BOKO HARAM NYATAKAN KESETIAAN KEPADA AL-BAGHDADI ISIL

Abu Bakar Shekau, pemimpin Boko Haram (Gambar: ARA News )
Abu Bakar Shekau, pemimpin Boko Haram (Gambar: ARA News )

Damaskus, 16 Ramadhan 1435/14 Juli 2014 (MINA) – Kelompok Islam bersenjata Nigeria Boko Haram mengumumkan setia kepada pemimpin kelompok sempalan Al-Qaeda, Negara Islam, yang sebelumnya dikenal sebagai Negara Islam di Irak dan Levant (ISIL), pimpinan Abu Bakr Al-Baghdadi.

Media yang berbasis di Suriah ARA News melaporkan, dalam sebuah pernyataan Ahad (13/7), Pemimpin Boko Haram, Abu Bakar Shekau, menyatakan dukungan kepada Negara Islam dan pemimpinnya adalah Abu Bakr Al-Baghdadi.

“Saudara-saudara saya (Al-Baghdadi ISIL, Zawahiri Al-Qaeda dan Mullah Omar Taliban), semoga Allah melindungi Anda,” kata Shekau dalam pesan yang difilmkan dan dipublikasikan secara online, ARA News yang dikutip MINA.

Dalam video itu, Shekau juga mengklaim bertanggungjawab atas ledakan bom 25 Juni di ibu kota Abuja dan sebuah serangan beberapa jam kemudian di Lagos, yang berusaha ditutupi oleh pihak berwenang setempat.

Shekau mengatakan dia yang menyuruh pelaku berangkat dan meledakkan bahan peledak yang dibawanya ke Lagos.

Militan Negara Islam telah memegang kendali beberapa daerah di Suriah, dan dominasi mereka menyebar secara dramatis baru-baru ini di beberapa wilayah Irak.

Sejak Al-Baghdadi memproklamirkan sebuah kekhalifahan, sejumlah tokoh Islam dari kalangan yang berpaham Sunni menolak pernyataan Negara Islam.

Abu Muhammad Al-Maqdisi, seorang pemimpin Salafi Yordania, menyebutnya kelompok yang mendeklarasikan kekhilafahan itu telah “menyimpang”. Sementara pan-Islam Hizbut Tahrir menolak klaim itu, dan menyebut sebagai “pidato kosong tanpa substansi”, Al Jazeera melaporkan.

Hizbut Tahrir mengatakan Negara Islam tidak memiliki “otoritas” nyata dalam menerapkan hukum Islam.

Ulama Islam terkemuka, Yusuf Al-Qaradawi, mengecam pengumuman Abu Bakr Al-Baghdadi sebagai khalifah yang dianggap melanggar syariat Islam.

Qaradawi mengatakan dalam sebuah pernyataan 5 Juli lalu, deklarasi itu “batal menurut syariah”.

“Deklarasi yang dikeluarkan oleh Negara Islam batal menurut syariah dan memiliki konsekuensi berbahaya bagi kaum Sunni di Irak dan oposisi di Suriah,” katanya. (T/P09/R2)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

 

Comments: 0