Zikir Akal untuk Lima Hal

Ilustrasi.

 

Oleh Rudi Hendrik, jurnalis Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam ayat-Nya,

إِنَّ فِى خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَـٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّہَارِ لَأَيَـٰتٍ۬ لِّأُوْلِى ٱلۡأَلۡبَـٰبِ

ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَـٰمً۬ا وَقُعُودً۬ا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَڪَّرُونَ فِى خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَـٰذَا بَـٰطِلاً۬ سُبۡحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

Artinya, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (QS. Ali Imran [3] ayat 190-191).

Akal berfungsi untuk memikirkan sesuatu. Apa yang dipikirkan?

Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani menurutnya setidaknya ada lima hal yang dipikirkan oleh akal dalam berzikir kepada Allah.

Pertama, memikirkan semua ciptaan Allah. Sebagaimana yang disampaikan oleh Allah dalam QS. Ali Imran [3] ayat 190 bahwa dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah. Dan tanda-tanda kebesaran Allah itu hanya bisa disadari dan diketahui oleh orang-orang yang mau menggunakan akalnya dalam memikirkan ciptaan Allah.

Langit dan bumi, siang dan malam, mewakili dari seluruh yang ada di dalam keduanya dan di antara keduanya, serta siang dan malam mewakili segala hal yang terselimuti oleh terang dan gelap. Itu menunjukkan bahwa dalam semua hal yang Allah ciptakan terdapat tanda-tanda kebesaran Allah.

Dengan memikirkan ciptaan-ciptaan Allah yang hanya Dia semata yang bisa menciptakannya, maka dengan sendirinya otak kita akan selalu mengingat Allah.

Kedua, memikirkan nikmat Allah.

Nikmat yang Allah berikan kepada manusia tak bisa dihitung. Terlebih bagi seorang Muslim yang diberi nikmat khusus dan yang utama, yaitu nikmat iman dan Islam.

Coba renungkan perkataan sahabat Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu berikut ini,

مَنْ لَمْ يَعْرِفْ نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْهِ إِلاَّ فِي مَطْعَمِهِ وَمَشْرَبِهِ فَقَدْ قَلَّ عَمَلُهُ وَحَضَرَ عَذَابُهُ وَمَنْ لَمْ يَكُنْ غَنِيًا عَنِ الدُّنْيَا فَلاَ دُنْيَا لَهُ

Artinya, “Siapa yang tidak mengenal nikmat Allah padanya, ia hanya tahu nikmat makan dan minum saja, tentu amalannya akan berkurang, siksa akan mendatanginya. Siapa yang tidak merasa puas dengan nikmat dunia, maka tidak ada dunia untuknya.” (Hilyatul Auliya’, 1: 210).

Abu Ad-Darda’ juga berkata,

كَمْ مِنْ نِعْمَةِ للهِ تَعَالَى فِي عِرْقٍ سَاكِنٍ

Artinya, “Betapa banyak nikmat milik Allah ada pada urat (pembuluh darah).” (Hilyatul Auliya’, 1: 210)

Karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Artinya, “Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman [55] ayat 13).

Bahkan dalam surat ini Allah mengulang-ulang kalimat tersebut.

Ketika jin dibacakan surat Ar-Rahman ini oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, pada saat melewati ayat yang disebut di atas, para jin menyatakan, “Tidak ada sama sekali dari nikmat Rabb kami yang kami dustakan. Bagi-Mu pujian.” Oleh karenanya, jika seorang hamba disebut padanya nikmat Allah, hendaklah ia mengakui nikmat tersebut lantas ia bersyukur dan memuji Allah atas nikmat itu. (Tafsir As-Sa’di, hal. 878)

Dengan memikirkan nikmat yang diberikan Allah, maka akan membawa kita untuk lebih bersyukur.

Ketiga, memikirkan janji Allah bagi orang-orang saleh.

Begitu banyak janji-janji Allah yang diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman. Janji-janji Allah sebaiknya selalu diingat dan tidak dilupakan, karena dengan mengingatnya, janji-janji Allah itu akan menjadi sugesti yang membangkitkan semangat beramal saleh kita serta semangat dalam membela dan menolong agama Allah.

Allah Azza wa Jalla Yang Maha Menepati Janji akan menepati janji-Nya kepada orang-orang yang benar-benar bersungguh-sungguh dalam melaksanakan apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan.

