Yakhsyallah Mansur: Inspirasi Surah Al-Insyirah, Muslim Harus Lakukan Lompatan Besar

Al-Muhajirun, Lampung Selatan, MINA – Pasca Ramadhan, umat Islam hendaknya melakukan lompatan besar dalam segala bidang kehidupannya.

Demikian Imaamul Muslimin, Yakhsyallah Mansur pada kuliah umum yang diadakan di Aula Taqwa, Komplek Sekolah Tinggi Al-Qur’an Abdullah Bin Mas’ud (STSQABM), Kamis, (11/6).

“Selesai ramadhan harus mau capek lagi, harus bangkit lagi dengan penuh energi dan siap. Sebab kata istirahat tidak ada dalam Al-Qur’an,” katanya.

Di dalam surat Al-Insyirah, kata Yakhsyallah, dijelaskan bahwa Rasulullah sedang menghadapi kesulitan yang amat sangat berat.

“Kenapa Rasulullah dilapangkan dadanya? Karena ada masalah. Karena orang kalau dadanya sumpek, biasanya ada masalah. Masalah selesai, maka dada akan lapang. Itulah kenapa pada ayat ini dikatakan Alam Nasroh Laka Shodrok,” katanya.

“Apa masalahnya, yakni masalah besar problematika masyarakat yang sudah rusak total saat itu, bayangkan betapa rusaknya masyarakat saat itu, tawaf di Ka’bah dalam keadaan telanjang, berzina dibolehkan jika dilakukan terang-terangan, dan seterusnya, ini menjadi beban Rasulullah,” katanya.

Allah menghilangkan beban yang dirasakan oleh Rasulullah.  Setelah beban itu bisa dilewati oleh Rasulullah, maka Allah mengangkat namanya ke tempat yang tinggi.

Kemudian, lanjut Yakhsyallah, dalam ayat selanjutnya Allah menekankan akan ada kemudahan di tengah-tengah kesulitan yang dihadapi. Tapi untuk bisa mencapai kemudahan harus berani menghadapi kesulitan.

Usr’ maknanya kesulitan, penderitaan ketika akan melahirkan bayi. Kesulitan yang amat sangat. Maka dulu Gusdur pernah bilang, jangan hindari kesulitan, kalau ada masalah terjang, hadapi jangan ditinggal, jangan lari,” tegasnya.

Pada ayat ke 7 dan 8, ditekankan agar jika sudah selsai dalam satu urusan agar bisa melanjutkan dengan pekerjaan yang lain.

Faragha maknanya sudah selesai tidak ada kesulitan lagi setelahnya, artinya kesulitan yang maksimal, tapi Allah katakan setelah selesaikan kesulitan pekerjaan yang maksimal tersebut, maka kerjakan yang lain lagi. Selesai ramadhan harus mau capek lagi, bangkit lagi dengan penuh energi dan siap,” katanya

Jadi sebenarnya tidak ada istirahat, karena kata istirahat sendiri tidak ada di dalam Al-Qur’an.

“Mari bangkitkan energi kita setelah ramadhan, dan hanya kepada Allah kita berharap. Karena hanya Allah yang pantas untuk kita harapkan,” ujarnya.

STSQABM mendapatkan izin operasional dari Kementerian Agama yang tertuang dalam SK Direktur Jenderal Pendidikan Islam (DIRJEN PENDIS) Kementerian Agama Republik Indonesia, No. 3373 tahun 2017 tentang Izin Pendirian STSQABM yang dikeluarkan di Jakarta tanggal 16 Juni 2017.

STSQABM merupakan Lembaga Tinggi unggulan berbasis Al-Quran dan Sunnah dengan pemanfaatan teknologi informasi dalam upaya tegaknya syariat Islam yang Rahmatan lil ’Alamin serta menghasilkan cendekiawan Muslim yang berkualitas, berilmu dan berakhlaqul karimah. (L/B03/P2).

Mi’raj News Agency (MINA).