Zaid Bin Tsabit, Penulis Wahyu Allah SWT

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

AL QUR’AN adalah kalam mulia tak terkira yang pernah diturunkan Allah kepada Nabi SAW hingga berlanjut kepada kita umat Islam. Al Qur’an adalan nikmat terindah yang diberikan Allah kepada setiap muslim. Tahukah kita, orang yang sangat berjasa dalam menghimpun al Qur’an adalah sahabat utama bernama Zaid bin Tsabit ?.

Zaid bin Tsabit adalah sahabat besar yang jasa-jasanya akan terus dikenang oleh umat Islam sepanjang masa. Karena dialah, kita hari ini masih bisa menikmati bacaan suci al Qur’an. Dialah yang telah berjasa menghimpun, menyusun, menertibkan dan memelihara kesucian al Qur’an. Zaid bin Tsabit merupakan pribadi yang mempunyai hak atau jatah terbesar dalam menerima bunga-bunga penghormatan dan penghargaan.

Zaid bin Tsabit adalah seorang Anshar asal Madinah. Sewaktu Rasulullah SAW datang berhijrah ke Madinah, umurnya baru 11 tahun. Anak kecil ini ikut masuk Islam bersama-sama keluarganya yang lain yang menganut Islam, dan ia mendapatkan kelebihan  karena didoakan oleh Rasulullah SAW.

Ia dibawa oleh orang tuanya berangkat bersama-sama ke perang Badar tapi Rasulullah menolaknya ikut, karena umur dan tubuhnya yang masih kecil. Lalu di perang Uhud ia menghadap lagi bersama teman-teman sebayanya kepada Rasul. Dengan menghiba, agar dapat diterima Rasul dalam barisan Mujahidin, bahkan para keluarga anak-anak ini menyokong permintaan itu dengan gigih, penuh pengharapan.

Ingin perang padahal masih bocah

Rasul melayangkan pandangannya ke pasukan berkuda cilik itu dengan pandangan terima kasih. Tapi kelihatannya beliau masih keberatan untuk membawa mereka dalam barisan para mujahid pembela agama Allah. Namun, salah seorang dari anak kecil itu yaitu Rafi’ bin Khudaij tampil kehadapan Rasulullah SAW dengan membawa tombaknya serta mempermainkannya dengan gerakan yang mengagumkan. Lalu katanya kepada Rasulullah SAW, “Sebagaimana anda lihat ya Rasulullah, aku adalah seorang pelempar tombak yang mahir, maka mohon aku diizinkan untuk ikut!”

Rasul mengucapkan selamat terhadap pahlawan muda yang baru naik ini dengan satu senyuman manis dan ramah, lalu mengizinkannya turut. Melihat itu teman-temannya yang lain pun bangkit semangatnya. Maka tampil lagi ke depan anak muda yang kedua, namanya Samurah bin Jundub, dan dengan penuh sopan diperlihatkannya kedua lengannya yang kuat kekar, sementara sebagian keluarganya mengatakan kepada Rasul, “Samurah mampu merebahkan badan orang yang tinggi sekalipun!”

Rasul pun berkenan pula melontarkan senyumannya yang menawan dan menerimanya dalam barisan. Kedua anak muda itu masing-masing telah berumur lima belas tahun di samping mempunyai pertumbuhan badan yang kuat.

Dari kelompok anak-anak itu masih tinggal enam orang lagi, di antaranya Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Umar. Mereka terus saja berusaha dengan segala upaya minta ikut, kadang-kadang dengan merendah-rendah dan mengharap, kadang-kadang dengan menangis dan lain kali dengan memamerkan otot-otot lengan mereka. Tetapi karena umur mereka yang masih terlalu muda dan tulang tubuh mereka yang masih lemah, Rasul lalu menjanjikan mereka untuk pertahanan di masa mendatang.

Begitulah Zaid bersama kawan-kawannya baru mendapat giliran mengikuti barisan Rasulullah sebagai prajurit pembela Islam dalam perang Khandaq,  pada tahun yang kelima hijrah.

Cerdas, terampil dan mulia

Kepribadiannya selaku seorang Muslim yang beriman terus tumbuh dengan cepat dan menakjubkan. Ia bukan hanya terampil sebagai pejuang, tapi juga sebagai ilmuwan dengan bermacam-macam bakat dan kelebihan. Ia tak henti-hentinya menghapal al Qur’an, menuliskan wahyu untuk Rasulnya, dan meningkatkan diri dalam ilmu dan hikmat.

