Wapres: Pembangunan RS di Rakhine, Wujud Persahabatan Indonesia-Myanmar

dok foto: wapresri.go.id

Jakarta, MINA – Wakil Presiden Republik Indonesia K.H. Ma’ruf Amin menyatakan, pembangunan RS Indonesia di Rakhine menunjukkan wujud persahabatan antara Indonesia dengan Myanmar.

“Rakhine merupakan daerah konflik yang terdiri dari dua komunitas Muslim dan Budha. Umat Islam di Rakhine merupakan minoritas dan dalam keadaan yang sulit, sehingga RS Indonesia di Rakhine itu dapat menggandeng dua komunitas tersebut untuk bisa hidup berdampingan,” ujar Ma’ruf Amin ketika menerima Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Sarbini Abdul Murad, di Kantor Wakil Presiden, Jl. Medan Merdeka Utara No.15, Jakarta, Kamis (5/12).

Wapres menyampaikan apresiasi kepada MER-C yang telah berhasil membangun dan menyelesaikan pembangunan RS Indonesia di Rakhine yang merupakan pembangunan RS kedua setelah RS Indonesia di Gaza, Palestina.

“Saya menyampaikan apresiasi kepada MER-C yang telah berhasil menyelesaikan dan membangun RS Indonesia di Rakhine, Myanmar. Saya berharap bisa segera dioperasionalkan agar dapat segera memberi manfaat bagi masyarakat Rakhina, Myanmar,” katanya.

“Saya juga turut mendorong proses repatriasi agar permasalahan ini segera selesai, Indonesia sebagai bagian dari negara ASEAN akan hadir dan turut membantu,” sambungnya.

Sebelumnya, dr. Sarbini melaporkan perkembangan RS Indonesia di Rakhine yang sudah selesai dibangun. Mengingat pembangunan dilakukan dalam situasi konflik antara dua komunitas Muslim dan Budha, tim yang bertugas di Rakhine sangat berhati-hati dalam melaksanakan tugas itu.

“RS Indonesia di Rakhine, Myanmar, dibangun sejak tahun 2017 di atas lahan seluas 4000 m2 dengan luas bangunan 2300 m2, dan memiliki 32 tempat tidur. RS ini merupakan RS terbesar di Myanmar yang dibangun oleh Pemerintah Indonesia atas kerjasama Walubi, MER-C dan PMI, dengan biaya sebesar 15 miliar rupiah, dengan pengawasan dan kontrol yang sangat ketat,” ujar Sarbini.

Sarbini menambahkan, pembangunan RS itu direncanakan selama 10 bulan namun pelaksanaannya membutuhkan waktu 2 tahun.

“Berbagai kendala yang dihadapi seperti pekerja lokal yang melibatkan komunitas Muslim dan Budha yang unskill, sulitnya supply material, jarak tempuh memakan waktu 18 jam dari Yangon ke Rakhine merupakan tantangan tersendiri, namun Alhamdulillah kendala tersebut dapat diatasi,” ucapnya.

Pada tanggal 10 Desember 2019 rencananya secara resmi Indonesia akan menyerahkan kunci kepada Pemerintah Myanmar. Disamping itu, MER-C juga akan menyampaikan presentasi di depan Menteri Kesehatan Myanmar di Ibukota baru, Naypyidaw.

Sarbini bersama tim MER-C meminta kesediaan Wapres untuk meresmikan RS Indonesia di Rakhine, Myanmar. Terkait waktu pelaksanaan akan dikoordinasikan dengan Kementerian Luar Negeri.

Menanggapi hal tersebut, Wapres menyampaikan, akan melihat situasi dan kondisi nanti.

Mengingat RS Indonesia di Rakhine diperuntukkan untuk semua tanpa melihat latar belakang agama dan etnis, masyarakat Rakhine sangat antusias menyambut keberadaraan RS tersebut. Untuk itu, Wapres meminta untuk segera dioperasionalkan.

“Bila tenaga kesehatan sudah tersedia, obat-obatan tidak ada kesulitan, bangunan sudah selesai, alat kesehatan cukup, maka RS Indonesia tersebut dapat segera beroperasional agar dapat memberi manfaat. Terima kasih atas upaya MER-C yang telah membawa nama baik bangsa Indonesia,” pungkasnya.

Hadir dalam pertemuan tersebut Site Manager RS Indonesia di Myanmar Nur Ikhwan Abadi, Ketua Divisi Penggalangan Dana Luly Larissa, dan Manager Operasional MER-C Rima Manzanaris. (R/Ais/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)