Belajarlah Menahan Marah

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Marah memang seolah membuat lega perasaan, karena sudah terlepaskan. Namun, tahukah kita, marah rupanya menjadi awal dari keburukan. Bagaimana tidak, segala sesuatu yang diputuskan dengan amarah, maka keputusan itu pasti tidak baik. Malah sebaliknya akan memberikan efek buruk.

Dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu ’alaihi bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ

رَوَاهُ البُخَارِي

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, seorang lelaki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Berilah aku wasiat.” Beliau menjawab, “Janganlah engkau marah.” Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya, (namun) Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam (selalu) menjawab, “Janganlah engkau marah.” (HR. Bukhari, no. 6116)

Orang yang mudah marah, dalam kehidupan sosial biasanya dijauhi manusia. Mengapa? Karena orang yang pemarah tidak bisa dan biasa diajak berfikir untuk kemajuan sebuah masyarakat, apalagi diajak bekerjasama. Karenanya orang yang mudah marah, bukannya terlihat tambah hebat atau kuat tapi sebaliknya. Hal ini seperti dalam sabda Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam.

Rasulullah Shallallahu alaihi Wa Sallam  bersabda, ”Bukanlah orang yang kuat itu adalah seorang pegulat, namun yang disebut orang kuat adalah mereka yang bisa mengendalikan amarahnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Empat belas abad yang lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam secara tegas telah menyebutkan bahwa seorang pemarah merupakan seorang yang lemah. Lemah mengadung arti baik secara fisik ataupun mental.

Menurut ahli kesehatan jiwa, Dr Guy A Pettitt, dalam artikelnya Forgiveness and Health, secara fisik marah yang berkepanjangan berdampak pada stres dan urat-urat menjadi tegang. Akibatnya, akan timbul rasa sakit di bagian leher, punggung, dan lengan.

Begitupun sirkulasi darah ke jantung dan anggota tubuh lainnya menjadi terhambat, sehing-ga kandungan oksigen dan nutrisi dalam sel berkurang, pecernaan dan pernapasan juga akan terganggu. Sistem kekebalan tubuh pun melemah, sehingga tubuh menjadi sangat rawan terserang penyakit.

Secara mental, marah berdampak sangat fatal terhadap kejiwaan seseorang, karena dengan marah, terkadang seseorang tidak bisa mengontrol diri. Sehingga, sangat memungkinkan untuk berbuat sesuatu di luar kendalinya, seperti mencaci, memukul, bahkan mungkin membunuh.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala  mengajarkan kepada hambanya un-tuk bersikap gampang memaafkan kesalahan seseorang, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala  sangat gampang mengampuni dosa-dosa hambanya.

Bahkan, Allah Subhanahu Wa Ta’ala  mencela orang yang suka marah dengan menyebutnya sebagai orang bodoh. Sebagaimana firmanNya, ”Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bo-doh.” (Qs. Al-A’raf : 199).

Dr Frederic Luskin dalam bukunya Forgive for Good sebagaimana yang dikutip Harun Yahya, menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran, dan percaya diri, sehingga akan mengurangi kema-rahan, penderitaan, lemah semangat, dan stres.

Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam , ”Tidaklah kelemahlembutan itu berada pada sesuatu kecuali akan membuatnya indah, dan tidaklah kelembutan itu dicabut kecuali akan men-jadikannya jelek.” (HR. Muslim). Maka, kalau ingin hidup sehat, jadilah seorang pemaaf.(A/RS3/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)