SEPAK BOLA Maroko tidak sekadar bangkit. Ia meledak. Dalam kurun waktu singkat, sepak bola Tim berjuluk ‘Singa Atlas’ yang menunjukkan kekuatan dan keberanian bak Singa Barbary di Pegunungan Atlas, telah mengalami transformasi yang nyaris mustahil.
Dari tim yang hanya menjadi pelengkap di pentas Afrika, kini menjadi kekuatan yang diperhitungkan di level dunia.
Puncaknya? Posisi keempat di Piala Dunia Qatar 2022, peringkat ke-12 FIFA, lolos ke empat Piala Dunia berturut-turut, juara Piala Dunia U-20 di Chili, dan juara Piala Afrika untuk pemain lokal. Dan kini menatap ke semifinal menghadapi tim unggulan bertabur bintang, Ayam Jantan Prancis. Sebut saja bintang itu, ada Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, Michael Olise, N’Golo Kante, Ibrahima Konate, dan lainnya.
Prestasi Maroko, tentu saja semua itu bukan kebetulan. Ini adalah hasil dari sebuah revolusi terstruktur yang dimulai dari jalanan, merambat ke akademi, lalu mengalir deras ke tim nasional.
Baca Juga: Pakhtakor vs Al-Nassr: 2-6, Tuan Rumah Dibantai
The New Arab mengupas tuntas rahasia kesuksesan Maroko bersama Pablo Franco, konsultan Real Madrid dan pelatih Morocco FC, yang menyebut fenomena ini sebagai “revolusi nyata”.
Akademi Mohammed VI: Pabrik Bintang ala Qatar
Perbedaan paling mendasar antara Maroko dan Eropa, menurut Franco, terletak pada pendekatan akademi. Akademi Mohammed VI di Maroko didesain seperti Akademi Aspire di Qatar: memilih bakat lokal terbaik sejak usia dini, lalu memberlakukan program latihan intensif penuh waktu.
“Di Eropa, anak-anak berlatih sore hari setelah sekolah dan bertanding akhir pekan. Di akademi ini, mereka berspesialisasi sejak kecil. Jam latihan lebih panjang, program lebih berat, dan hasilnya terlihat,” ujar Franco.
Baca Juga: Pakhtakor vs Al-Nassr: 1-3 pada Babak Pertama, Joao Felix Brace
Ia memberi contoh nyata: tim U-21 Maroko yang diisi pemain berusia 15-16 tahun mampu mengungguli tim cadangan Morocco FC yang rata-rata berusia 20-21 tahun.
Kemenangan di Piala Dunia U-20 dan lolos ke delapan besar Piala Dunia U-17 bukan lagi kejutan, melainkan konsekuensi logis dari sistem yang berjalan.
Jalanan: Sekolah Terbaik yang Dilupakan Eropa
Jika akademi adalah laboratorium, maka jalanan adalah ladang pencarian bakat. Franco menyoroti satu elemen yang nyaris hilang di Eropa: sepak bola jalanan.
Baca Juga: Megawati Hangestri Tanding Selasa Besok, GS Caltex dan Pink Spider Menang di Laga Pertama
“Di Maroko, anak-anak bermain bola di jalan seperti di Argentina. Mereka bermain tanpa aturan, tanpa pelatih, tanpa wasit. Mereka berhenti saat mobil lewat, lalu melanjutkan lagi. Kreativitas lahir dari kebebasan. Itulah yang membentuk pemain teknis, improvisatif, dan penuh kejutan,” ujarnya.
Kebebasan ini, ditambah dengan budaya keluarga yang sangat kuat, menciptakan ikatan emosional yang dalam antara pemain, keluarga, dan negara. Setiap kali tim nasional bermain, seluruh negeri menahan napas. Kemenangan dirayakan dengan bendera di setiap sudut.
Diaspora: Panggilan Darah yang Tak Terbendung
Maroko juga sukses menarik pemain diaspora. Nama-nama seperti Hakim Ziyech, Achraf Hakimi, Noussair Mazraoui, dan Brahim Díaz adalah contoh nyata bagaimana ikatan akar tetap kuat meski lahir dan besar di Eropa.
Baca Juga: Liverpool vs Arsenal: The Gunners Menang Bersejarah di Anfield dan Kokoh di Puncak
“Mereka lahir di Eropa, tetapi orang tua dan kakek-nenek mereka menjaga hubungan dengan Maroko. Rasa memiliki ini diturunkan dari generasi ke generasi,” jelas Franco.
