KETIKA rudal melesat di langit Teluk Persia pada Februari 2026, dunia tidak hanya menyaksikan babak lain dari permusuhan abadi antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Lebih dari itu, kita menyaksikan sebuah aksi penyanderaan massal. Sekitar 20 persen pasokan minyak global yang setiap hari melintasi Selat Hormuz berubah menjadi alat tawar-menawar paling ekstrem dalam sejarah modern.
Iran, yang secara militer jelas kalah telak dari serangan udara AS-Israel, melakukan sesuatu yang cerdik sekaligus mengerikan. Mereka menutup pintu Selat Hormuz. Bukan dengan tembok, melainkan dengan ranjau laut, kapal cepat, dan ancaman.
Tiba-tiba, negara adidaya sekaliber AS pun mengerang. Bukan karena rudal Iran, tetapi karena harga BBM di dalam negerinya melonjak dan sekutu-sekutunya di Eropa serta Asia mulai berteriak panik.
Ketika Polisi Dunia Mengakui Kelemahan
Baca Juga: Bagaimana China Antisipasi Pasokan Energi Terkait Penutupan Selat Hormuz?
Presiden Donald Trump sempat meminta bantuan negara lain untuk membuka Selat Hormuz. AS dengan 11 armada kapal induk dan anggaran militer triliunan dolar mengaku tidak bisa sendirian. Bukan karena lemah, tetapi karena mahal dan berisiko.
AS sadar bahwa jika kapal perangnya diserang Iran, itu artinya perang habis-habisan. Maka, mereka berusaha membebankan biaya dan risiko itu kepada Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara Eropa. Ini adalah bentuk cost-shifting yang transparan.
Namun, dunia tidak sebodoh itu. China dan Rusia memveto resolusi PBB tentang Selat Hormuz. Negara-negara Eropa enggan bergabung. Bahkan sekutu dekat AS di kawasan Teluk mulai berbisik-bisik dengan Iran di belakang layar.
Kegagalan AS membangun koalisi bukan hanya karena negara-negara takut pada Iran, tetapi karena mereka mulai melihat AS sebagai polisi dunia yang mulai kehilangan arah. Dunia tidak lagi percaya bahwa solusi militer adalah jawaban. Dunia menginginkan stabilitas, bukan kemenangan salah satu kubu.
Baca Juga: Gagal di Islamabad, Dunia Kembali Hadapi Bayang-Bayang Perang AS-Iran
Antara Dendam dan Geografi
Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, dan Qatar memiliki posisi yang absurd. Mereka secara ideologis membenci rezim Iran. Namun secara geografis, mereka terjebak di belakang Selat Hormuz, yang berada di wilayah perairan Iran.
Selama konflik, mereka berteriak paling keras agar AS menundukkan Iran. Namun saat diminta mengirim kapal perang sendiri untuk membuka jalur, mereka mundur. Mereka ingin minyaknya keluar, tetapi tidak mau darahnya tumpah.
Di sinilah letak kelemahan strategis negara-negara Arab selama puluhan tahun. Mereka terlalu bergantung pada payung keamanan AS dan lupa membangun “jalan tol cadangan”. Pipa East-West Pipeline milik Saudi hanya memiliki kapasitas 5 juta barel per hari, dan pipa UAE ke Fujairah hanya 1,5 juta barel per hari. Jumlah itu tidak cukup untuk mengalirkan 17 hingga 20 juta barel per hari yang melewati Selat Hormuz.
Baca Juga: Kegagalan Pembicaraan Damai di Islamabad
Kemenangan Semu
Di permukaan, Iran tampak keluar sebagai “pemenang moral” dalam konflik ini. Teheran berhasil menunjukkan bahwa meskipun infrastrukturnya hancur, mereka masih bisa membuat ekonomi global bertekuk lutut. Mereka bahkan sempat memungut retribusi jutaan dolar dari setiap kapal yang lewat dan menjual minyak mereka dengan harga premium ke China dan India.
Namun, kemenangan ini indah di permukaan untuk jangka pendek, tetapi semu dalam jangka panjang. Iran akan dikenal sebagai negara pemeras. Siapa yang mau berinvestasi di negara yang senjata utamanya adalah menyandera ekonomi dunia? Blokade Hormuz memang memberi Iran posisi tawar sesaat, tetapi menghancurkan reputasinya sebagai mitra dagang yang dapat diandalkan.
