Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Awal Ramadhan 1447: Kapan Puasa Dimulai?

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Sabtu, 14 Februari 2026 - 19:16 WIB

Sabtu, 14 Februari 2026 - 19:16 WIB

176 Views

ilustrasi rukyatul hilal (Dok MINA)

RAMADHAN 1447 Hijriah hanya tinggal menghitung hari. Pertengahan Februari 2026 ini, bulan suci yang dinanti-nanti akan segera tiba. Namun, di tengah gegap gempita menyambut tamu agung, satu pertanyaan selalu mengemuka di kalangan umat Islam Indonesia: Kapan tepatnya kita mulai berpuasa?

Pertanyaan ini wajar muncul karena perbedaan metode penetapan awal bulan Hijriyah telah menjadi bagian dari dinamika keberagamaan kita. Ada yang menggunakan hisab (perhitungan astronomis), ada yang menggunakan rukyat (pengamatan langsung), dan ada pula yang menggabungkan keduanya. Masing-masing memiliki landasan dan argumentasi yang kuat.

Artikel ini hadir untuk memberikan gambaran utuh tentang penetapan awal Ramadhan 1447 H dari berbagai perspektif, agar kita dapat menyambut bulan suci dengan hati tenang dan saling menghormati perbedaan.

Muhammadiyah: 1 Ramadhan 18 Februari 2026

Baca Juga: Jangan Sampai Konflik AS-Israel dan Iran Alihkan Perhatian terhadap Palestina

Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan secara resmi bahwa 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu Legi, 18 Februari 2026 M.

Keputusan ini berdadarkan hasil hisab hakiki yang dilakukan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, dengan berpedoman pada prinsip, syarat, dan parameter Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Berdasarkan data astronomis, ijtimak (konjungsi) jelang Ramadhan terjadi pada: Hari/Tanggal: Selasa, 29 Sya’ban 1447 H / 17 Februari 2026 M, Waktu: Pukul 12:01:09 UTC (waktu universal) atau sekitar pukul 19:01 WIB.

Pada saat matahari terbenam di hari ijtimak tersebut, para ahli hisab Muhammadiyah melakukan analisis mendalam. Hasilnya menunjukkan bahwa kriteria visibilitas hilal Parameter Kalender Global (PKG) 1, yang mensyaratkan tinggi bulan minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat sebelum tengah malam UTC, belum terpenuhi di belahan bumi mana pun.

Baca Juga: Siapa Berduka atas Wafatnya Khamenei? Apa Artinya bagi Dunia Islam

Namun, Muhammadiyah tidak berhenti di situ. Mereka melanjutkan pemeriksaan dengan PKG 2. Dan di sinilah hisab membuktikan bahwa setelah pukul 24:00 UTC, terdapat wilayah di daratan Amerika yang memenuhi syarat. Tepatnya di koordinat: Lintang: 56°48’49” LU, Bujur: 158°51’44” BB.

Di wilayah tersebut, tinggi bulan mencapai 5°23’35” dan elongasi 8°00’11”, sementara waktu ijtimak tercatat sebelum fajar di Selandia Baru.

Dengan berpegang pada prinsip kesatuan matlak global, Muhammadiyah menetapkan bahwa 1 Ramadhan 1447 H berlaku serentak di seluruh dunia pada 18 Februari 2026.

Konsekuensinya: Shalat Tarawih pertama: Selasa malam, 17 Februari 2026, dan Puasa hari pertama: Rabu pagi, 18 Februari 2026.

Baca Juga: Dampak Serangan ke Iran terhadap Gerakan Perlawanan Palestina

NU dan Pemerintah: Menunggu Sidang Isbat

Berbeda dengan Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU) dan Kementerian Agama (Kemenag) belum mengumumkan tanggal pasti. Keduanya masih menunggu Sidang Isbat yang dijadwalkan pada Selasa malam, 17 Februari 2026.

