“Warna Kulitmu adalah Kejahatan” di Aljazair

Pada tahun 1991, Michael George Johnson yang berusia 11 tahun untuk pertama kalinya meninggalkan negaranya.

Berbulan-bulan sebelumnya, kedua orangtuanya tewas dalam perang saudara di Liberia, salah satu perang saudara terburuk di Afrika pasca-kemerdekaan.

Johnson menghabiskan 27 tahun berikutnya mencari tempat yang aman untuk menetap dan mencoba meninggalkan hantu-hantu konflik.

Suatu hari pada awal Oktober ia tiba di Niger, setelah selamat dari perjalanan paksa selama sepekan di padang pasir Aljazair.

“Kami dikumpulkan dalam bus, bepergian dari kota ke kota tanpa makanan, wajib berjalan sejauh 30 km di Sahara dengan pistol ke kepala kami, dan ditempatkan seperti binatang di dalam truk sampai kami mencapai Agadez,” kenangnya.

Konvoi membawa 279 orang. Mereka ditangkap dalam operasi polisi di seluruh Aljazair.

“Ada orang Kamerun, Pantai Gading, Guinea, Nigeria, wanita dan anak-anak, kami melihat semuanya di sana,” tambahnya.

Perjalanan paksa yang dialami Johnson adalah satu di antara puluhan pengusiran massal migran yang dilakukan oleh otoritas Aljazair pada 2018. Kebijakan itu menuai kritik internasional atas perlakuan Aljazair terhadap warga negara sub-Sahara, yang sering ditinggalkan di padang pasir, beberapa jam jauhnya dari pos perbatasan terdekat di Niger.

Tahun Mengerikan

“2018 adalah tahun yang mengerikan bagi pekerja migran di Aljazair, ditandai dengan jumlah terbesar penangkapan dan deportasi,” kata aktivis HAM Fouad Hassam kepada Al Jazeera melalui telepon.

Hassam sebagai seorang anggota Liga Aljazair untuk Membela HAM membantu beberapa pekerja migran di kota Oran, kampung halamannya di Aljazair barat laut. Para aktivis migran telah menerima ancaman terkait pekerjaannya.

“Aktivis masyarakat sipil dan LSM telah diserang karena membela migran,” katanya.

Ia mengungkapkan, salah satu pengusiran migran pertama dipicu oleh perkelahian antara beberapa pekerja sub-Sahara dan penduduk setempat di pinggiran ibu kota Aljir dua tahun lalu. Pasukan keamanan menangkap 1.500 warga sub-Sahara, mendeportasi ratusan ke perbatasan dengan Niger.

“Sejak saat itu, segalanya menjadi lebih buruk, warna kulitmu adalah kejahatan,” kata Hassam. “Apa pun status hukummu, kamu bisa dikurung dan dideportasi kapan saja, hanya karena kulit hitam.”

Johnson mengatakan bahwa ia mengalami penganiayaan itu secara langsung.

“Saya tahu bahwa Aljazair tidak aman,” kenangnya. “Tetapi setelah perjalanan tanpa akhir, saya akhirnya bisa bekerja sebagai buruh harian di lokasi konstruksi, mendapatkan sesuatu untuk memenuhi impian saya, yaitu mencapai Perancis.”

“Perjalanan Melalui Neraka”

Pada tahun-tahun sebelumnya, Johnson tinggal di Mauritania, Pantai Gading dan Sudan, tempat ia mencoba menyeberangi Laut Merah menuju Arab Saudi, tapi selalu gagal.

Dia kemudian menuju ke Aljazair setelah perjalanan dramatis melalui Libya, tempat dia ditahan dan disiksa oleh orang-orang bersenjata.

“Di Aljazair, saya harus bersembunyi, tetapi setidaknya ada beberapa pekerjaan,” katanya. Mimpinya di Eropa terputus tiba-tiba pada suatu malam di Aljir.

Dalam perjalanan pulang kerja, polisi membawa semua orang kulit hitam ke barak. Polisi tidak memeriksa dokumen mereka. Keesokan paginya, para migran dimasukkan ke dalam bus. Mereka yang meminta pulang untuk mengambil barang-barangnya dipukuli dengan keras.

Johnson menyebut itu adalah “perjalanan melalui neraka”. Dia dan teman-temannya dihina dan dipukuli di setiap perhentian. “Mereka memberi tahu kami bahwa itu adalah hukuman karena berada di negara itu dan bahwa kami tidak perlu kembali.”

Di salah satu perhentian konvoinya, Johnson mengatakan, seorang pria “meninggal karena pendarahan di bagian dalam tubuh, setelah ditendang di sekujur tubuhnya.”

“Kami menguburkannya dengan tangan kami sendiri di padang pasir,” katanya. Suaranya bergetar ketika dia mengingat saat-saat itu.

George Oldman Harris, warga Liberia lain yang melakukan perjalanan yang sama beberapa pekan sebelumnya, menggelengkan kepalanya ketika Johnson berbicara.

“Saya tahu betul seperti apa itu,” katanya. “Orang Aljazair mendeportasi saya lima kali sejak saya memasuki negara itu pada 2013.”

Johnson dan Harris bertemu di Agadez dan memutuskan untuk mencapai Niamey dengan tujuan yang sama, yaitu menghasilkan uang untuk menghindari pulang ke Liberia dengan “tangan kosong”.

Seperti ratusan refoule (orang “yang ditolak” dalam bahasa Perancis), sebagaimana mereka dipanggil di Niger, mereka menghabiskan hari-harinya dengan berjalan di alun-alun pasar kota yang sibuk, mencari peluang dan tempat untuk merebahkan kepala.

Kelompok HAM Mengecam

Pusat transit yang ditawarkan oleh Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) dipenuhi oleh orang-orang yang minta dipulangkan ke negara asalnya melalui program pengembalian sukarela badan PBB.

IOM kebanjiran permintaan, tetapi lembaga itu tidak bisa membuka pusat baru dalam waktu singkat.

“Pengusiran dibenarkan dengan merujuk pada perjanjian 2014 antara Aljazair dan Niger, tetapi dalam kenyataannya, kami menghadapi pelanggaran besar terhadap norma-norma internasional dan hak asasi manusia,” kata peneliti Amnesty International Debora Del Pistoia.

“Tetapi di antara yang dideportasi, ada pengungsi dan pencari suaka yang terdaftar di Aljazair dan orang-orang dari seluruh Afrika Barat, yang ditahan dan dideportasi secara ilegal,” kata Del Pistoia.

Kampanye Amnesty International yang dinamai “Forced to leave” diluncurkan pada 20 Desember, menyeru pihak berwenang Aljazair dan mitra mereka untuk segera menghentikan praktik ini dan menghindari segala bentuk “profil rasial”.

Selama konferensi mengenai migrasi global awal bulan ini di Maroko, Menteri Dalam Negeri Aljazair Noureddine Bedoui mengatakan bahwa negaranya menghormati hak-hak dan martabat para migran.

Namun menurutnya, Aljazair telah melalui “kedatangan besar migran yang terus-menerus dan harus mengambil langkah-langkah untuk menguranginya.” (AT/RI-1/P1)

Sumber: tulisan Giacomo Zandonini di Al Jazeera

Mi’raj News Agency (MINA)