Sewaktu Rasul mulai menyampaikan dakwahnya ke luar negeri secara merata, dan mengirimkan surat-surat kepada raja-raja dan kaisar-kaisar dunia, maka diperintahkannyalah Zaid mempelajari sebagian bahasa asing itu yang berhasil dilaksanakannya dalam waktu yang singkat.

Demikianlah kepribadian Zaid bin Tsabit menjadi cemerlang, dan ia dapat menempatkan diri dalam lingkungan pergaulan yang baru pada kedudukan yang tinggi, hingga ia pun jadi tumpuan penghormatan dan penghargaan masyarakat Islam. Berkata Sya’bi, “Pada suatu kali Zaid hendak pergi berkendaraan, maka Ibnu Abbas lalu memegangkan tali kendali kudanya. Kata Zaid kepadanya, “Tak usahlah, wahai putera paman Rasulullah? Ibnu Abbas segera menjawab, “Tidak, memang beginilah seharusnya kami lakukan terhadap ulama kami?

Berkata pula Qabishah, “Zaid di Madinah mengepalai peradilan urusan fatwa, qira’at dan soal pembagian pusaka.“ Dan berkata pula Tsabit bin Ubeid, “Jarang aku melihat seseorang yang jenaka di rumahnya, tetapi paling disegani di majlisnya seperti Zaid.” Dan kata Ibnu Abbas pula, “Tokoh-tokoh terkemuka dari shahabat-shahabat Muhammad SAW tahu betul bahwa Zaid bin Tsabit adalah orang yang dalam ilmunya!”

Puji-pujian tentang kelebihannya itu yang dikemukakan secara berulang-ulang oleh shahabat-shahabatnya, dapatlah menambah pengertian kita terhadap tokoh yang oleh taqdir telah disediakan baginya tugas terpenting di antara semua tugas dalam sejarah Islam, yaitu tugas menghimpun al Qur’an.

Menghafal dan menulis al Qur’an

Semenjak wahyu mulai turun, dan mengambil tempat di hati Rasul agar beliau termasuk golongan orang-orang yang menyampaikan peringatan dan perhatian, mengemukakan dan melaksanakan al Qur’an dengan menyampaikan ayat-ayat yang mulia ini. “Bacalah dengan Nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang telah mengajar dengan pena. Mengajari manusia apa-apa yang tidak diketahuinya!”  (Qs. 96 al-‘Alaq: 1 — 5)

Sejak permulaan itu, wahyu turun menyertai Rasulullah SAW setiap beliau berpaling menghadapkan wajahnya ke hadirat Allah sambil mengharapkan nur dan petunjuk-Nya. Wahyu turun berangsur-angsur sedikit demi sedikit, seayat demi seayat. Turunnya wahyu itu selama jangka waktu kerasulan, di sela-sela peristiwa di mana Nabi selesai menghadapi suatu peperangan, kembali menghadapi peperangan yang lain. Kala ia menggagalkan suatu tipu muslihat perang musuh, beralih menghadapi muslihat mereka yang lain, dan yang lain lagi. Di saat beliau membina dunia baru, yakni baru dengan arti seluas kata. Wahyu itu tetap turun, sedang Rasul membacakan dan menyampaikannya, sementara Zaid mendapat tugas menulis dan menghimpunnya.

Selain Zaid bin Tsabit, tidak sedikit dari sahabat yang ahli baca dan hafal al Qur’an yang mencatat atau menuliskannya. Di antara pemimpin-pemimpinnya ialah Ali bin Abi Thalib, Ubai bin Ka’ab, Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin Abbas.

Sesudah sempurna turun wahyu, dan pada masa-masa yang terakhir dari turunnya Rasul mengulang membacakannya kepada Muslimin, dengan menertibkan susunan Surat-Surat dan ayat-ayatnya. Sesudah wafatnya SAW, kaum Muslimin segera disibukkan oleh peperangan menghadapi kaum yang murtad.