Metode yang digunakan oleh NU dan pemerintah adalah rukyatul hilal (pengamatan bulan sabit secara visual) yang dikombinasikan dengan hisab rukyat (perhitungan astronomi sebagai pendukung pengamatan).

Sebagai persiapan, Kemenag akan menggelar pemantauan hilal secara serentak di 96 lokasi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, pada Selasa sore, 17 Februari 2026. Tim-tim rukyat akan ditempatkan di titik-titik strategis dengan pandangan langit yang jernih menuju ufuk barat.

Baca Juga: Saatnya Tinggalkan Trump, Perancang Perdamaian, Tapi Jadi Penyulut Peperangan

Hingga kini, sejumlah data astronomi menunjukkan bahwa hilal kemungkinan besar belum terlihat di atas ufuk pada sore hari tersebut. Posisi bulan diperkirakan masih berada di bawah ufuk saat matahari terbenam.

Jika skenario ini terbukti, hilal tidak terlihat saat rukyat, maka konsekuensinya adalah istikmal (menggenapkan bulan Sya’ban menjadi 30 hari). Dengan demikian, 1 Ramadhan kemungkinan besar ditetapkan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Jama’ah Muslimin Juga Akan Melakukan Rukyat

Di tengah dua metode utama tersebut, Najmu Idzharul Haq, Ketua Pusat Observasi Falaq (POF) Jama’ah Muslimin (Hizbullah), juga akan mengadakan rukyatul hilal pada Selasa sore, 17 Februari 2026, di beberapa titik di wilayah Indonesia.

Baca Juga: Berikut 9 Kandidat Terkuat Pengganti Khamenei

Dalam pernyataannya pada acara Taklim Akhir Sya’ban 1447, Ahad (8/2), disebutkan bahwa kemungkinan hilal pada Selasa (17/2) tidak terlihat di wilayah Indonesia. Namun, POF tidak hanya mengandalkan rukyat lokal. Mereka juga akan menunggu hasil pemantauan rukyatul hilal dari Arab Saudi dan berbagai negeri muslim lainnya, sebagai bagian dari pendekatan rukyat global.

Menyikapi Perbedaan dengan Hati Lapang

Perbedaan penetapan awal Ramadhan adalah keniscayaan yang telah berlangsung lama dalam sejarah umat Islam. Ia bukan sesuatu yang perlu dirisaukan, apalagi diperdebatkan dengan nada permusuhan.

Kementerian Agama RI telah mengeluarkan imbauan yang sangat bijaksana: agar umat Islam menyikapi potensi perbedaan ini dengan saling menghormati dan saling memahami.

Baca Juga: AS Ketua Dewan Perdamaian yang Justru Memicu Perang

Yang terpenting adalah bagaimana kita semua, dengan metode masing-masing, tetap menjalankan ibadah puasa Ramadhan dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan. Perbedaan hilal tidak boleh mengurangi kebersamaan kita sebagai umat yang satu.

Penutup

Pada akhirnya, apa pun tanggal yang akan kita ikuti, baik 18 atau 19 Februari 2026, yang paling menentukan adalah niat dan kualitas ibadah kita. Ramadhan adalah tamu agung yang membawa rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Jangan biarkan perbedaan teknis mengurangi kegembiraan kita menyambutnya.

Marilah kita sambut bulan suci Ramadhan dengan hati yang lapang, dengan persiapan yang matang, dan dengan doa agar Allah menerima amal ibadah kita semua.

Baca Juga: Ketika Upaya Stabilisasi di Gaza Dipimpin oleh Arsitek Pendudukan

Semoga kita semua dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan dalam keadaan sehat, iman yang kokoh, hati yang bersih serta persaudaraan umat Islam yang tetap kokoh, tak tergoyahkan. Marhaban ya Ramadhan! []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Mereka yang Mengeroyok Gaza, Ini yang Perlu Kalian Tahu!

Rekomendasi untuk Anda

Indonesia
Dunia Islam
Palestina
Kolom