PENEMBAKAN-TUNISIA2.jpg" alt="Satu mayat wisatawan asing tergeletak di pasir pantai depan hotel di kota Sousse, Tunisia timur, setelah terjadi penembakan Jumat 26 Juni 2015. (Foto: REUTERS/Amine Ben Aziza)" width="296" height="222" /> Satu mayat wisatawan asing tergeletak di pasir pantai depan hotel di kota Sousse, Tunisia timur, setelah terjadi penembakan Jumat 26 Juni 2015. (Foto: REUTERS/Amine Ben Aziza)
Tunis, 11 Ramadhan 1436/28 Juni 2015 (MINA) – Wisatawan asing berbondong-bondong terbang keluar dari Tunisia setelah kematian 38 wisatawan asing dalam serangan di sebuah resor pantai Kota Sousse, Tunisia timur.
Eksodus Sabtu (27/6) terjadi meski pemerintah Tunisia membantah klaim kelompok Islamic State atau ISIS yang mengaku melakukan serangan Jumat tersebut.
Pemerintah mengatakan, tersangka yang ditembak di lokasi tidak pernah bepergian ke luar negeri dan sebelumnya tidak terdaftar dalam pantauan polisi, Al-Jazeera yang dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA).
Berbicara tentang serangan di depan dua hotel wisata itu, seorang wanita Irlandia bernama Elizabeth O’Brien yang tinggal di hotel lain bersama dua putranya, mengatakan, ada kepanikan di pantai ketika tembakan terjadi.
Baca Juga: Pesawat Kargo Kenya Kecelakaan di Somalia, Seluruh Awak Tewas
“Saya benar-benar berpikir itu kembang api. Kemudian ketika saya melihat orang-orang berlarian, saya berpikir itu penembakan,” katanya kepada stasiun radio Irlandia RTE.
“Para pelayan dan keamanan di pantai berteriak ‘lari, lari, lari!’,” tambahnya.
Di Sousse, banyak wisatawan asing sudah mengepak kopernya ke dalam bus dan meninggalkan hotel setelah serangan, kantor berita Reuters melaporkan.
Operator tur Jerman dan Inggris yang mengorganisir penerbangan untuk wisatawan yang ingin pulang dari Tunisia mengatakan, mereka yang sebelumnya memesan liburan ke Tunisia untuk musim panas ini bisa membatalkan perjalanannya. (T/P001/R05)
Baca Juga: Afrika Selatan Sesalkan Pengusiran Utusannya dari AS
Mi’raj Islamic News Agency (MINA)
Baca Juga: Uni Afrika: Pemerintahan Paralel di Sudan Ancam Pecah Belah Negara