkan, mereka melihat penurunan lebih dari 50% dalam permintaan oleh Israel untuk bepergian ke luar negeri, bukan hanya ke Cina.
Sebanyak 17% lainnya mengatakan mereka belum menyaksikan perubahan apa pun, dan 67% lainnya dari perusahaan pariwisata mengatakan dampaknya sudah jelas dalam pemesanan liburan musim panas.
Seperti juga dilaporkan The Marker awal Maret ini, maskapai penerbangan telah melaporkan penurunan dramatis dalam pemesanan tiket pesawat untuk Timur Jauh, dengan tujuan Thailand, Singapura, Vietnam dan Kamboja.
Baca Juga: Mudik Simbol Kebersamaan
Mereka juga melihat penurunan pemesanan untuk perjalanan singkat ke tujuan lain di seluruh dunia, termasuk Eropa dan Amerika Serikat.
Kerugian Beruntun
Pada sisi lainnya, sekitar 80% dari bisnis Israel yang bekerja sama dengan produsen Cina, kemungkinan akan menaikkan harga konsumen, menurut survei yang dilakukan oleh CofaceBdi.
Perusahaan itu mensurvei 450 eksekutif di perusahaan-perusahaan Israel yang mengimpor dari atau mengekspor ke Cina, atau bekerja di bidang pariwisata.
Baca Juga: Dakwah yang Menggugah: Ketika Etika dan Adab Menjadi Kunci Keberhasilan
Ini dikategorikan responden berdasarkan ukuran perusahaan, mereka yang memiliki pendapatan lebih dari $ 100 juta per tahun, mereka yang memiliki pendapatan antara $ 20- $ 100 juta dan mereka yang memiliki pendapatan di bawah $ 20 juta.
Beberapa 82% eksekutif di perusahaan besar mengatakan mereka mengantisipasi kenaikan harga, seperti halnya 78% di perusahaan menengah dan 83% di perusahaan kecil. Ini bisa menunjukkan bahwa semua pemain di pasar yang terpengaruh mungkin akan menaikkan harga. Laporan Haretz.
Sekitar 83% responden yang memiliki ikatan komersial dengan Cina juga mengalami penurunan bisnis karena virus corona. Setengahnya mengatakan operasi mereka menurun 50% atau lebih.
Banyak perusahaan telah mengumumkan kenaikan harga 3-10%, termasuk Brimag, Electra Air Conditioning, Tornado, Newpan, dan importir lokal Xiaomi, Hamilton.
Baca Juga: Tunaikan Zakat Fitrah, Penyempurna Puasa Ramadhan
Hampir setengah dari importir yang disurvei mengatakan mereka sudah memiliki kekurangan produk konsumen akhir mereka karena dampak krisis corona. Sekitar 10% impor Israel berasal dari Cina, tidak termasuk industri berlian.
Belum lagi pembatalan lagsung atau penundaan perbangan dari seluruh negara ke Israel. Penerbangan ke Cina sudah tutup lebih dulu, dan kemudian Korea Selatan dan Jepang.
Alitalia, Air France, Austrian Airlines, Lufthansa dan Swiss Airlines telah membatalkan semua penerbangan mereka ke Israel hingga bulan Maret. Ini sebagai tanggapan terhadap Kementerian Kesehatan yang melarang semua turis memasuki Israel dan mengharuskan warga Israel untuk memasuki karantina selama 14 hari.
Untuk beberapa negara, seperti Afrika Selatan, itu adalah satu-satunya maskapai penerbangan yang masih beroperasi.
Baca Juga: Taktik Baru Hamas Jika Pasukan Israel Lakukan Serangan Darat ke Gaza
Dampak berikutnya, akan menuntut pemotongan personil yang lebih dalam, baik dari segi gaji maupun jumlah. Pemilik hotel-hotel juga menangisi jualan properti mereka. Bahkan untuk menurunkan tarif mereka pun tidak akan begitu banyak orang memesannya karena takut berada di keramaian.
Beberapa situs pariwisata juga akan terancam gulung tikar atau lebih dalam memiliki utang. Apalagi jika situasinya berlanjut hingga musim panas, profesi pemandu wisata akan melepaskan profesi mereka, tidak mau melanjutkan hanya menunggu dan menunggu.
Perusahaan yang menginvestasikan jutaan shekel di took-toko bebas bea juga akan menemukan diri mereka mengalami kerugian luar biasa.
industri pariwisata Israel bisa memerlukan waktu berbulan-bulan untuk bisa pulih kembali. (A/RS2/P1)
Baca Juga: 17 Fakta Menarik tentang Masjid Al-Aqsa
Mi’raj News Agency (MINA)