Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sesama Muslim Bersaudara: Merawat Ukhuwah, Membela yang Tertindas

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Sabtu, 31 Oktober 2026 - 04:01 WIB

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 04:01 WIB

13 Views ㅤ

Ilustrasi: Bersaudara karena Allah. (Foto by AI)

ADA ikatan yang lebih kuat daripada hubungan darah. Ada persaudaraan yang melampaui batas suku, bangsa, warna kulit, bahasa, dan jarak geografis. Itulah persaudaraan yang dipersatukan oleh iman kepada Allah.

Kita mungkin tidak pernah berjabat tangan dengan saudara kita di Palestina. Kita mungkin tidak mengetahui nama-nama mereka satu per satu. Kita tidak pernah duduk semeja, tidak pernah berjalan bersama, bahkan tidak pernah berjumpa muka.

Namun, ketika mereka bersyahadat sebagaimana kita bersyahadat, ketika mereka menghadap kiblat yang sama, dan ketika mereka bersujud kepada Allah sebagaimana kita bersujud kepada-Nya, sesungguhnya ada ikatan suci yang menyatukan kita.

Jarak boleh memisahkan tubuh, tetapi iman tidak membiarkan hati saling berjauhan.

Baca Juga: Bersyukur Tak Bertapi, Bersabar Tak Bertepi

Kita berada di Indonesia. Mereka berada di Palestina. Kita menapaki jalan yang relatif aman, sedangkan mereka harus menghadapi ancaman serangan, kehilangan keluarga dan tempat tinggal, keterbatasan pangan, dan ketidakpastian hari esok.

Kita mungkin tidur dengan tenang, sementara seorang ibu di Gaza memeluk anaknya di tengah kecemasan. Kita mungkin menikmati hidangan yang tersedia, sementara keluarga lain harus berjuang mendapatkan makanan dan air bersih.

Lalu, pantaskah kita menyebut diri sebagai saudara jika penderitaan mereka tidak pernah mengetuk pintu hati kita?

Pantaskah kita mengaku beriman, tetapi membiarkan kepedulian mati perlahan-lahan?

Baca Juga: Membaca Ulang Resolusi Jihad dan Makna Hari Santri Nasional

Dan pantaskah kita berbicara tentang ukhuwah, jika persaudaraan kehilangan makna ketika harus diwujudkan dalam tindakan?

Allah mengngatkan kita dalam firman-Nya:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10).

Baca Juga: Alhamdulillah di Ufuk Pagi: Mensyukuri Terbukanya Mata

Allah tidak mengatakan bahwa orang-orang mukmin sekadar saling mengenal. Allah tidak mengatakan bahwa mereka hanya hidup berdampingan. Allah menegaskan bahwa mereka adalah ikhwah, saudara.

Persaudaraan bukan sekadar sapaan. Persaudaraan adalah ikatan hati yang melahirkan tanggung jawab.

Persaudaraan bukan sekadar kesamaan identitas. Persaudaraan adalah kesediaan untuk peduli, untuk membantu, untuk mendamaikan, dan untuk menjaga kehormatan satu sama lain.

Karena itu, ketika seorang Muslim mengalami kesulitan, saudara-saudaranya sepatutnya untuk meringankan bebannya.

Baca Juga: Pentingnya Tabayun dan Relevansinya di Era Digital

Ketika seorang Muslim ditimpa musibah, saudara-saudaranya selayaknya membantu penderitaannya.

Ketika seorang Muslim dizalimi, saudara-saudaranya hendaknya membebaskannya.

Ayat ini juga memerintahkan kita untuk mendamaikan saudara-saudara yang berselisih. Artinya, ukhuwah Islamiyah bukan hanya tentang membela saudara ketika ia menghadapi pihak lain, melainkan juga tentang memperbaiki hubungan ketika sesama Muslim bertikai.

Kita harus menjadi perekat, bukan pemecah belah. Menjadi penyejuk, bukan penyulut permusuhan. Menjadi jembatan yang mempertemukan, bukan tembok yang memisahkan.

Baca Juga: Ketika Kemarau Panjang Melanda: Saatnya Mengetuk Pintu Langit dengan Shalat Istisqa

Sebab, persaudaraan yang sejati bukan persaudaraan yang tidak pernah menghadapi masalah, melainkan persaudaraan yang selalu mencari jalan untuk memperbaiki keadaan.

Lebih dari itu, Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk mengakui persaudaraan. Allah juga menunjukkan jalan untuk menjaga dan memperkuatnya.

Allah berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Baca Juga: Rizky Ridho Selebrasi dengan Sujud Syukur, Ini Maknanya dalam Islam

“dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali Allah seraya berjama’ah, dan janganlah bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara….” (QS. Ali ‘Imran: 103).

Ayat ini mengingatkan kita bahwa persatuan adalah nikmat Allah yang harus dirawat, sedangkan perpecahan adalah bahaya yang harus dihindari.

Kita boleh berbeda bahasa, tetapi jangan berbeda dalam menjaga kehormatan sesama Muslim.

Kita boleh berbeda suku, tetapi jangan berbeda dalam kepedulian terhadap orang yang tertindas.

Baca Juga: 2 Oktober 1187: Ketika Panglima Shalahuddin Membebaskan Masjid Al-Aqsa

Kita boleh berbeda pilihan pekerjaan dan latar belakang, tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita kehilangan rasa kemanusiaan.

Jangan sampai kita begitu bersemangat memperdebatkan perbedaan kecil, tetapi kehilangan semangat ketika melihat penderitaan saudara sendiri.

Jangan sampai tenaga kita habis untuk saling menyalahkan, sementara orang-orang yang membutuhkan pertolongan justru menunggu uluran tangan.

Ukhuwah tidak tumbuh dari keseragaman, tetapi dari kesediaan untuk tetap bersatu di atas kebenaran, sekalipun kita tidak selalu sama dalam berbagai hal.

Baca Juga: Seruan untuk Menjaga Planet dan Taubat Global Untuk Lingkungan Hidup

Persatuan umat bukan berarti kita harus membenarkan semua pendapat. Bukan pula berarti kita menutup mata terhadap perbedaan. Persatuan berarti kita menyikapi perbedaan dengan ilmu, adab, dan keadilan, tanpa merusak ikatan persaudaraan.

Kita harus belajar membedakan antara perbedaan yang memperkaya pemikiran dan perpecahan yang menghancurkan kekuatan.

Sebab, umat yang tercerai-berai akan mudah dilemahkan, sedangkan umat yang bersatu dalam kebaikan akan lebih mampu menghadirkan manfaat bagi kehidupan. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Doa Menyambut Turunnya Hujan yang Membasahi Bumi

Rekomendasi untuk Anda