BAZNAS Bertekad Memerdekakan Mustahik dari Jerat Kemiskinan Melalui Zakat

Foto: Dok BAZNAS

Jakarta, MINA – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) memiliki tekad yang kuat untuk memerdekakan mustahik dari kemiskinan, salah satunya dengan aktif memberikan berbagai bantuan dan pelatihan secara berkala.

Bertepatan dengan momen bulan kemerdekaan Republik Indonesia, BAZNAS menggelar acara Talkshow Mustahik Merdeka, yang digelar Selasa (16/8), di Gedung Kebangkitan Zakat, Matraman, Jakarta, dengan dihadiri sejumlah mustahik yang telah mencapai keberhasilan bersama BAZNAS.

“Ada satu semangat bahwa memberi dan mendampingi harus dilakukan, karena zakat adalah dana yang bersih, dana yang penuh doa dan barokah. Dari dana itu, muncul doa dari mustahik untuk muzaki. Artinya orang yang mendapatkan zakat juga mendapatkan kedamaian, ini yang sering kita doakan,” kata Ketua BAZNAS RI, Prof Noor Achmad.

Menurut Noor, BAZNAS sebagai lembaga yang diamanatkan negara untuk mengelola dana zakat, terus memaksimalkan segala potensi yang ada untuk menyejahterakan umat, dan mengentaskan kemiskinan yang ada di Indonesia.

“Karena kekuatan Illahiah ini, pada akhirnya adalah kekuatan membangun badannya secara ekonomi, ini bedanya bantuan yang lain dengan bantuan BAZNAS. Ini adalah dana ketuhanan, tidak akan kami sia-siakan. Dengan semangat bersama, BAZNAS berusaha untuk memerdekakan para mustahik di Indonesia agar menjadi muzaki di kemudian hari,” ucap Noor.

Sementara itu, Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Saidah Sakwan mengatakan, tema memerdekakan mustahik yang diusung BAZNAS merupakan esensi dari salah satu sila Pancasila yang berbunyi keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia.

“Teman-teman mustahik kita harapkan merdeka, bukan hanya merdeka untuk dirinya sendiri, namun juga memerdekakan orang-orang di sekitarnya. Dengan banyaknya mustahik yang merdeka, maka akan bahagia pula para muzaki. Karena dana yang dititipkan melalui BAZNAS, bisa memerdekakan banyak orang,” kata Saidah.

Dalam acara Mustahik Merdeka, sejumlah mustahik yang telah berkembang turut dihadirkan. Salah satunya Metty Novianty, yang telah berkembang ke arah yang lebih baik. Jika dulunya Metty merupakan seorang mustahik, kini setelah menjadi binaan BAZNAS Metty berhasil bertransformasi menjadi muzaki.

Dengan hadirnya BAZNAS, Metty mampu memproduksi 1.600 roti dalam satu hari. Ia juga sudah bermitra dengan 800 warung yang tersebar di wilayah Jakarta, tiga koperasi, satu rumah produksi, serta mampu memberdayakan masyarakat sekitar dengan menjadikan karyawannya.

Begitu pula dengan Yuli, yang juga memiliki kisah inspiratif dan patut menjadi contoh bagi mustahik lain. Awalnya, Yuli yang merupakan penyandang disabilitas berangkat dari Jawa Timur ke Jakarta, tanpa memiliki apa-apa. Dia sebelumnya sering mendapatkan bantuan langsung dari BAZNAS. Namun lambat laun, Yuli bersama rekan-rekannya bisa mendapatkan bantuan produktif, agar dia mampu berkembang dan mandiri secara ekonomi.

“Alhamdulillah, kisah saya bisa menginspirasi banyak mustahik. Saya pun tidak menyangka 4 tahun yang lalu saya berangkat dari Jawa Timur, tak punya apa-apa dan miskin secara harta, fisik, dan ilmu. Tapi alhamdulillah, saya kaya akan rasa syukur. Saya ke Jakarta ingin berjuang, bersama anak-anak. Hingga akhirnya mendapat bantuan BAZNAS,” kata Yuli bercerita. (R/RE1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)