Solusi Bersama
Baca Juga: Dukungan Satelit Rusia-China untuk Pertahanan Iran
Solusi untuk Selat Hormuz bukanlah menggulingkan rezim Iran seperti fantasi AS, juga bukan membiarkan Iran bertindak sewenang-wenang. Solusinya adalah sebuah pakta regional yang bersifat mengikat, dengan tiga pilar:
- Protokol Bersama Iran-Oman
Oman selama ini menjadi “Swiss-nya Timur Tengah”. Bersama Iran, mereka sebenarnya sudah mulai merancang protokol bersama untuk memantau lalu lintas di Selat Hormuz. Dalam skema ini, Iran tetap menjadi lead supervisor di perairan utara, sementara Oman menjadi jembatan dengan negara-negara Teluk lainnya.
Ini adalah solusi paling realistis. Iran mendapat pengakuan. Negara Arab mendapat jaminan keamanan. Dunia mendapat kepastian.
- Revitalisasi HOPE (Hormuz Peace Endeavor)
Ini adalah proposal asli Iran yang dilontarkan sejak 2019, tetapi diabaikan oleh AS dan Saudi karena dianggap terlalu pro-Iran. Ironisnya, setelah perang 2026, proposal ini justru menjadi satu-satunya kerangka yang tersisa.
Baca Juga: Harga Plastik Melambung, dari Selat Hormuz ke Warung Tepi Jalan
HOPE menawarkan komitmen semua negara pantai untuk tidak mengganggu navigasi, zona de-eskalasi untuk infrastruktur energi, dan hotline militer regional untuk mencegah kesalahan hitung.
- Diversifikasi sebagai Asuransi, Bukan Senjata
Negara-negara Teluk harus serius membangun pipa alternatif ke Laut Merah dan Samudra Hindia. Bukan untuk “mematikan” Iran, tetapi untuk memastikan bahwa jika suatu saat Iran kembali bertindak, dunia tidak lumpuh total. Dan Iran harus menerima kenyataan ini sebagai hak negara berdaulat, bukan sebagai provokasi.
Solusi tersebut menuntut pengorbanan ego dari semua pihak. Amerika Serikat harus rela melepaskan perannya sebagai polisi dunia tunggal dan menerima tatanan multipolar di Teluk Persia. Selain itu, Iran harus berhenti menggunakan Selat Hormuz sebagai senjata politik dan menerima bahwa negara Teluk lain berhak memiliki jalur cadangan.
Sementara, negara Arab harus mengakui Iran sebagai kekuatan regional yang sah dan berdialog dengannya secara setara.
Baca Juga: Perbedaan Tajam Antara Washington dan Teheran Soal Lebanon
Tanpa pengorbanan ego itu, Selat Hormuz akan tetap menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Penutup
Konflik Selat Hormuz 2026 seharusnya menjadi wake-up call terakhir bagi dunia. Kita tidak bisa terus-menerus membiarkan satu titik geografis yang lebarnya hanya 33 kilometer menjadi sandera bagi perekonomian 8 miliar manusia.
Transisi energi ke sumber terbarukan memang solusi, tetapi untuk jangka panjang. Dalam 20-30 tahun ke depan, minyak dan gas dari Teluk Persia masih akan mengaliri pabrik-pabrik di Asia dan Eropa.
Baca Juga: Trump Kalap, Amerika Kolaps
Tentu saja dunia menginginkan aliran itu diatur oleh kesepakatan damai yang saling menguntungkan, bukan oleh todongan senjata dan ancaman blokade setiap kali ada krisis.
Hanya saja, para pemimpin di Washington, Teheran, dan Riyadh tampaknya lebih suka bermain api daripada duduk bersama di meja bundar. Dan rakyat biasa, yang hanya ingin harga BBM tak melonjak dan ekonomi tetap berjalan, sekali lagi akan membayar harga dari tindakan mereka. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Waspadai Ritual Yahudi Berupa Penyembelihan Hewan di Kompleks Al-Aqsa
















Mina Indonesia
Mina Arabic