Apakah Kematian Qasem Soleimani Bisa Picu Perang Dunia Ketiga ? (Oleh: Rifa Berliana Arifin)

Oleh: Rifa Berliana Arifin, Kared Arab MINA

Peristiwa itu berawal pada tanggal 27 Desember 2019. AS mengklaim  ada serangan 30 roket terhadap pangkalan udaranya di kota Kirkuk, Irak, menyebabkan tewasnya salah seorang engineer mereka.

Dua hari setelah peristiwa itu, AS melakukan serangan balasan terhadap markas militan Kataib Hizbullah yang terletak di perbatasan Irak-Suriah menewaskan sekitar 25 anggota Kataib Hizbullah yang diklaim sebagai dalang di balik serangan kemarin.

Kataib Hizbullah bermarkas dekat Irak. Jangan terkecoh bahwa Hizbullah juga ada di Libanon, dan keduanya basis militer yang full funded didukung oleh Iran.

Kataib Hizbullah kembali menyerang pada 31 Desember dengan mengepung kedutaan AS di Baghdad, hingga akhirnya Trump mencuit dalam twiternya “Iran will pay a very BIG PRICE! This is not a Warning, it is a Threat”. Cuitan itu ditanggapi oleh pemimpin Iran Ayatullah Ali Khamanei “You can’t do anything,” sebuah ungkapan yang mengejek Trump.

Dan kejutan pun tiba, beberapa jam kemudian AS melakukan serangan terhadap Bandara Internasional Baghdad, dengan target :  Qasem Soleimani, Ketua Kataib Hizbullah yang dijuluki Abu Mahdi al-Muhandis, dan Pemimpin utama kelompok Quds Force.

Quds Force ini semacam CIA versi Iran. Soleimani mendapat mandat dari Khamanei untuk mengetuai departemen ini sejak tahun 1997. Tugas Quds Force adalah operasi intelijen guna membantu kelompok-kelompok pro-Iran seperti Hizbullah di Libanon dan Houthi di Yaman. Dan juga Jihad Islami di Palestina. .

Dengan begitu, Qasem Soleimani adalah mastermind aktifnya Iran dalam wilayah Timur Tengah. Sikap Iran terhadap AS, Israel, Arab Saudi dan lainnya tidak terlepas darinya. Alhasil kini pengaruh politik dan militer Iran makin meluas di berbagai negara di kawasan Timur Tengah seperti di Irak, Lebanon, Suriah, Yaman. Maka AS merasa makin tak senang, demikian juga sekutu-sekutunya seperti Israel.

Sementara itu tahun 2020 adalah juga tahun Pilpres AS. Presiden Donald Trump berikhtiar menggenjot popularitasnya dengan aksi, tindakan, kebijakan dan keputusan yang diperkirakannya akan dapat meningkatan popularitasnya.

Dalam pampanye Pilpres sebelumnya Trump pernah mengkritik pesaingnya Hillary Clinton yang gagal mengatasi krisis Kedutaan AS di Benghazi, Libya pada tahun 2012 yang menyebabkan tewasnya Duta Besar AS. Ia tak igin isu seperti itu mengurangi popularitasnya.

Trump meyakinkan bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi lagi terlebih di Baghdad. Tapi penyerbuan terhadap Kedutaan Besar AS di Baghdad terjadi. Trump langsung menuduh Iran sebagai dalangnya. Soleimani adalah master mind-nya. Ini adalah  alasan utama AS segera melancarkan serangan udara membunuh Soleimani.

Perang Dunia Ketiga (WW3)

Tewasnya Jendral Soleimani membuat hubungan AS dan Iran memanas. Saling mengancam. Banyak yang khawatir akan terjadi Perang Dunia Ketiga (WW3). Keduanya juga memiliki persenjataan canggih, persenjataan nuklir dan sekutu.

Pertama dan terpenting untuk dicatat bahwa sangat kecil kemungkinan Perang tersebut terjadi. Karena perang dunia berarti semua komponen kuasa utama dan sistem internasional akan terlibat. Perang Dunia Pertama (WW1) terjadi selama tahun 1914-1918 adalah perang yang terjadi antara Inggris, Jerman, Austria-Hungaria, Perancis, Russia, yang kesemuanya pada waktu itu adalah lima kuasa besar dunia. Perang Dunia Kedua (WW2) terjadi selama tujuh tahun antara 1939-1945 adalah perang antara sekutu terdiri dari Inggris, Perancis,  AS, Uni Soviet, melawan Jerman dan Itali di Eropa serta melawan Jepang di Pasifik.

Jadi seandainya diasumsikan Perang Dunia Ketiga dicetuskan Trump,  maka AS mamerlukan sekutu dan pendukung. Demikian juga kalau Trump ingin dapat mandat perang dari PBB, ia juga perlu mendapat dukungan dari anggota-anggota tetap Dewan Keamanan PBB lainnya selain AS yakni Inggris dan Perancis, Cina dan Rusia, yang mempuyai  hak veto menolak semua keputusan PBB. Plus dukungan Jepang, Jerman dan India. Tentu juga diperlukan dukungan Indonesia yang tahun ini dapat giliran menjadi Ketua DK PBB.

Sementara itu imbauan agar kedua negara melakukan de-eskalasi, penurunan ketegangan, disuarakan berbagai fihak termasuk dari sekutu-sekutu AS di Eropa maupun Arab Saudi. Jadi tidak ada sekutu-sekutu AS, kecuali Israel, yang mendukung Trump untuk berperang secara terbuka.

