Wakil Allah di Bumi, Dekrit Dari Langit

Oleh : Yayan D Natasaputra

Allah berfirman :

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

 Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 30).

Kalimat yang tertuang dalam ayat tersebut kalau kita penggal menjadi beberapa anak kalimat akan mengandung lima rangkaian makna substansi pengertian, yaitu :

  1. Tuhan berfirman kepada Malaikat.
  2. Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi.
  3. Mengapa Allah menjadikan manusia sebagai khalifah
  4. Kami senantiasa bertasbih memuji dan mensucikan Engkau.
  5. Aku (Allah) maha mengetahui apa yang tidak kamu (malaikat) ketahui.

1). Tuhan berfirman kepada Malaikat.

 Allah Rabb sekalian makhluk berfirman kepada Para Malaikat (makhluk yang paling mulia diantara sekalian makhluk ciptaan-Nya) yang selalu patuh dan thaat menunaikan amanat Sang Khalik.

Kepadanyalah khobariah tentang akan dijadikannya manusia sebagai Khalifatullah fil Ard (mewakili Allah di muka bumi). Malaikat  adalah makhluk yang paling pantas dan layak untuk di ajak bicara tentang sebuah Rencana Mega Proyek akan diangkatnya Wakil Allah di sebuah Planet yang bernama Bumi yang kondisinya telah diciptakan sedemian rupa untuk layak di huni oleh ummat manusia yang susunan anatominya sesuai dengan fitrah hidup dan kehidupan.

2). Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di Bumi.

Allah telah memilih manusia dari mahluk lainnya yang tercipta sebelumnya untuk mewakili Allah di muka Bumi. Hanya Allah yang tahu alasannya. Tapi yang pasti manusia yang fisik dan mentalnya telah dikondisikan sedemikian rupa untuk mampu mengelola Planet Bumi agar menjadi rahmat bagi semesta alam.

Oleh karena itu, manusia dilarang mengadakan keruksakan di muka Bumi, baik di daratan maupun di lautan yang dapat merusak dan menodai sebuah Tatanan Kekhilafahan yang suci.

Allah berfirman :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِنْ لَا يَشْعُرُونَ

Artinya: “dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. mereka menjawab: “Sesungguhnya Kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.“Ingatlah, sesungguhnya mereka Itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar”. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 11-12).

  1. Mengapa Allah menjadikan manusia sebagai khalifah

 Saat itu manusia dan watak aslinya belum tercipta, tapi Para Malaikat seolah olah telah tahu lebih dulu, melihat dan telah menjadi saksi, bahwa manusia suka menumpahkan darah dan kerusakan, apa sebabnya?

Berbagai spekulasi di kalangan ahli sejarah telah terjadi perbedaan pandangan seputar Nabi Adam Alaihissalam dalam kedudukannya sebagai Khalifatullah fil Ard (wakil Allah di bumi). Ada kalangan ulama yang berpendapat, bahwa Nabi Adam Alaissalam adalah manusia pertama, dan sekaligus nabi pertama pertama. Ada juga yang berpendapat, bahwa Adam AS adalah nabi pertama, tapi manusia. Berdasarkan pendapat diatas, nabi atau khalifatullah diturunkan untuk memperbaiki akhlak manusia.

Manusia bukan proses evolusi 

Berdasarkan situs dan fosil sejarah, Allah telah  menciptakan sepecies binatang yang kerangka anatominya menyerupai rangka manusia, malah lebih mendekati fostur monyet besar, ahli sejarah menamakannya sebagai manusia purba yang tidak punya peradaban alias canibalistis (Suka menumpahkan darah).

Dalam teori Charles Darwin yang irrasional dan tidak ilmiah telah terjadi missing link kurun waktu antara kurun waktu terciptanya manusia purba dengan kurun waktu terciptanya nabi Adam AS. Tetapi mungkin itu yang diduga oleh Para Malaikat sebagai manusia calon khalifah di muka bumi. Sangat pantas bila Allah berfirman : “Aku tahu apa yang tidak kamu ketahui”.

4). Padahal kami senantiasa bertasbih, memuji dan mensucikan nama Engkau.

Siakul kalam dari kalimat itu seakan akan Para Malaikat menggugat dan memprotes keputusan Allah, mengapa harus manusia yang buas dan canibalis (manusia purba) yang ditunjuk sebagai Khalifah fil ard, mengapa bukan aku (para malaikat) yang senantisa bertasbih memuji dan mensucikan Asma Allah Robbal ‘alamin…?

5). Aku (Allah) maha mengetahui apa yang tidak kamu (malaikat) ketahui.

