Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur
Khutbah Jumat pada kesempatan kali ini berjudul: Merajut Ishlah Mewujudkan Ukhuwah Islamiyah.
Hari ini, kita menyaksikan krisis melanda Timur Tengah. Saudara-saudara kita telah bertahun-tahun terjebak dalam perang yang melelahkan.
Hal yang memilukan adalah, peperangan terjadi di antara sesama umat Islam, penganut nabi, kitab dan kiblat yang sama.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Menolong Agama Allah
Maka di sinilah peran kita, terutama para ulama, pemimpin umat, dan segenap tokoh untuk dapat merajut ishlah dan mewujudkan ukhuwah dan perdamaian.
Khutbah selengkapnya silakan simak berikut ini:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Khutbah ke-1:
Baca Juga: Khutbah Jumat: Rizki Terbaik Berkah di Dunia, Bekal di Akhirat
إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، اللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَة، مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الإِخْوَة أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Segala puji hanyalah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala atas semua nikmat dan karunia-Nya yang dilimpahkan kepada kita semua.
Di antara nikmat utama yang diberikan kepada manusia adalah nikmat bersaudara, hidup rukun, damai, aman dan bahagia.
Atas limpahan nikmat-nikmat tersebut, maka marilah kita mensyukurinya dengan terus memelihara dan meningkatkan iman dan takwa. Takwa secara umum yaitu dengan menjalankan ibadah, ikhlas hanya kepada-Nya, serta menjauhi segala larangan-larangan-Nya.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Menjaga Komitmen Baiat dan Perjanjian
Kiranya, kita semua mampu menjaga dan melestarikan nikmat persaudaraan antar sesama umat, menciptakan keharmonisan di tengah-tengah masyarakat, merajut ukhuwah Islamiyah, mewujudkan perdamaian, menegakkan keadilan dan menghapus penjajahan di atas dunia.
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Pada kesempatan khutbah Jumat ini, marilah kita merenungkan firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat [49] ayat ke-9:
وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱقْتَتَلُوا۟ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنۢ بَغَتْ إِحْدَىٰهُمَا عَلَى ٱلْأُخْرَىٰ فَقَٰتِلُوا۟ ٱلَّتِى تَبْغِى حَتَّىٰ تَفِىٓءَ إِلَىٰٓ أَمْرِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن فَآءَتْ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَهُمَا بِٱلْعَدْلِ وَأَقْسِطُوٓا۟ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ (الحجرات [٤٩]: ٩)
Baca Juga: Khutbah Jumat: Risalah Kemanusiaan dari Bumi Palestina
“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang, hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”
Pakar tafsir Al-Qur’an Imam At-Thabari Rahimahullah menjelaskan, bahwa perintah فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَهُمَا ۖ (damaikan antara keduanya) adalah kewajiban kifayah atas seluruh kaum mukminin. Jika terjadi pertikaian dan peperangan, umat tidak boleh menjadi penonton. Harus ada yang tampil menjadi juru damai.
Cara yang bisa dilakukan untuk mendamaikan diantaranya adalah memberi nasihat kepada pihak-pihak yang berselisih dan menegakkan keadilan bagi semua pihak.
Nasihat tentang prinsip-prinsip keimanan dan kemanusiaan, sangat diperlukan bagi mereka yang berselisih, bahwa sesama umat Islam itu bersaudara dalam akidah. Sesama umat manusia bersaudara dalam kemanusiaan.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Kehidupan Dunia Tempat Menanam Kebaikan
Allah Ta’ala akan menurunkan rahmat bagi masyarakat yang membangun persaudaraan dan perdamaian. Sebaliknya perselisihan dan peperangan yang berlarut-larut akan semakin memakan korban dan merusak citra umat Islam sendiri.
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Ayat ini menunjukkan, bahwa meskipun terjadi pertumpahan darah (pembunuhan), status keimanan mereka tidak dicabut. Allah Ta’ala tetap memanggil mereka dengan kalimat مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ (dari mereka yang beriman).
Hal itu merupakan isyarat bahwa pintu ishlah selalu terbuka, karena ikatan iman jauh lebih kuat dari kebencian sesaat.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Islam Menjaga Perdamaian
Mendamaikan bukan berarti membenarkan yang salah atau menyalahkan yang benar demi harmoni semu. Ishlah harus berpijak pada Kitabullah dan Sunnah, menempatkan pihak yang salah dan benar di tempatnya masing-masing.
Ayat ini adalah dustur sosial Islam. Islam sangat realistis. Perselisihan antar kelompok pasti terjadi. Maka Allah Ta’ala tidak memerintahkan agar konflik diingkari, melainkan dikelola dengan mekanisme ishlah yang berkeadilan.
Inilah cara penyelesaian masalah yang sangat beradab, yang hari ini sering dilupakan oleh sebagian kaum Muslimin.
Islam memberi perhatian serius akan pentingnya membangun tatanan kehidupan bermasyarakat berlandaskan asas-asas persaudaraan, keadilan, mewujudkan keharmonisan dan perdamaian di tengah-tengah umat.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Mentadaburi Surat Al-Isra dalam Pembebasan Al-Aqsa
Islam juga mendorong pemeluknya untuk menebar manfaat, mendamaikan pihak-pihak yang berselisih, serta memberi nasihat kepada mereka, dengan nasihat yang menyejukkan, memberi solusi dalam setiap permasalahan.