Perang di Kawasan Timur Tengah akan menyebabkan banyak krisis, salah satunya adaah krisis energi, harga minyak dan gas akan melonjak, sangat dikhawatirkan akan menimbulkan krisis ekonomi global. Maka Jepang yang juga sangat gencar mengimbau de-eskalasi karena sangat tergantung pada minyak dari Teluk termasuk dari Iran.

Sementara itu Cina, Rusia dan Turki punya agenda sendiri yang tak sejalan dengan AS. Cina misalnya saat ini sedang mempersiapkan agenda besar tahun 2049 yang digadang-gadang Xi Jinping sejak tahun 2013 sebagai capaian “The Great Rejuvenation of Chinese Nation”.  

Perang Dunia Pertama dan Kedua terjadi yang sangat jelas siapa common enemy nya. Misalnya Inggris menyerang Jerman, AS menyerang Jepang, jadi Inggris dan AS bersekutu melawan Jeman dan Jepang.

Saat ini dalam kasus AS vs Iran cukup rumit dan bias, Cina dan Russia adalah sekutu Iran, tapi juga teman baik Israel yang merupakan musuh Iran, Jika AS memerangi Iran maka otomatis Israel sokong AS, lalu Cina dan Rusia akan berpihak ke mana ? Malahan keduanya akan banyak memetik keuntungan kalau AS habis-habisan berperang di Timur Tengah.

Perang AS vs Iran

Dalam beberapa analisa bisa dimungkinkan ini terjadi, meskipun itu kecil. Coba kita teliti hal-hal yang menjadi alasan kenapa AS menyerang Irak pada tahun 2003 dan kita bandingkan jika itu bisa terjadi pada Iran.

Untuk itu diperlukan membuat definisi yang benar dalam memahami istilah “perang”. Perang dimaknai ketika terjadi dan melibatkan konfrontasi langsung antara pasukan militer AS dan Iran. Maka serangan Trump di Suriah pada 2017 dan 2018 tidak dapat dianggap perang karena Suriah tidak membalas serangan.

Pertama, ada istilah yang berbunyi “nations will not fight a war they can’t win“. Negara tidak akan berperang untuk kekalahan. Maka  Perang Dunia Pertama dan Kedua terjadi karena Jerman saat itu sangat yakin mereka bisa menang dalam waktu singkat. Perang Irak tahun 2003 terjadi karena AS yakin bisa menang. Tapi dalam kasus Iran, cukup sulit, kalaupun AS memaksa tentunya akan memerlukan cost yang besar.

Kedua adalah niat, setelah Trump menghabisi Soleimani, Trump justru menolak untuk memulai perang terbuka. AS hanya melancarkan serangan sporadis pada sasaran-sasaran tertentu. Berbeda Bush dan para sekutunya yang menginginkan Saddam Husain lengser. Sudah terlihat sebetulnya apa yang dimainkan Trump tidak jauh berbeda dengan apa yang ia mainkan untuk Korea Utara. Hanya mungkin dalam kasus Iran ini agak berlebihan.

Ketiga, politik dalam negeri AS. Presiden AS ingin berperang untuk mendapatkan persetujuan Kongres. Kongres menyetujui Perang Irak 2003 karena pada saat itu semua warga negara AS mengalami trauma setelah peristiwa 9/11, Jadi, tidak peduli apakah Demokrat atau Republik, semua mendukung Bush memerangi “terorisme”.

Dan saat ini setelah Soleimani tewas, respon internal termasuk Demokrat semakin menekan Trump, mengatakan Trump bodoh, mengambil keputusan tanpa konsultasi pada Kongres, Trump bermain api. Opini publik AS tidak mendukung Trump. Untuk kesekian kalinya ia akan dimakzulkan dengan tuduhan penyalahgunaan kekuasaan.

Akan tetapi akan berbeda jika Iran merespon balik dengan serangan terhadap AS yang akan mengubah prinsip masyarakat AS lebih patriotik, misalnya menghancurkan kedutaan AS terdekat dengan Iran. Sampai saat ini kita masih tunggu bagaimana Iran melakukan pembalasan seperti yang dinyatakan Pemimpin Tertiggi Iran.

Keempat, Perang besar memerlukan kecanggihan persenjataan, biaya besar, dukungan, sokongan logistik dan manpower selama perang. Trump yang pengusaha selalu minta bayaran pada negara-negara sekutunya jika ingin diberi bantuan militer. Masalahnya tidak ada negara manapun yang mau ikut bersama Trump, bahkan Arab Saudi tidak senang dengan tindakan Trump yang berlebihan membuat ketegangan di kawasan menjadi sebuah ancaman. Juga bukan berarti Arab Saudi tidak suka Iran lantas Saudi ingin berperang untuk melenyapkan Iran.

Terlalu sederhana dan meremehkan jika ada anggapan bahwa bisa saja AS berperang karena faktor tunggal, misalnya bahwa AS didukung oleh Yahudi, atau AS dikendalikan Pelobi, AS ingin minyak Irak dan Iran, jika memang itu alasannya lantas mengapa perang AS Iran tidak terjadi pada era Obama? Mengapa para pelobi dan Yahudi tidak mengendalikan AS di era Obama? AS di masa Obama tidak haus minyak?

Hari-hari ke depan akan ditentukan oleh sikap AS dan Iran, tentunya peristiwa ini membuat negara-negara teluk seperti UAE, Qatar, Saudi, Oman perlu waspada.(A/RA-1/P1)

Miraj News Agency (MINA)