SUATU ketika Nabi Muhammad SAW menyampaikan pesan yang sangat dalam tentang jalan keselamatan umat. Pesan ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan tercatat dalam Sahih Muslim. Dalam hadis itu dijelaskan bahwa Allah meridhai tiga perkara dan membenci tiga perkara. Berikut teks hadisnya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda,
إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا
فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا، وَأَنْ تُنَاصِحُوا مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ أَمْرَكُمْ
وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ
Artinya, “Sesungguhnya Allah meridhai bagi kalian tiga perkara dan membenci bagi kalian tiga perkara. Allah meridhai bagi kalian: 1. Kalian menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. 2. Kalian berpegang teguh kepada tali Allah secara bersama-sama dan tidak berpecah belah. 3. Kalian menasihati orang yang Allah jadikan pemimpin atas urusan kalian. Dan Allah membenci bagi kalian: 1. Perkataan sia-sia (banyak berkata: katanya begini, katanya begitu). 2. Terlalu banyak bertanya yang tidak bermanfaat. 3. Menyia-nyiakan harta. (HR. Muslim dalam kitab Sahih Muslim (no. 1715), Malik dalam Al-Muwatta, Ahmad ibn Hanbal dalam Musnad Ahmad)
Karena diriwayatkan dalam Sahih Muslim, maka para ulama sepakat bahwa hadis ini berstatus shahih.
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
Hadis ini bukan sekadar nasihat biasa, tetapi seperti peta yang menunjukkan arah kehidupan seorang mukmin. Ia mengajarkan bagaimana seorang hamba bisa hidup dalam keridhaan Allah. Setiap kalimatnya mengandung petunjuk yang menenangkan hati sekaligus menggugah jiwa.
Perkara pertama yang Allah ridhai adalah menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya. Tauhid adalah cahaya yang menerangi seluruh kehidupan seorang mukmin. Ketika hati hanya bergantung kepada Allah, maka hidup menjadi lebih tenang dan penuh makna.
Orang yang menjaga tauhid akan merasakan kebebasan yang sejati. Ia tidak lagi diperbudak oleh dunia, jabatan, atau pujian manusia. Hatinyalah yang selalu kembali kepada Allah dalam setiap keadaan.
Perkara kedua yang Allah ridhai adalah berpegang teguh kepada tali Allah secara bersama-sama dan tidak berpecah belah. Islam tidak mengajarkan umatnya berjalan sendiri-sendiri dalam kebaikan. Allah menginginkan hamba-Nya saling menguatkan dalam satu barisan yang kokoh.
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Persatuan dalam Jama’ah adalah kekuatan besar bagi umat. Ketika hati bersatu, perbedaan kecil tidak lagi menjadi sumber pertengkaran. Sebaliknya, ia menjadi warna yang memperindah ukhuwah di antara kaum beriman.
Banyak kerusakan umat justru lahir dari perpecahan. Ketika manusia lebih mengikuti hawa nafsu daripada kebenaran, persaudaraan menjadi rapuh. Padahal Allah menurunkan rahmat-Nya kepada hati-hati yang bersatu.
Perkara ketiga yang Allah ridhai adalah menasihati pemimpin yang Allah amanahkan memimpin urusan umat. Nasihat yang tulus adalah tanda cinta kepada agama dan kepada sesama. Dengan nasihat yang baik, kepemimpinan akan tetap berada di jalan yang benar.
Umat yang saling menasihati akan selalu hidup dalam kebaikan. Kesalahan tidak dibiarkan tumbuh menjadi kerusakan besar. Setiap orang merasa bertanggung jawab menjaga kebaikan bersama.
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
Sebaliknya, Allah membenci perkataan sia-sia yang hanya menyebarkan kabar tanpa manfaat. Lisan yang tidak dijaga sering kali melukai hati orang lain. Dari kata-kata yang ringan, kadang lahir permusuhan yang panjang.
Allah juga membenci terlalu banyak pertanyaan yang tidak bermanfaat. Pertanyaan yang lahir dari rasa ingin membantah atau memperdebatkan kebenaran hanya akan mengeraskan hati. Ilmu yang sejati seharusnya membawa manusia kepada kerendahan hati.
Selain itu, Allah membenci menyia-nyiakan harta. Harta adalah amanah yang harus digunakan untuk kebaikan dan kemaslahatan. Ketika manusia menyia-nyiakannya, ia sebenarnya sedang menyia-nyiakan kesempatan berbuat amal.
Hadis ini mengajarkan bahwa keridhaan Allah bukan hanya pada ibadah pribadi, tetapi juga pada persatuan hati umat. Tauhid menguatkan iman, Jama’ah menguatkan langkah, dan nasihat menjaga arah perjalanan. Jika tiga hal ini dijaga, maka umat akan berjalan bersama menuju ridha Allah dengan hati yang penuh harapan dan ketenangan.[]
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic