DALAM peperangan modern, terdapat perbedaan mendasar antara kemenangan taktis dan kemenangan strategis. Kemenangan taktis diukur dari kerusakan langsung di medan tempur, seperti jumlah target yang hancur atau wilayah yang dikuasai.
Sementara, kemenangan strategis berkaitan dengan pencapaian tujuan politik jangka panjang, seperti kelangsungan hidup rezim, perubahan opini publik, atau kelelahan lawan .
Serangan terkini Amerika Serikat dan Israel terhadap negara berdaulat Iran, menghadirkan studi kasus untuk membedah kedua konsep ini.
Secara taktis, AS dan Israel mungkin saja dengan segala kecsanggihan rudal dan pesawat hingga kapal induknya, terlihat unggul dengan gempuran bom masif. Namun, secara strategis, Iran justru menunjukkan tanda-tanda keunggulan yang tidak bisa diabaikan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa mesin perang AS-Israel memiliki kapabilitas taktis yang luar biasa. Dalam serangan awal yang diluncurkan pada 28 Februari 2026, mereka berhasil melancarkan serangan pembunuhan petinggi (decapitation strike) Iran yang menewaskan pemimpin tertinggi Ayatolah Ali Khamenei, beserta sejumlah jenderal tinggi lainnya.
Lebih dari 7.500 bom dijatuhkan dalam sepekan, menghancurkan fasilitas produksi rudal di Parchin dan Shahrud, serta pangkalan udara di Isfahan dan Teheran.
Target-target militer yang presisi ini menunjukkan superioritas teknologi dan intelijen lawan. Gedung Putih di bawah Presiden Trump bahkan sempat membayangkan skenario Venezuela akan terulang di Iran, sebuah operasi kilat yang selesai dalam dua jam untuk menggulingkan rezim.
Operasi penangkapan Nicolás Maduro di Venezuela pada Januari 2026 lalu menjadi standar baru bagi AS dalam hal operasi cepat dan menentukan (decisive).
Baca Juga: Polisi, Sekejam Itukah?
Namun, harapan AS untuk perubahan rezim (regime change) instan itu pupus. Meskipun Khamenei tewas, rakyat Iran justru tidak memberikan apa yang diinginkan Trump. Alih-alih demo besar-besaran menggulingkan pemerintahan, yang terjadi adalah pemandangan kontradiktif namun signifikan, yakni sebagian warga justru turun ke jalan untuk berduka. Tidak ada kekacauan sipil yang melumpuhkan pemerintahan, seoerti diinginkan Trump.
Situasi ini membantah asumsi intelijen Barat bahwa rezim Teheran sudah di ambang kehancuran akibat ketidakpuasan domestik. Justru, serangan asing sering kali memicu efek penyatuan di bawah satu bendera (rally around the flag). Pemerintah Iran dengan cepat mengaktifkan Dewan Kepemimpinan Sementara (Majlis al-Qiyadah al-Mu’aqqat). Di sinilah kemenangan strategis Iran mulai terbentuk.
Ketahanan infrastruktur komando dan kontrol Iran juga patut diacungi jempol. Meskipun komando pusat terpenggal, doktrin militer Iran yang terdesentralisasi memungkinkan komandan lokal untuk tetap melancarkan serangan dengan daftar target yang telah diotorisasi sebelumnya. Ini menjelaskan mengapa Iran masih mampu meluncurkan rudal-rudal dalam gelombang ke-22 hingga ke-26, bahkan setelah sepekan dibombardir.
Lebih jauh, perang ekonomi dan psikologis berhasil dimenangkan Iran. Rudal-rudal Iran, termasuk jenis baru Khorramshahr-4 dan Fattah hipersonik, mampu menembus pertahanan udara Israel dan menghantam kota-kota seperti Tel Aviv dan Haifa.
Baca Juga: Memaknai Bulan Solidaritas Palestina: Ketika November Menjadi Pengingat Kemanusiaan
Yang lebih menyakitkan bagi AS adalah laporan bahwa 14 pangkalan militer AS di negara-negara Arab seperti Qatar, Bahrain, Kuwait, dan UEA turut menjadi sasaran dan diklaim rusak parah. Ini adalah pesan strategis yang gamblang, sekutu AS di kawasan tidak aman selama mereka menjadi tuan rumah bagi pasukan AS.
Dampak Regional
Serangan balasan Iran ke negara-negara Teluk tempat pangkalan militer AS, sebenarnya adalah taruhan berisiko tinggi (gambler’s risk). Namun Iran punya tujuan tersendiri, yaitu membuat negara-negara Arab menekan AS untuk menghentikan perang karena infrastruktur mereka ikut terbakar. Jika Iran berhasil memaksa negara-negara ini untuk memilih antara keamanan nasional mereka atau aliansi dengan AS, maka secara strategis Iran telah memecah koalisi lawan.
Sejauh ini, meskipun Dewan Kerjasama Teluk (GCC) mengutuk serangan Iran, eskalasi ini bisa menjadi bumerang jangka panjang bagi AS. Warga di negara-negara Arab mulai mempertanyakan keamanan mereka jika dikaitkan dengan konflik AS. Ternyata AS yang katanya canggih menahan gempuran, tidak mampu menahan laju serangan Iran. Padahal AS sudah menggunakan wilayah negara-negara Arab itu sebagai pangkalan militernya.
Baca Juga: Akhiri Perang Saudara Yaman-Arab Saudi, Rakyat Hanya Jadi Korban
Jika kemudian tekanan publik Arab meningkat, pemerintah Arab mungkin akan meminta AS untuk meredam operasinya dari pangkalan mereka, yang justru membatasi ruang gerak militer AS .
Strategi Bertahan
AS dan Israel mungkin unggul dalam papan skor taktis, dengan mampu menghancurkan lebih banyak sarang rudal, membunuh lebih banyak jenderal, dan menerbangkan lebih banyak pesawat siluman. Namun, perang ini bukanlah perang dua jam (two-hours war) ala Venezuela yang diimpikan Trump.
Iran membuktikan bahwa strategi ketahanan (endurance strategy) mereka berhasil. Rezim tidak runtuh pasca-kematian Khamenei, ekonomi perang mereka masih bergerak dengan peluncuran rudal-rudal baru, dan sekutu AS di kawasan ikut menanggung biaya perang.
Baca Juga: Ketika Warga Eropa Berdemo, Apa Tuntutan Mereka?
Iran bahkan mengklaim baru menggunakan stok rudal-rudal lama dan murah sisa dari tahun 2012-2014, dan mengkalim menyimpan rudal-rudal generasi terbaru untuk perang jangka panjang.
Menghadapi organisasi yang jauh lebih kecil, Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) di Gaza, saja tidak berhasil. Tiga tahun sejak Oktober 2023, hasilnya nihil. Padahal yang dihadapi, perlawanan yang hanya dengan persenjataan sangat terbatas dan sudah diblokade bertahun-tahun. Apalagi ini yang dihadapi adalah Iran, negara besar yang memiliki persenjataan jauh lebih banyak dan canggih dibandingkan senjata Hamas.
Dengan kata lain, AS-Israel boleh saja mengaku memenangkan pertempuran secara taktis, tetapi Iran memenangkan perang dalam konteks strategis. Mereka masih berdiri, masih menembak, dan yang terpenting, rezim di Teheran masih berkuasa di tengah gempuran. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Perang Digital atas Masjid Al-Aqsa
















Mina Indonesia
Mina Arabic