Aulia Khamas, Doktor Elektrofisiologi Jantung Korsel Asal Bekasi

Aulia Khamas Heikhmakhtiar.

Aulia Khamas Heikhmakhtiar. Pria 29 tahun ini adalah putra sulung pasangan Abdul Hanan dan Rita Sutresnasih, yang tinggal di Bekasi Timur, Jawa Barat. Dengan izin dan takdir Allah serta pertolongan-Nya berhasil meraih gelar Doktor dengan disertasinya berjudul “In Silico Assessment of Toxicity of Proarrhythmia Drugs using Electrophysiological Model of Human Ventricle” (Penilaian Secara Simulasi Komputer Terhadap Tingkat Bahaya dari Obat-obatan yang Menyebabkan Gangguan Jantung dengan Menggunakan Model Elektrofisiologi Sel Ventrikel Manusia) di Gumi, Korea Selatan.

Setelah mempertahankan disertasinya di hadapan para profesor penguji dari Kumoh Institute of Technology, Gumi, 6 Desember 2019 lalu, ia akan diwisuda pada Februari 2020.

Obsesinya ingin membangun laboratorium untuk riset supaya bisa berkontribusi pada bidang pendidikan untuk masyarakat luas, satu di antaranya ingin membuat sistem yang mampu memfilter obat-obatan yang mempunyai efek berbahaya ke jantung sebelum masuk ke pasar.

Selain menimba ilmu di Negeri Gingseng, sejak September 2014 hingga tahun 2020 ini, Aulia, pria yang beristrikan Finantria Legowo dan buah hatinya Jasmine Azzahra Aulia (7 bulan) itu juga aktif di berbagai kegiatan, baik yang bersifat ilmiah seperti menghadiri konferensi di University of California Berkeley dan konferensi di Berlin, ataupun kegiatan lain seperti di KBRI Seoul, menjadi mentor di Universitas Terbuka (UT) cabang Korea Selatan untuk membantu tenaga kerja Indonesia (TKI), aktif di Persatuan Pelajar Indonesia di Korea Selatan (PERPIKA) dan menjabat sebagai “MenKomInfo” PERPIKA pada periode 2017/2018, hingga kegiatan keislaman.

Aulia memiliki riwayat pendidikan MI-Assubkiyah dari tahun 1997-2003, SMP-IT Thariq bin Ziyad Bekasi 2003-2006, SMAN 3 Kota Bekasi 2006-2009, S1 di Universitas President di Cikarang 2009-20013, S2 di Kumoh Institute of Technology di Gumi, Korea Selatan 2014-2016, S3 di Kumoh Institute of Technology di Gumi 2016-2020.

Bidang studi atau jurusan S2 dan S3 Aulia adalah Medical IT Convergence, berfokus kepada elektrofisiologi jantung dengan pemodelan matematika yang disimulasikan oleh komputer.

Kepada wartawan MINA Aulia mengungkapkan obsesi pribadinya, yakni mulai merutinkan mengaji Al-Quran dengan harapan bisa mendapat syafaat di hari akhir nanti. Adapun obsesinya untuk masyarakat, ia ingin mengajar sebagai dosen dan ingin membangun laboratorium untuk riset supaya bisa berkontribusi pada bidang pendidikan untuk masyarakat luas. Terutama pada bidang akademiknya, yaitu penelitian mengenai efek obat-obatan pada jantung.

“Saya ingin membuat sistem yang mampu memfilter obat-obatan yang mempunyai efek yang berbahaya ke jantung sebelum masuk ke pasar. Pada sisi lain, saya ingin sekali membuat perencanaan sistem ekonomi yang sustainable yang bisa berjalan tanpa adanya campur tangan dari rentenir-rentenir (bankir) internasional,” tuturnya di Gumi kepada Sakuri MINA melalui telepon seluler, Selasa, 7 Januari 2019.

Selama di Negeri Gingseng Aulia pernah ikut jadi salah satu mentor di Universitas Terbuka (UT) cabang Korea Selatan untuk membantu para TKI yang berkuliah di UT Korea.

Ia juga menjabat sebagai tim IT UT Korea selama satu tahun pada periode 2015/2016. Ia juga pernah aktif di Persatuan Pelajar Indonesia di Korea Selatan (PERPIKA) dan menjabat sebagai MenKomInfo PERPIKA pada periode 2017/2018.

Sebagai seorang Muslim yang taat, Aulia memperkaya pengetahuan agamanya dengan hanya mengikuti ceramah-ceramah melalui online.

“Banyak ustaz yang saya ikutin rutin. Biasanya kalau mengenai persoalan sehari-hari atau rumah tangga saya mendengarkan ceramah dari Ustaz Riza Syafiq Basalamah, atau Uztaz Khalid Basalamah. Kalau persoalan-persoalan populer atau fikih biasanya saya dengar dari Uztaz Adi Hidayat atau ustad Abdul Somad. Kalau untuk kajian tafsir, saya biasanya dengar Uztad Husein Al-Attas dari channel youtube RasilTV. Tetapi akhir-akhir ini saya lebih sering dengar pengajian tentang ilmu akhirul zaman dari Syeikh Imran Hossein, asal Trinidad and Tobago. Syeikh Imran Hossein memaparkan tentang keadaan umat muslim pada saat ini berdasarkan keterangan-keterangan dalam Al-Quran, menerangkan fitnah dajjal di ahir zaman dengan cara yang ilmiah dan menarik. Salah satu hal yang menarik dari kajian beliau adalah tentang definisi uang dalam Islam, haramnya uang kertas, dan sistem riba yang mencengkeram dunia pada saat ini yang membuat zionis bisa menguasai dunia,” paparnya.

Sebagai pelajar yang tinggal di Negeri K-Pop, ia menjelaskan bahwa perkembangan Islam di bumi Korea tidak terlalu menjamur seperti di Amerika atau Eropa. Memang ada penduduk asli Korea yang mau memeluk Islam, tapi sangat jarang, hal itu dikarenakan banyaknya orang Korea yang tidak percaya dengan adanya Tuhan dan mereka hanya percaya dengan kerja keras mereka.

“Di sisi lain, banyak dari warga asing di sini, terutama Indonesia, Pakistan, Uzbekistan, Malaysia, yang masih memperkuat dakwah Islam. Mereka mulai membangun masjid-masjid sehingga paling tidak ada satu masjid yang cukup untuk shalat Jumat berjamaah pada tiap-tiap kota di Korea Selatan ini,” katanya.

Aulia memiliki pandangan bahwa umat Islam harus bersatu atau berjamaah, karena menurutnya itu adalah suatu kewajiban yang memang harus dilaksanakan oleh seorang Muslim demi mengikuti syariat Islam dan juga mengikuti Sunnah Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan Khulafaur Rasyidin.

Selesai wisuda untuk gelar doktornya nanti, Aulia berencana pulang kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai dosen di salah satu universitas swasta di Bandung.

“Saya ingin mengimplementasikan ilmu yang saya dapat dari Korea ini supaya bisa bermanfaat untuk masyarakat luas. Saya juga ingin mewujudkan obsesi-obsesi saya,” pungkasnya. (A/RS5/RI-1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)