Bentrokan Senjata Terjadi di Ibu Kota Sudan, Tiga Tewas

Foto: Anadolu Agency

Khartoum, MINA – Bentrokan senjata, Sabtu (15/5), meletus antara Angkatan Bersenjata Sudan dan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) paramiliter di ibu kota Sudan, Khartoum, menewaskan sedikitnya tiga orang, Anadolu Agency melaporkan.

Tembakan dan bom terdengar di dekat markas tentara dan istana presiden, menurut seorang reporter Anadolu di Khartoum.

Dalam sebuah pernyataan, RSF menuduh tentara menyerang pasukannya di selatan Khartoum dengan senjata ringan dan berat. Pasukan paramiliter menyebut tindakan tentara sebagai “serangan brutal”, dengan mengatakan telah memberi tahu mediator lokal dan internasional tentang perkembangan tersebut.

RSF juga mengklaim, pasukannya telah menguasai bandara Khartoum, istana kepresidenan, kediaman panglima militer dan pangkalan militer Merowe di Sudan utara.

Baca Juga:  Menlu: Iran Tidak Akan Biarkan Israel Serang Lebanon

Berbicara kepada televisi Al Jazeera yang berbasis di Doha, Komandan RSF Mohamed Hamdan Dagalo menggambarkan panglima militer Jenderal Abdel Fattah al-Burhan sebagai penjahat dan korup yang membunuh rakyat Sudan, bersumpah untuk mengakhiri perang ini dalam beberapa hari mendatang.

Sementara itu, tentara Sudan menuduh para RSF berusaha menyerang pasukannya di selatan Khartoum.

“RSF pemberontak menyebarkan kebohongan tentang pasukan kami yang menyerang mereka, untuk menutupi perilaku pemberontakan mereka,” kata pernyataan itu, yang menyatakan pasukan paramiliter sebagai kelompok “pemberontak”.

Menurut saksi mata yang dikutip oleh Middle East Monitor, tentara Sudan melakukan serangan udara di pangkalan RSF di ibu kota Khartoum.

Saksi mata mengatakan pesawat tempur militer menyerang pangkalan RSF di lingkungan Riyahd dan Bahri di timur dan utara Khartoum.

Baca Juga:  Ratusan Warga Swiss Serukan Boikot Israel di Olimpiade 2024

Tentara Sudan juga membantah klaim RSF yang merebut situs utama di ibu kota, dengan mengatakan pasukannya telah menghadapi serangan RSF terhadap istana presiden, bandara Khartoum, dan kediaman al-Burhan.

Petugas medis setempat mengatakan tiga warga sipil tewas dalam bentrokan antara tentara dan pasukan RSF.

Dalam sebuah pernyataan, Komite Dokter Sudan mengatakan dua orang tewas dalam pertempuran di bandara Khartoum, sementara yang ketiga tewas di kota El-Obeid, selatan Khartoum.

Sembilan orang, termasuk seorang perwira militer, juga terluka dalam kekerasan tersebut.

Perselisihan antara tentara dan SRF muncul ke permukaan ketika militer mengatakan gerakan baru-baru ini oleh RSF telah terjadi tanpa koordinasi dan ilegal, dengan keretakan mereka berpusat pada usulan transisi ke pemerintahan sipil.

Baca Juga:  Memaknai Wukuf di Padang Arafah

Sudan tidak memiliki pemerintahan yang berfungsi sejak Oktober 2021 ketika militer membubarkan pemerintahan transisi Perdana Menteri Abdalla Hamdok dan mengumumkan keadaan darurat.

Desember lalu, pasukan militer dan politik Sudan menandatangani perjanjian kerangka kerja untuk menyelesaikan krisis selama berbulan-bulan.

Penandatanganan kesepakatan akhir dijadwalkan berlangsung pada 6 April, namun ditunda. Belum ada tanggal yang diumumkan untuk penandatanganan kesepakatan.

Masa transisi Sudan yang dimulai pada Agustus 2019 dijadwalkan berakhir dengan pemilu pada awal 2024. (T/RE1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)

Wartawan: sajadi

Editor: Ismet Rauf