SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagaimana China Antisipasi Pasokan Energi Terkait Penutupan Selat Hormuz?

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - 7 menit yang lalu

7 menit yang lalu

0 Views

Energi terbarukan China berbasiskan tenaga surya. (Xinhua)

MENGHADAPI kemungkinan penutupan atau blokade jangka panjang Selat Hormuz, China ternyata telah membangun strategi berlapis yang komprehensif.

Pendekatan utamanya Adalah dengan mengandalkan cadangan minyak yang sangat besar, jalur darat yang terdiversifikasi, dan strategi pengadaan global yang fleksibel.

Meskipun energi terbarukan China berkembang sangat pesat, dalam jangka pendek China masih membutuhkan batu bara dan cadangan minyak untuk menstabilkan sistem energinya.

Menurut analis energi, China mengamankan pasokan energinya melalui empat pendekatan utama:

Baca Juga: Gagal di Islamabad, Dunia Kembali Hadapi Bayang-Bayang Perang AS-Iran

  1. Cadangan Strategis dan Komersial. Ini adalah benteng pertahanan paling penting. China saat ini memiliki cadangan minyak yang sangat besar (diperkirakan total 1,4 miliar barel, setara dengan sekitar 6 bulan impor). Dilaporkan, China telah mengizinkan penggunaan cadangan komersial untuk melepas sekitar 100.000 barel per hari ke pasar guna menstabilkan harga, sambil tetap mempertahankan cadangan strategis sebagai garis pertahanan terakhir.
  2. Pipa Darat dan Kereta Api. Untuk memotong jalur laut melalui Selat Hormuz, China akan meningkatkan kapasitas pipa minyak darat dari Rusia, Kazakhstan, dan Myanmar. Selain itu, jalur kereta api yang melintasi Asia Tengah langsung ke Iran kini beroperasi secara reguler dan dapat menjadi “mekanisme asuransi” untuk transportasi darurat.
  3. Diversifikasi Sumber Impor. China meningkatkan pembelian dari negara-negara non-Timur Tengah seperti Rusia, Brasil, dan Angola, dengan target menurunkan pangsa impor minyak dan gas dari Timur Tengah dari 42% menjadi di bawah 35%.
  4. Peningkatan Produksi Domestik dan Konservasi Energi. Ladang minyak utama domestik (seperti Daqing dan Changqing) akan menjaga stabilitas produksi, bahkan meningkatkannya. Di sisi permintaan, China akan terus mempromosikan kendaraan listrik dan mengoptimalkan kapasitas industri untuk mengurangi konsumsi minyak sebesar 3% hingga 5%.

Adapun perkembangan energi terbarukan China, dilaporkan telah mencapai kemajuan signifikan dan memainkan peran yang semakin penting dalam strategi keamanan energi nasional.

Pada akhir Februari 2026, kapasitas terpasang tenaga surya China mencapai 1.230 gigawatt (1,23 miliar kW), dan tenaga angin mencapai 650 gigawatt, keduanya tumbuh dengan pesat. Diperkirakan pada akhir tahun 2026, kapasitas tenaga surya akan melampaui batu bara untuk pertama kalinya.

Pimpinan tertinggi China juga telah mendesak percepatan pembangunan sistem energi baru, dan menjadikannya langkah kunci untuk menghadapi konflik geopolitik serta memastikan keamanan energi jangka panjang.

Meskipun energi terbarukan berkembang pesat, pernyataan resmi China dengan jelas menyatakan bahwa dalam situasi geopolitik saat ini, batu bara masih menjadi fondasi sistem energi China. Batu bara berperan sebagai jaring pengaman, sementara energi terbarukan perlu dikembangkan secara terkoordinasi dengan batu bara untuk memastikan ketahanan dan stabilitas sistem.

Baca Juga: Kegagalan Pembicaraan Damai di Islamabad

Cadangan Minyak

Sistem cadangan minyak China sudah matang dan menyediakan penyangga yang kokoh untuk menghadapi gangguan jangka pendek.

Cadangan minyak China terdiri dari cadangan strategis dan komersial. Perkiraan menunjukkan cadangan komersial darat sekitar 851 juta barel, dan cadangan strategis sekitar 413 juta barel. Total cadangan diperkirakan cukup untuk menutupi kekurangan pasokan selama sekitar 6 bulan.

Cadangan minyak ini tidak hanya mencakup cadangan strategis yang dimiliki langsung oleh negara, tetapi juga mencakup cadangan komersial yang wajib dimiliki oleh perusahaan milik negara dan swasta, yang dapat dimobilisasi oleh pemerintah dalam keadaan darurat.

Baca Juga: Dukungan Satelit Rusia-China untuk Pertahanan Iran

Patut dicatat, sebelum krisis memanas, China telah membeli dan menimbun minyak mentah diskon dari Iran, Rusia, dan negara lain melalui kilang-kilang swasta, memberikan ruang dan waktu yang berharga untuk menghadapi situasi saat ini.

Selain langkah-langkah utama di atas, China juga secara aktif menjajaki jalur alternatif lain, misalnya melalui jalur kereta api China-Iran sebagai opsi cadangan penting.

Meskipun kapasitas angkutnya tidak dapat menggantikan pengiriman minyak mentah dalam jumlah besar seperti pengiriman laut. Jika jalur laut terputus, jalur ini dapat memastikan kelancaran pengiriman barang bernilai tinggi dan produk non-minyak, serta secara signifikan mempersingkat waktu pengiriman.

Hal lainnya, walaupun Iran adalah pemasok kunci bagi China, dalam kondisi blokade Selat Hormuz atau perang, kapal tanker akan menghadapi kesulitan besar dan risiko tinggi untuk melintas. Oleh karena itu, jalur pengiriman laut reguler untuk minyak dari Iran pada dasarnya akan terputus. Secara teoritis, di masa depan, pengiriman produk energi bernilai tinggi dalam skala kecil mungkin dapat dilakukan melalui jalur kereta api China-Iran yang disebutkan di atas, tetapi ini bukanlah skenario utama saat ini.

Baca Juga: Dilema Selat Hormuz, Antara Sandera Global dan Egoisme Kawasan

Prospek

Secara keseluruhan, strategi China dalam menghadapi potensi blokade Selat Hormuz adalah jelas dan pragmatis, yakni Jangka Pendek dengan mengandalkan cadangan yang memadai, pipa darat, dan pembelian yang terdiversifikasi untuk meredam guncangan pasokan.

Adapun dalam Jangka Panjang, China terus mendorong transisi energi secara konsisten dengan mengembangkan energi surya, angin, dan nuklir untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Namun para ahli mencatat bahwa strategi China sangat mampu mengatasi gangguan jangka pendek sekitar satu bulan.

Baca Juga: Harga Plastik Melambung, dari Selat Hormuz ke Warung Tepi Jalan

Jika konflik berubah menjadi gejolak berkepanjangan, rantai pasokan energi global akan menghadapi tantangan serius, dan pada saat itu, tidak ada negara yang dapat sepenuhnya terhindar dari dampaknya. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Perbedaan Tajam Antara Washington dan Teheran Soal Lebanon

Rekomendasi untuk Anda