Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Memaknai Bulan Solidaritas Palestina: Ketika November Menjadi Pengingat Kemanusiaan

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Ahad, 1 November 2026 - 03:51 WIB

Ahad, 1 November 2026 - 03:51 WIB

69 Views ㅤ

Ilustrasi: Bulan Solidaritas Palestina 2026. (Foto by AI)

ADA bulan-bulan yang ditandai kalender karena musim berganti. Namun ada bulan yang ditandai nurani karena kemanusiaan dipanggil untuk bangkit.

November adalah salah satunya, bulan ketika dunia menoleh ke satu titik di peta yang tak pernah benar-benar sunyi: Palestina.

Bagi Lembaga Kemanusiaan Aqsa Working Group (AWG), November bukanlah sekadar agenda tahunan. November adalah janji yang dirawat, ikrar yang diulang, dan kesadaran yang ditajamkan.

Tahun ini, penyelenggaraan solidaritas-palestina/">Bulan Solidaritas Palestina (BSP) telah memasuki tahun keenam (sejak 2021), sebuah perjalanan panjang yang membuktikan bahwa solidaritas bukanlah momentum sesaat, melainkan komitmen yang diwariskan dari satu November ke November berikutnya.

Baca Juga: Polisi, Sekejam Itukah?

November: Bulan yang Ditulis Sejarah

November menyimpan lembaran-lembaran bersejarah yang tak boleh dilupakan.

Setidaknya ada enam peristiwa besar yang selalu diperingati setiap bulan November oleh rakyat Palestina, bahkan dunia.

PBB juga yang kemudian melalui resolusi 32/40 B, menyerukan peringatan tahunan tanggal 29 November sebagai solidaritas-internasional/">Hari Solidaritas Internasional Bagi Rakyat Palestina (The International Day of Solidarity with the Palestinian People).

Baca Juga: Akhiri Perang Saudara Yaman-Arab Saudi, Rakyat Hanya Jadi Korban

Sejarah November mengajarkan satu hal penting: ketidakadilan tidak terjadi dalam sekejap, ia dibangun bertahun-tahun, bahkan berabad-abad. Maka melawannya pun tak bisa dengan satu kali teriakan. Ia menuntut kesabaran, keberlanjutan, dan kesetiaan.

Hakikatnya Setiap Bulan adalah Bulan Palestina

Namun di sinilah kita harus jujur pada diri sendiri. Jika solidaritas hanya hidup di bulan November, maka ia bukan solidaritas, ia hanya seremoni. Jika kepedulian hanya menyala saat acara digelar, maka ia bukan kepedulian, ia hanya rutinitas.

Maka, hakikatnya, setiap bulan adalah bulan Palestina. Setiap hari adalah hari-hari Palestina. Sebab penderitaan tidak menunggu kalender. Sebab anak-anak di Gaza tidak mengenal jeda antar-agenda. Sebab seorang ibu di Tepi Barat tidak bisa menunda rasa takutnya hingga November tiba.

Baca Juga: Ketika Warga Eropa Berdemo, Apa Tuntutan Mereka?

Solidaritas sejati adalah ketika kita menyadari bahwa darah yang tertumpah di bulan Desember sama merahnya dengan yang tertumpah di bulan November.

solidaritas-palestina/">Bulan Solidaritas Palestina (BSP) hanyalah pengingat bukan pembatas. BSP adalah lonceng yang membangunkan kita, bukan selimut yang membuat kita tidur nyenyak selama sebelas bulan lainnya.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Memaknai bulan ini berarti mengubah rasa menjadi tindakan:

Baca Juga: Perang Digital atas Masjid Al-Aqsa

Pertama, jadikan kesadaran sebagai kebiasaan. Ikuti perkembangan, kenali sejarahnya, pahami akar persoalannya. Buta terhadap konteks adalah bentuk kelalaian yang berbahaya.

Kedua, jadikan doa sebagai kekuatan. Bagi yang beriman, doa bukan pelarian, melainkan pengerahan energi batin yang menyertai ikhtiar nyata.

Ketiga, jadikan dukungan sebagai nyata. Boikot produk yang mendukung penindasan, dukung kemanusiaan, sebarkan kebenaran, dan jangan biarkan narasi penjajah menguasai percakapan.

Keempat, jadikan solidaritas sebagai identitas, bukan musim. Ketika November berlalu, jangan biarkan kepedulian ikut berlalu.

Baca Juga: Rekam Jejak pada Penjajah Israel: Ketika Panggung Borobudur dan Jakarta Dipertaruhkan demi Bocelli

Penutup

Tahun keenam penyelenggaraan BSP ini, yang diagendakan dibuka pada Ahad, 1 November 2026, di halaman Monumen Nasional (Monas) Jakarta, bukanlah angka yang membanggakan karena lamanya, melainkan karena konsistensinya.

Lembaga Kemanusiaan Aqsa Working Group (AWG) yang berdiri sejak 21 Agustus 2008, memilih untuk terus berdiri di sisi yang benar, meski dunia kadang lelah mendengarkan.

Maka mari memaknai November bukan sebagai puncak, melainkan sebagai napas baru. Buan ini mengingatkan akan amanat, kewajiban dan tanggung jawab. Sebab selama Palestina belum merdeka, selama itu pula November tak pernah benar-benar usai.

Baca Juga: Muhammad adalah Nama Mulia

Setiap bulan adalah bulan Palestina. Setiap hari adalah hari pembebasan yang kita perjuangkan. Dan setiap kita adalah bagian dari solidaritas yang tak boleh padam.

Merdeka adalah hak, bukan hadiah. Dan solidaritas adalah kewajiban, bukan pilihan. Al-Aqsa Haqquna! Allahu Akbar!! []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Tiga Tahun Thufan Al-Aqsa: Gaza Bertahan, Perlawanan Berlanjut, Solidaritas Dunia Berpihak

Rekomendasi untuk Anda