SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bangladesh Hadapi Wabah Campak Terburuk, 1.147 Meninggal dan Mayoritas Balita

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Ahad, 18 Oktober 2026 - 10:34 WIB

Ahad, 18 Oktober 2026 - 10:34 WIB

16 Views ㅤ

Ilustrasi: seorang bayi Bangladesh dirawat serius karena campak. (Gambar: Dhaka Tribune)

Dhaka, MINA – Bangladesh tengah menghadapi wabah campak terbesar di dunia tahun ini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan 1.147 orang meninggal akibat penyakit menular tersebut, dan 94 persen korban jiwa adalah anak di bawah lima tahun.

Sejak wabah dimulai pada pertengahan Maret hingga 9 Oktober 2026, WHO mencatat 202.000 kasus suspek campak, dengan 22.000 kasus terkonfirmasi laboratorium.

Jumlah itu menjadikan Bangladesh sebagai negara dengan kasus suspek terbanyak di dunia tahun ini. Di Sylhet, catatan resmi menyebut 180 anak meninggal, dan pada hari kunjungan Reuters terdapat 178 pasien yang dirawat. Dhaka Tribune melaporkan.

Penanganan wabah terhambat data yang tidak memasukkan jutaan anak, persiapan yang kurang, dan jangkauan yang tidak memadai.

Baca Juga: Inggris Ancam Sanksi Perusahaan yang Ikut Tender Permukiman Ilegal Israel di E1

Bangladesh sebelumnya dianggap sukses dalam vaksinasi, dengan cakupan dosis pertama 96 persen dan dosis kedua 93 persen pada 2024 menurut WHO dan UNICEF. Program imunisasi rutin negara itu goyah pada 2025, sehingga cakupan turun di bawah 95 persen yang menurut WHO dibutuhkan untuk mencegah wabah.

UNICEF dan Biro Statistik Bangladesh memperkirakan hingga 40 persen anak belum terdaftar, sehingga menyulitkan pendataan penerima vaksin, sementara sekitar sepertiga posisi petugas kesehatan kosong.

Risalah pertemuan WHO pada Agustus mencatat proporsi anak dengan campak terkonfirmasi yang belum divaksin hampir tidak berubah, yakni 82 persen sebelum kampanye vaksinasi darurat April dan 85 persen sesudahnya.

Dari 16 keluarga yang diwawancarai Reuters di Sylhet pada September, delapan mengaku tidak melihat petugas kesehatan menawarkan vaksinasi.

Baca Juga: Anis Matta Dorong Reformasi OKI, Indonesia Siap Jadi Oasis Perdamaian

Seorang penasihat perdana menteri Bangladesh pada 14 September mengakui adanya kesenjangan dan menyebut keraguan orang tua terhadap vaksin atau penyakit anak sebagai penyebab sebagian anak tidak divaksin.

Wakil Perwakilan WHO di Bangladesh, Rajesh Narwal, menyatakan WHO berkomitmen membantu pemerintah memvaksin setiap anak yang berisiko. Para ahli menyebut kasus ini sebagai peringatan bagi negara lain tentang risiko menurunnya cakupan imunisasi. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Kerusuhan di Prancis Memburuk, 2.000 Orang Ditangkap dan 600 Aparat Terluka

Rekomendasi untuk Anda