Kinshasa – Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo terus meluas dan telah menewaskan 4.381 orang. Data Kementerian Kesehatan Kongo mencatat 9.066 kasus terkonfirmasi, dengan tingkat kematian mendekati separuh dari kasus yang diketahui.
Wabah yang diumumkan Kongo pada 15 Mei 2026 itu disebabkan Ebola jenis Bundibugyo, yang belum memiliki vaksin maupun pengobatan khusus. Al-Jazeera melaporkan.
Ini menjadi wabah Ebola terbesar dan paling mematikan dalam sejarah Kongo, dan secara global hanya kalah dari epidemi Afrika Barat 2014-2016 yang mencatat 28.600 kasus dan lebih dari 11.000 kematian.
Data terbaru Lembaga Kesehatan Masyarakat Nasional Kongo (INSP) yang dikutip Antara pada Kamis (15/10) menyebut 9.144 kasus dan 4.410 kematian.
Baca Juga: Macron Kecam Kerusuhan Demo Biaya Hidup di Prancis, Hampir 2.400 Orang Ditangkap
Pengendalian wabah menghadapi hambatan. Petugas kesehatan menghadapi ketidakpercayaan warga yang menduga penyakit ini dijadikan dalih untuk menguras dana, sementara konflik antara kelompok pemberontak M23 dan pasukan pemerintah mempersulit distribusi layanan kesehatan ke daerah terpencil.
Pada awal Oktober, Provinsi Ubangi Selatan di barat laut Kongo menjadi provinsi ketujuh yang melaporkan wabah, dan setidaknya 50 petugas kesehatan dilaporkan meninggal akibat tertular.
Penularan lintas negara mulai terjadi. Kementerian Kesehatan Kenya mengonfirmasi kasus Ebola kedua pada Rabu (14/10) dan menyatakan belum ada bukti penularan luas.
Pekan sebelumnya, Kenya melaporkan kematian pertama akibat Ebola dari seorang warga yang kembali dari Kongo. Uganda sempat mencatat 20 kasus dan dua kematian sebelum dinyatakan bebas Ebola pada Agustus.
Baca Juga: Inggris Ancam Sanksi Perusahaan yang Ikut Tender Permukiman Ilegal Israel di E1
Dari sisi pendanaan, Bank Dunia mengumumkan tambahan dana 93 juta dolar AS untuk memperkuat respons Ebola di Afrika, termasuk 80 juta dolar AS untuk memperkuat pengawasan penyakit, kapasitas laboratorium, dan penanganan kasus di wilayah terdampak Kongo.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) sebelumnya memperingatkan 10 negara di benua itu berisiko tinggi, antara lain Sudan Selatan, Rwanda, Kenya, Zambia, dan Tanzania. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Anis Matta Dorong Reformasi OKI, Indonesia Siap Jadi Oasis Perdamaian
















Mina Indonesia
Mina Arabic