Belajar Memperbaiki “Mindset” (Oleh: Shamsi Ali, New York)

Oleh: Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation

Ada sesuatu yang tidak dipelajari di sekolah, tidak juga dari guru-guru agama di masjid bahkan di pesantren. Tapi sesuatu itu justeru menentukan cara manusia melihat/menilai tentang apa dan siapa di sekitarnya. Bahkan akan banyak menentukan warna hidupnya, termasuk kesuksesan atau kegagalannya.

Itulah “cara pandang” seseorang. Cara pandang ini biasa juga dikenal dengan “mindset”. Bentuk (setting) pemikiran (mind) seseorang itulah yang menentukan cara dia melihat atau menilai sesuatu. Termasuk di dalam hidupnya bahkan dirinya sendiri.

Jika mindset atau cara pandang seseorang itu positif maka orang itu akan mengedepankan penglihatan atau penilaiannya secara positif. Tapi jika sebaliknya mindset atau cara pandangnya negatif maka boleh jadi segala sesuatu akan dipandang atau dinilai negatif.

Di sinilah pentingnya Iman yang selalu mengedepankan cara pandang positif. Karena memang salah satu konotasi iman adalah al-amnu (keamanan). Dan keamanan sejati dalam hidup manusia akan terjadi ketika ada rasa aman.

Dengan cara pandang atau mindset yang benar, kita akan memandang segalanya, khususnya manusia di sekitar kita, dengan pandangan positif. Dan dengan pandangan positif itu akan melahirkan lingkungan (climate) yang juga positif.

Betapa seringkali lingkungan sekitar menjadi “poisonous” (beracun) akibat mindset atau cara pandang yang salah. Kecurigaan, irihati, dengki, bahkan kemarahan dan permusuhan di antara manusia terkadang terkadang tanpa alasan yang jelas. Semua diakibatkan oleh mindset yang salah tadi.

Salah satu cara pandang positif yang diajarkan oleh Islam adalah ketika Islam memandang setiap orang terlahir secara fitrah (suci). Bahwa siapapun realita manusia pada kekiniannya semua manusia itu punya modal awal yang masih terbuka untuk menjadikannya baik.

Ini kontras pandangan yang mengatakan bahwa manusia itu terlahir dalam keadaan kotor (berdosa) dengan dosa yang tak terampuni secara konvensional (lazim). Tapi perlu ditebus dengan cara yang berlawanan dengan justice value (nilai keadilan).

Pandangan Islam tentang manusia ini sejatinya mengajarkan kepada kita bahwa semua orang punya modal sekaligus kesempatan untuk kembali ke fitrahnya. Dan karena keadaan kekiniannya, seburuk apapun, tidak menjadi alasan untuk menghakiminya.

Pandangan positif ini melahirkan sebuah pernyataan terkenal, bahkan seolah menjadi sebuah kaedah dalam berdakwah: “nahnu du’aatun lasna qudhootun”. Bahwa pelaku Dakwah itu bukan hakim yang menghakimi. Tapi dai yang mengajak. Tentu konotasi terutama dari ajakan itu adalah “pendekatan yang membangun kepercayaan dan simpati”.

And so “lets learn to correct our mindset”. (AK/RE1/P1).

Mi’raj News Agency (MINA)