Menariknya, kasus Lamine Yamal, pemain keturunan Maroko yang memilih Spanyol, tidak menimbulkan permusuhan. Justru, Franco bercanda, “Lamine bermain melawan Spanyol justru membawa keberuntungan bagi kami.”
Berikut setidaknya ada 10 pemain Maroko yang merumput di liga top Eropa:
- Achraf Hakimi. Bek Kanan, Paris Saint-Germain (PSG) Prancis. Hakimi adalah kapten tim dan pemain kunci. Kecepatan serta kemampuannya menyerang dari sisi sayap menjadikannya salah satu bek terbaik dunia.
- Brahim Díaz. Gelandang Serang, Real Madrid, Spanyol. Pemain dengan skill tinggi dan kemampuan dribel yang menjadi tumpuan lini depan Maroko.
- Noussair Mazraoui. Bek Kanan, Sayap Manchester United, Inggris.
- Sofyan Amrabat. Gelandang Bertahan, Real Betis, Spanyol.
- Nayef Aguerd. Bek Tengah. Olympique de Marseille, Prancis.
- Neil El Aynaoui. Gelandang, AS Roma, Italia.
- Azzedine Ounahi. Gelandang. Girona FC, Spanyol.
- Ayyoub Bouaddi. Gelandang, Lille, Prancis.
- Ismael Saibari. Gelandang/Sayap. PSV Eindhoven, Belanda.
- Bilal El Khannouss. Gelandang, VfB Stuttgart, Jerman.
Liga Maroko: Inkubator Profesional
Baca Juga: Liverpool vs Arsenal: Tim Tamu Unggul Lebih Dulu
Setelah bakat ditemukan dan diasah di akademi, mereka harus bermain di liga profesional. Liga Maroko, menurut Franco, kini setara dengan divisi kedua liga Eropa seperti Belgia, Belanda, atau Portugal.
“Tim level menengah di Spanyol mungkin bisa mengalahkan kami, tetapi pertandingan akan sangat ketat. Level kompetisi di sini meningkat pesat,” katanya.
Klub seperti Morocco Fassi, yang saat ini duduk di peringkat ketiga klasemen dan bersaing dengan raksasa seperti Wydad Casablanca dan Raja Casablanca, adalah bukti nyata pertumbuhan liga. Kehadiran pencetak gol terbanyak liga, Sofiane Ben Jadida, menjadi simbol kebangkitan.
Piala Dunia 2030: Target Realistis
Baca Juga: PSIM vs Borneo FC: Gol Spektakuler Savio Sheva Beri Kemenangan Pertama Laskar Mataram
Dalam lima tahun, Maroko akan menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2030 bersama Spanyol dan Portugal. Franco optimis, tetapi realistis.
“Memenangkan Piala Dunia itu sulit, tetapi pada 2030, kondisinya akan mendukung untuk tampil baik,” lanjutnya.
Ia menambahkan, pemain Maroko memiliki semangat juang tinggi dan keterampilan teknis mumpuni.
Di Piala Dunia 2022, mereka mengutamakan daya saing karena menghadapi tim unggulan. Di Piala Afrika, mereka lebih menguasai bola, lebih mendekati gaya Eropa.
Baca Juga: PSIM vs Borneo FC: Laskar Mataram Dijebol Duluan
Jalanan, Akademi, Tim Nasional: Satu Ekosistem
Kesimpulan Franco menggambarkan ekosistem sepak bola Maroko.
Jalanan memberi makan klub, pusat pelatihan, dan tim nasional. Sepak bola lahir di tingkat akar rumput, di mana anak-anak bermain tanpa aturan, gairah mendahului latihan, dan jalanan tetap menjadi sekolah terbaik.
Maroko tidak menemukan sesuatu yang baru. Mereka hanya mengingatkan dunia, bahwa sepak bola dimulai dari bawah, dari kebebasan, dari jalanan.
Baca Juga: Pink Spiders Raih Kemenangan Pertama di V-League Korea Usai Bungkam SOOPers 3-0
Dengan para pemain yang banyak berkarier di liga elit Eropa, Maroko menunjukkan bahwa mereka bukan lagi sekadar tim kejutan. Mereka adalah salah satu kandidat kuat untuk menjadi juara, dan di Piala Dunia 2026, mereka membawa misi untuk mencetak sejarah baru bagi sepak bola Afrika.
Dan dari sanalah, Timnas Maroko kini bersiap menaklukkan dunia. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Al-Hilal Kudeta Puncak Klasemen Saudi Pro League, Al-Qadisiyah dan Al-Nassr Turun Tangga
















Mina Indonesia
Mina Arabic