 Sesungguhnya butir 5 ini merupakan jawaban final dari Allah, Khalik sekalian makhluk kepada Para Malaikat. Dan Malaikatpun langsung mentaatinya. Tapi tidak demikian dengan Iblis yang menyombongkan diri. Lantaran dirinya diciptakan dari api sedang Adam Alaihi salam terbuat dari tanah, rasa sombong Iblis mulai tampak dan karena kesombongannya itulah Iblis menjadi makhluk terkutuk.

Adam Alaihissalam adalah manusia dan nabi pertama.

Ada sebuah kurun, dalam rentang waktu jutaan atau mungkin miliaran tahun lamanya, di mana semua binatang purba, seperti Dinossaurus, Mamouth dan burung burung raksasa, termasuk apa yang disebut sebagai manusia purba secara berangsur angsur dilenyapkan atau dimusnahkan dulu oleh Sang Khalik sebelum nabi Adam Alaihissalam diturunkan ke muka Bumi.

Tak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi, bagaimana kalau Adam Alaihissalam diturunkan ke Dunia pada saat berbagai komunitas binatang buas (manusia purba) masih ada, Allohu Akbar.

Dari butir pertama sampai kelima menunjukkan dialog itu telah terjadi di langit. Artinya, sebelum manusia diturunkan ke planet Bumi. Jadi dekrit diangkatnya manusia sebagai khalifatullah fil Ard telah dibahas dan diputuskan dari langit yang jaraknya triliunan tahun cahaya.

Menurut Dr Arthur Besser dalam bukunya “The Earth”, 1 detik kecepatan cahaya Matahari = 300.000 km, bayangkan betapa jauhnya jarak antara Surga di alam baqa dengan alam semesta di alam fana  (alam fisika) pada hitungan triliunan tahun cahaya.

Perjalanan jarak dari alam Malaikat melintasi alam jagat raya adalah perjalanan maha dahsyat dan spektakuler yang mustahil bisa ditempuh oleh teknologi tercanggih dan mutakhir sekalipun oleh manusia saat ini dan yang akan datang, walau sampai hari kiamat sekalipun.

Jadi, keputusan soal kekhilafahan juga merupakan persoalan yang maha dahsyat yang diturunkan Allah untuk manusia.

Namun kalau kita telusuri dari akar sejarahnya, sumber segala  konflik  adalah Iblis laknatullah dengan hizbusyaitannya yang melakukan makar terhadap Allah dan para nabi utusan-Nya serta sekalian orang yang beriman.

Sebagai Hizbullah yang berpihak kepada Allah dan rasul-Nya. Semua nabi adalah Khalifatullah, mewakili Allah di muka bumi (Khalifatullah fil Ard), tetapi tidak setiap Khalifatullah adalah nabi. Khulafaur Rasyidin Al Mahdiyyin juga adalah khilafah , khalifah pengikut jejak kenabian. Khalifah nabi akhir zaman adalah Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sholallohu ‘Alaihi Wassalam.

Kontradiksi Hizbullah dengan Hizbusyaitan

Syaitan dan para pengikutnya mengobarkan kebencian dan api peperangan di muka bumi yang menimbulkan malapetaka dan penghancuran peradaban manusia di sepanjang sejarah kehidupannya. Sedang Khilafah mengibarkan cinta kasih dan perdamaian dunia yang hakiki dan abadi serta penuh rahmat.

Mereka ummat terbaik (kuntum khoiru ummah) diantara manusia dengan karakter dan akhlakul karimah : “Menegakkan yang ma’ruf dan mencegah segala bentuk kemungkaran”.

Bahwa adanya perbedaan persepsi, misi dan visi tentang kekhilafahan sangat beragam, tergantung kepada latar belakang paradigma pemikiran dan penafsiran, walau sumber referensinya mungkin saja sama. Dengan banyaknya ragam penafsiran, kebenaran Al Qur’an yang mutlak  dan final tidak lagi mem- punyai kesamaan makna tunggal, tapi beragam dan terkadang kontradiktif.

Padahal Al Quran atau Al Furqon adalah kitabullah yang secara jelas dan terang benderang memberi batasan petunjuk “yang haq dan bathil”. Petunjuk yang benar dan tidak meragukan isinya ini berubah menjadi kebenaran relative yang samar dan nisbi yang mengambang di ruang “Atmosfeer kebingungan”.

Parameter salah dan benar bukan lagi fokus pada Qur’an dan Sunnah rasul secara utuh, tapi bias oleh ragam faham dan golongan.

Manusia mengamalkan Islam secara menyeluruh (kaafah), tidak sulit untuk untuk mencapainya. Allah menurunkan Al Qur’an bukan untuk mendatangkan kesusahan (kesulitan), sebagai mana firman-Nya dalam Al Qur’an :

مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ

Artinya: “Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah”.  (Q.S. Thaaha [20]: 2).

(R03/P4)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)