Mulai menghimpun al Qur’an di masa Abu Bakar

Dalam pertempuran Yamamah Khalid bin Walid dan Zaid bin Khatthab, banyak korban berjatuhan sebagai syuhada dari golongan para penghafal al Qur’an. Keadaan itu mengkhawatirkan. Belum lagi api kemurtadan padam, maka Umar dengan rasa cemas, segera menghadap Khalifah Abu Bakar Shiddiq ra dan dengan gigih memohon agar para qari’ dan huffadh segera diperintahkan menghimpun al Qur’an sebelum mereka gugur atau mati syahid.

Khalifah pun shalat istikharah. Lalu musyawarah dengan para shahabatnya dan kemudian memanggil Zaid bin Tsabit, sembari berkata, “Kamu adalah seorang anak muda yang cerdas, kami tidak meragukan kamu!” Lalu diperintahkannya untuk segera memulai  menghimpun al Quranul Karim, dengan meminta bantuan para ahli yang berpengalaman dalam soal ini.

Maka bangkitlah Zaid melakukan amal bakti yang kepadanya tergantung masa depan Islam sebagai suatu agama. Dalam melaksanakan tugas yang sangat besar dan penting ini Zaid berhasil dengan amat gemilang. Tiada henti-hentinya ia bekerja menghimpun ayat-ayat dan Surat-Surat dari dada para penghafal dan dari catatan serta tulisan, dengan meneliti dan mempersamakan serta memperbandingkan satu dengan lainnya, hingga akhirnya dapatlah dihimpun al Qur’an yang tersusun dan teratur rapi.

Suatu hari Zaid pernah melukiskan kesukaran besar yang dihadapinya mengingat kesucian tugas dan kemuliaannya dalam menghimpun al Qur’an, katanya, “Demi Allah, seandainya mereka memintaku untuk memindahkan gunung dari tempatnya, akan lebih mudah kurasa dari perintah mereka menghimpun al Qur’an ini!”

Tahap pertama menghimpun al Qur’an sudah selesai. Namun, penghimpunan kali ini masih tertulis dalam banyak mashaf. Dalam mushaf-mushaf itu ada perbedaan-perbedaan tanda-tanda harakat yang merupakan formalitas belaka, namun pengalaman meyakinkan para shahabat Rasul SAW keharusan mempersatukan semua dalam satu mushaf saja.

Maka di masa Khalifah Utsman ra di kala Kaum Muslimin terus-menerus melanjutkan perjuangannya dalam membebaskan umat manusia dari penindasan penguasa di negeri-negeri lain, meninggalkan kota Madinah dan merantau ke pelosok-pelosok yang jauh. di saat setiap harinya orang berbondong-bondong masuk Islam dan berjanji setia kepadanya, waktu itu tampaklah dengan jelas hal-hal yang berbahaya yang diakibatkan oleh banyaknya mushaf, yakni timbulnya perbedaan bacaan terhadap al Qur’an, sampai-sampai di kalangan para shahabat yang mula-mula dan angkatan pertamapun berbeda.

Oleh karena itu, segolongan shahabat ra yang dikepalai oleh Hudzaifah ibnul Yaman tampil menghadap Utsman, dan menjelaskan keperluan yang mendesak untuk menyatukan mushaf. Khalifah pun melakukan shalat istikharah kepada Tuhannya dan berunding dengan shahabat-shahabatnya. Dan sebagaimana Abu Bakar dulu meminta tenaga Zaid bin Tsabit, sekarang Utsman meminta bantuan tenaganya pula.

Zaid lalu mengumpulkan shahabat-shahabat dan orang-orang yang dapat membantunya. Mereka ambil beberapa mushaf dari rumah Hafshah puteri Umar ra yang selama ini dipelihara dengan baik di sana. Dan mulailah Zaid dan para shahabatnya menggarap pekerjaan mulia ini.

Semua mereka yang membantu Zaid adalah penulis-penulis wahyu dan para penghafal al Qur’an. Namun, bila terdapat perbedaan dan ternyata sedikit sekali terdapat perbedaan. itu mereka selalu berpegang kepada petunjuk dan pendapat Zaid dan menjadikannya sebagai alasan kuat dan kata putus.

Sungguh betapa besar pahala jariyah yang akan diterima oleh Zaid bin Tsabit bersama para sahabat penghimpun al Qur’an lainnya. Semoga kita bisa menjadikan al Qur’an sebagai pedoman selama menjalani kehidupan yang fana ini.(A/RS3/P1)

 

(Sumber: Buku 60 Karakteristik Sahabat Rasulullah SAW)

Mi’raj News Agency (MINA)