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Lalu apa makna ishlah? Secara bahasa, ash-shulh adalah memperbaiki sesuatu yang rusak, meretakkan yang bengkok menjadi lurus. Lawan katanya adalah al-fasad, yakni merusak sesuatu yang sudah baik.
Adapun secara istilah, Ishlah adalah upaya mengembalikan hubungan antara dua orang/kelompok yang retak menjadi utuh kembali. Ishlah adalah tindakan aktif, proaktif, dan penuh keberanian untuk menjadi penengah, juru damai dan menenangkan suasana.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Melestarikan Alam Menyelamatkan Kehidupan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memberi nasihat yang luar biasa melalui sabdanya:
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: إِصْلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ، فَإِنَّ فَسَادَ ذَاتِ الْبَيْنِ هِيَ الْحَالِقَةُ (رواه ابوداود والترمذى)
“Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih utama daripada derajat puasa, shalat, dan sedekah?” Para sahabat berkata: “Tentu, ya Rasulullah.” Beliau bersabda: “Yaitu mendamaikan orang yang berselisih. Sesungguhnya rusaknya hubungan persaudaraan adalah pencukur (pemusnah agama).” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Dalam hadits di atas. Rasulullah ﷺ menempatkan derajat orang yang melakukan ishlah lebih tinggi dari ibadah-ibadah mahdhah. Mengapa? Karena shalat dan puasa manfaatnya untuk diri sendiri, sementara ishlah manfaatnya untuk keselamatan umat seluruhnya.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Jangan Pernah Berhenti Menyuarakan Al-Aqsa
Hadits tersebut sejatinya adalah sebuah koreksi bagi diri kita masing-masing, bahwa puncak kesalehan seorang mukmin adalah ketika ia mampu memberi manfaat kepada orang lain, memperbaiki akhlak masyarakat, mendamaikan pihak-pihak yang berselisih, membangun ukhuwah Islamiyah dan mewujudkan perdamaian.
Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah
Hari ini, kita menyaksikan krisis melanda Timur Tengah. Saudara-saudara kita telah bertahun-tahun terjebak dalam perang yang melelahkan.
Hal yang memilukan adalah, peperangan terjadi di antara sesama umat Islam, penganut nabi, kitab dan kiblat yang sama.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Sabar Dalam Menghadapi Musibah
Maka di sinilah peran kita, terutama para ulama, pemimpin umat, dan segenap tokoh untuk dapat merajut ishlah dan mewujudkan ukhuwah dan perdamaian.
Ada beberapa hal yang perlu dilakukan, antara lain:
Pertama: menegakkan keadilan. Pondasi pertama dari bangunan ukhuwah adalah keadilan. Karena hati manusia hanya akan mau berdamai jika ia merasa diperlakukan dengan adil.
Keadilan ibarat jangkar yang membuat kapal perdamaian tidak terombang-ambing oleh badai kecurigaan. Ketika keadilan ditegakkan, maka setiap pihak akan merasa dihargai hak-haknya, didengar suaranya, dan dilindungi kehormatannya.
Kedua: menghidupkan tasamuh (lapang Dada). Setelah keadilan tegak, kita perlu melapangkan hati masing-masing pihak.
Tasamuh mengajarkan kita untuk melihat saudara kita dengan pandangan kasih sayang, bukan dengan kecurigaan. Kita belajar untuk menghargai khazanah pemikiran setiap orang, dan menjadikannya sebagai sebuah rahmat.
Tasamuh inilah yang membuat ukhuwah menjadi indah, karena kita fokus pada persamaan yang menyatukan, bukan pada perbedaan dan memecah-belah persatuan.
Ketiga: membudayakan tabayyun (klarifikasi). Di era banjir informasi dan media sosial hari ini, tabayyun adalah filter yang menjaga persaudaraan kita tetap terjalin.
Salah satu dari keindahan ajaran Islam adalah mengajak kita untuk mengedepankan prasangka baik dan mengecek kebenarannya terlebih dahulu.
Dengan tabayyun, kita telah memilih menjadi penjernih keadaan, bukan memperkeruh suasana. Kita memilih untuk menjaga kehormatan saudara kita, sebagaimana kita ingin kehormatan kita dijaga.
Sesungguhnya, satu tabayyun yang tulus lebih mampu merekatkan ukhuwah daripada seribu klarifikasi yang dipenuhi prasangka.
Keempat: membangun ta’awun (saling tolong menolong). Ukhuwah hendaknya dibangun dengan saling menolong dan membantu. Persaudaraan harus diimplementasikan menjadi kerja nyata, uluran tangan yang penuh ikhlas, dan nasihat dari hati yang tulus
Ketika kita mampu merajut ishlah, maka di saat itulah benih-benih ukhuwah Islamiyah akan tumbuh subur dan perdamaian akan terwujud. Aamiin ya Rabbal alamiin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَٰذَا وَأَسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ . اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمِ.
Khutbah ke-2
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ اَمَرَنَا بِلُزُوْمِ اْلجَمَاعَةِ، وَنَهَانَا عَنِ اْلاِخْتِلَافِ وَالتَفَرُّقَةِ، وَاْلصَّلَاةُ وَالسَّلآ مُ عَلٰى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَا بِهِ هُدَاةِ اْلاُمَّةِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ، وَثَلَّثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ. فَقَالَ اللهُ تَعاَلَى أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم ،إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ احْيِى الْمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ بِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ اَيْ حِزْبِ اللّٰهِ حَيَاةً كَامِلَةً طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَمُنْكَرٍ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ . اللّٰهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَآ المُجَا هِدِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ- وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic