Jakarta, MINA – Program acara Bedah Berita MINA (BBM) di Radio Silaturahim (Rasil) Jumat (13/2) malam ini akan hadir dengan tema “Pengiriman Pasukan TNI ke Gaza, Mampukah Menstabilkan Keamanan?” bersama Sajadi dan Widi Kusnadi, jurnalis Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency).
Pengiriman pasukan TNI ke Jalur Gaza kembali menjadi wacana yang mengundang perhatian luas, baik di dalam negeri maupun di kancah internasional. Langkah ini dinilai sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan Indonesia terhadap rakyat Palestina yang terus berada dalam tekanan agresi dan blokade.
Namun, pertanyaan besar muncul: apakah kehadiran pasukan Indonesia benar-benar dapat menstabilkan keamanan Gaza, atau justru menghadapi tantangan geopolitik yang lebih rumit?
Dalam konteks konflik yang masih berlangsung, stabilitas keamanan di Gaza tidak hanya ditentukan oleh kehadiran pasukan penjaga perdamaian, tetapi juga oleh komitmen politik negara-negara besar dan kesediaan Israel untuk menghentikan agresinya.
Baca Juga: Kemenhub Buka Pendaftaran Mudik Gratis Kapal Laut Mulai 6 Maret 2026
Gaza bukan sekadar wilayah krisis kemanusiaan, melainkan medan genosida yang melibatkan kepentingan regional dan internasional. Karena itu, misi militer kemanusiaan membutuhkan mandat yang jelas, dukungan PBB, serta jaminan keselamatan personel di lapangan.
Secara diplomatik, Indonesia memiliki posisi strategis sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar dan konsisten mendukung kemerdekaan Palestina. Namun, pengerahan pasukan ke zona konflik seperti Gaza menuntut lebih dari sekadar niat baik. Diperlukan kerangka operasi yang terukur, koordinasi dengan otoritas Palestina, serta mekanisme internasional yang mampu mencegah pasukan penjaga perdamaian terjebak dalam eskalasi serangan yang terus berulang.
Jalur Gaza telah mengalami agresi berkepanjangan sejak puluhan tahun, dengan blokade ketat yang memperparah krisis pangan, kesehatan, dan infrastruktur.
Serangan besar Israel sejak Oktober 2023 telah menyebabkan puluhan ribu korban jiwa dan kehancuran masif, sementara upaya gencatan senjata masih rapuh.
Baca Juga: Prabowo Bentuk Satgas Percepatan Transisi Energi, Bahlil Jadi Ketua
Dalam situasi seperti ini, pengiriman pasukan TNI akan sangat bergantung pada mandat internasional yang kuat serta komitmen nyata komunitas global untuk menghentikan pendudukan dan kekerasan. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Anies Baswedan Desak Indonesia Keluar dari BoP Bentukan Trump
















Mina Indonesia
Mina Arabic