Salah satu ayat yang Allah menyatakan janji-Nya adalah QS. An-Nuur [24] ayat 55.

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِى ٱلۡأَرۡضِ ڪَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمۡ دِينَہُمُ ٱلَّذِى ٱرۡتَضَىٰ لَهُمۡ وَلَيُبَدِّلَنَّہُم مِّنۢ بَعۡدِ خَوۡفِهِمۡ أَمۡنً۬ا‌ۚ يَعۡبُدُونَنِى لَا يُشۡرِكُونَ بِى شَيۡـًٔ۬ا‌ۚ وَمَن ڪَفَرَ بَعۡدَ ذَٲلِكَ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡفَـٰسِقُونَ

Artinya, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar [keadaan] mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang [tetap] kafir sesudah [janji] itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nuur [24] ayat 55).

Allah memberikan janji-Nya kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Orang-orang yang beriman yang dimaksud bukanlah orang-orang yang sekedar menyatakan percaya kepada Allah dan lima rukun iman lain, tapi Muslim yang benar-benar memiliki keyakinan yang kuat akan kebenaran yang Allah dan Rasul-Nya sampaikan.

Dan orang-orang yang beramal saleh yang dimaksud bukanlah orang yang sekedar melaksanakan Islam apa adanya dengan hanya memelihara salat lima waktu dan puasa di bulan suci Ramadhan, tapi mukmin yang yang benar-benar beramal saleh dengan melaksanakan segala yang Allah perintahkan secara kolektif (berjamaah), bukan pelaksanaan personal belaka untuk kebaikan sendiri.

Keempat, memikirkan ancaman Allah bagi orang-orang yang mendurhakai-Nya.

Mengingat ancaman-ancaman Allah sangat penting untuk memaksa diri kita tidak berani untuk melakukan dosa. Sering kali membayangkan demikian pedih dan beratnya siksa Allah membuat orang-orang yang beriman dan yang berbuat dosa menangis.

Salah satu contoh kengerian siksa Allah di neraka terhadap orang-orang kafir Dia ungkapkan dalam Al-Quran Surat An-Nisaa [4] ayat 56.

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَـٰتِنَا سَوۡفَ نُصۡلِيہِمۡ نَارً۬ا كُلَّمَا نَضِجَتۡ جُلُودُهُم بَدَّلۡنَـٰهُمۡ جُلُودًا غَيۡرَهَا لِيَذُوقُواْ ٱلۡعَذَابَ‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمً۬ا

Artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’ [4] ayat 56).

Kelima, memikirkan kekurangan diri kita dalam beribadah.

Orang bijak selalu memikirkan apa yang salah pada dirinya, bukan apa yang salah pada orang lain.

Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu terkenal dengan nasehatnya yang sangat melegenda, “Hisablah diri sebelum kalian dihisab.”

Muhasabah yang dikenal juga dengan evaluasi diri menduduki derajat yang tinggi dalam agama Islam, karena ini merupakan amalan utama para nabi, orang saleh, para syuhada, dan orang-orang yang benar atau jujur dalam hidupnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٌ۬ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٍ۬‌ۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok [akhirat], dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr [59] ayat 18).

Dalam hal ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyeru orang-orang yang beriman agar senantiasa memelihara hubungan takwa dengan Yang Maha Pencipta dan Maha Pemelihara. Termasuk melakukan muhasabah, evaluasi, koreksi dan instropeksi diri, sejauh mana persiapan kita untuk menghadapi hari esok.

Kata “hari esok” dalam kalimat, “… dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok…”, bermakna hari akhirat.

Hidup tidaklah diakhiri hanya sebatas di dunia saja. Dunia semata-mata masa untuk menanam benih yang buahnya akan dipetik di hari akhirat.

Hasan Al-Bashri mengatakan, salah satu karakter orang yang beriman adalah bisa mengatur dirinya sendiri.

Tabi’in ini mengatakan, “Pada hari kiamat, hisab akan terasa ringan bagi orang-orang yang sudah mengevaluasi dirinya di dunia. Sebaliknya, hisab akan terasa sangat berat bagi orang-orang yang tidak mengevaluasi dirinya.” Maha Benar Allah. (RI-1/RS3)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

=====
Ingin mendapatkan update berita pilihan dan info khusus terkait dengan Palestina dan Dunia Islam setiap hari dari Minanews.net. Yuks bergabung di Grup Telegram "Official Broadcast MINA", caranya klik link https://t.me/kbminaofficial, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.