Menteri Agama Akan Sambut Kedatangan Grand Syaikh Al-Azhar Malam Ini di Halim

imam besar al-azhar onaeg
Grand Syaikh Al-Azhar Prof. Dr. Syaikh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb.(Foto: Istimewa)

Jakarta, 13 Jumadil Awwal 1437/21 Februari 2016 (MINA) – Indonesia akan menerima kunjungan Grand Syaikh Al-Azhar Prof. Dr. Syaikh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb beserta  Majelis Hukama Al-Muslimin, sebuah organisasi internasional independen, yang saat ini diketuai olehnya.

Moh. Khoeron, Kasubbid Layanan Info Publik pada Bidang Humas, Pusat Informasi dan Humas (Pinmas) Kementerian Agama RI, mengatakan, rombongan itu dijadwalkan akan tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Ahad (21/2) malam ini, dan akan disambut oleh  Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

“Insya Allah, Grand Syaikh Al-Azhar diagendakan akan tiba di Bandara Halim Perdanakusuma malam ini pukul 21.00 WIB,” kata Khoeron kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Ahad sore.

Sementara Menurut keterangan pers Kemenag yang dikutip MINA, Pelaksana Tugas Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMA) yang juga Sekjen Ikatan Alumni Al-Azhar Indonesia (IAAI), Muchlis M Hanafi mengatakan, kunjungan tersebut sangat penting dalam rangka mempererat hubungan antara kedua negara, terutama di bidang pendidikan, kebudayaan, dan dakwah keagamaan.

“Mesir adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia,” terang Muchlis.

Kunjungan Grand Syaikh Al-Azhar ini juga penting dalam mempererat hubungan antara masyarakat Muslim Indonesia dengan Al-Azhar.

Menurut Muchlis, dalam konstitusi Mesir, Al-Azhar merupakan lembaga keislaman yang bersifat independen dan memiliki kewenangan melaksanakan seluruh kegiatan keislaman. Al-Azhar merupakan rujukan utama dalam ilmu keagamaan dan urusan keislaman yang bertanggung jawab melaksanakan dakwah serta menyebarkan ilmu keagamaan dan Bahasa Arab di Mesir dan dunia internasional.

“Syaikh Al-Azhar bersifat independen, tidak bisa dijatuhkan dan pemilihannya dilakukan oleh Dewan Ulama Besar yang diatur undang-undang,” jelasnya.

Muchlis mencatat bahwa sejak abad ke-19 (1850-an), sudah ada mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di perguruan tinggi yang didirikan oleh Dinasti Fatimiyah pada 969 M ini. “Saat ini, sekitar 4.000-an mahasiswa Indonesia sedang belajar di sana dengan beasiswa Al-Azhar,” tuturnya.

Signifikansi lainnya dari kunjungan ini, lanjut Muchlis, adalah karena Al-Azhar merupakan pilar penting dalam menyebarkan pemahaman Islam moderat. Peran Al-Azhar bagi penyebaran Islam yang moderat di Indonesia perlu didorong dan diperkuat.

Kunjungan Ahmad Ath-Thayyeb selaku Grand Syaikh Al-Azhar kali ini adalah yang pertama ke Asia Tenggara. Dari Indonesia, Grand Syaikh akan menyampaikan pesan-pesan dan seruan  perdamaian dan kemanusiaan  untuk dunia.

Profil Syaikh Ahmad Ath-Thayyeb

Prof. Dr. Syaikh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb Al-Asy’ari, Al-Maliki, Al-Khalwati. Al-Asy’ari adalah mazhab akidahnya, Maliki mazhab fikihnya, dan Khalwati tarekat Sufi tempatnya bernaung.  Beliau lahir di Qena, Mesir, pada tahun 1946. Silsilah nasabnya sampai kepada Hasan bin Ali bin Abu Thalib.

Jabatan yang diemban saat ini adalah al-Imam al-Akbar (Imam Terbesar) Syaikh Al-Azhar (dalam bahasa selain Arab biasa disebut Grand Syaikh); pimpinan tertinggi institusi Al-Azhar, Mesir sejak 2010, menggantikan Almarhum Prof. Dr. Muhammad Sayyid Thanthawi.

Jabatan ini penetapannya berdasarkan keputusan presiden, dengan masa jabatan seumur hidup. Menurut aturan protokol, jabatan ini setara perdana menteri. Sejak 2014, beliau juga dipercaya memimpin Majelis Hukama’ al-Muslimin, sebuah organisasi internasional independen yang menghimpun para tokoh ulama lintas negara, berhaluan moderat, dan bertujuan mengukuhkan perdamaian di dunia Islam.

Sebelum menjadi Syaikh Al-Azhar, Syaikh ath-Thayyeb menjabat sebagai: Rektor Universitas Al-Azhar (2003 – 2010), Mufti Negara (2002 – 2003), Anggota Lembaga Riset Al-Azhar, Majma’ al-Buhuts al-Islamiyah, dan  Anggota Dewan Tertinggi Tarekat Sufi. Beliau juga tercatat sebagai Dekan Fakultas Studi Islam di Aswan dan Fakultas Teologi Universitas Islam Internasional di Pakistan, serta mengajar di universitas-universitas di Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab.(L/R05/R02)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)