Cara Mengkalibrasi Arah Kiblat pada Rashdul Qiblah

Ustaz Najmu Izh-Harulhaq, Amir Pusat Observasi Falak (POF) Jama’ah Muslimin (Hizbullah).(Foto: Dok. Pribadi)

Oleh Ustaz Najmu Izh-Harulhaq, Amir Pusat Observasi Falak (POF) Jama’ah Muslimin (Hizbullah)

Setiap tahun dua kali terjadi peristiwa menarik yang diteliti oleh kalangan pegiat ilmu falak yang dikenal “Rashdul Qiblah“, yaitu artinya adalah meluruskan arah kiblat.

Dalam terminologi ilmu falak, Rashdul Qiblah adalah peristiwa saat matahari tepat berada tepat di atas Kabah. Posisi ini yang diraih matahari dalam siklus gerak tahunannya berkombinasi dengan sumbu gerakan rotasi bumi.

Rashdul Qiblah sendiri adalah momen ketika matahari persis berada di atas Kabah, yang mana ketika itu posisi matahari senilai lintang Kabah, yaitu 21º 25’ 21’’ Lintang Utara. Dalam kondisi ini, setiap benda berdiri tegak lurus, kebalikan bayangan yang dihasilkan adalah arah kiblat di lokasi itu.

Rashdul Qiblah umumnya terjadi pada perkiraan antara tanggal 27-28 Mei dan 15-16 Juli, hari senin besok tanggal 27 Mei 2024 merupakan cara dan metode ini sangat efektif digunakan untuk mengakurasi arah kiblat di berbagai tempat ketika tempat tersebut masih terlihat matahari sehingga menghasilkan bayangan.

Baca Juga:  Khutbah Jumat: Hubungan Masjidil Haram dengan Masjidil Aqsa

Penjelasan lebih lanjut, dalam siklus gerak tahunan matahari tersebut, maka kedudukan matahari berpindah-pindah secara teratur dari utara ke selatan dan sebaliknya. Siklus ini berlangsung di antara Garis Balik Utara (lintang 23,5º LU) dan Garis Balik Selatan (lintang 23,5º LS).

Matahari akan di posisi ini pada 20 atau 21 Juni menempati titik zenith Garis Balik Utara setiap tahunnya, sebaliknya akan menempati titik zenith Garis Balik Selatan pada 21 atau 22 Desember.

Siklus gerak tahunan matahari.(Foto: POF)

Maka pada gambar di atas menjelaskan bahwa Kabah pada posisi matahari senilai lintang Kabah, yaitu 21º 25’ 21’’ Lintang Utara, akan terlewati dua kali dalam setahun.

Pertama ketika Matahari bergerak ke utara dari garis ekuator yaitu pada tanggal 27-28 Mei, dan kedua ketika 20-21 Juli ketika balik dari titik zenith Garis Balik Utara menuju garis ekuator ke titik zenith Garis Balik Selatan.

Peristiwa Matahari berada di titik zenith sebetulnya fenomena yang biasa saja, namun yang membedakan dan menjadikan istimewa adalah peristiwa ini merupakan matahari berada di titik zenith Kabah, atau tepat di atas Kabah yang terjadi dua kali setahun dan lebih spesialnya lagi adalah fenomena ini adalah momen yang tepat bagi umat Islam dalam mengkalibrasi arah shalat secara akurat.

Baca Juga:  Menhan Prabowo Kunjungi MBS Bahas Isu Global dan Palestina

Lalu seperti apa cara mengkalibrasi arah kiblat selama fenomena ini berlangsung? Tidaklah sulit melakukan kalibrasi arah kiblat selama fenomena Rashdul Qiblah ini berlangsung.

Hal yang perlu dilakukan adalah kita harus mengetahui persis kapan puncak matahari tepat di atas Kabah. Pada Senin 27 Mei 2024 nanti, matahari tepat di atas Kabah pada pukul 12.18 waktu Makkah  Maka kita sesuaikan dengan Waktu Indonesia Barat (WIB) adalah 16.18 WIB dan waktu lainnya menyesuaikan dengan selisih waktunya.

Caranya sederhananya, yaitu setelah kita sesuaikan waktunya kemudian kita siapkan benda tegak lurus dan benda rata tidak bergelombang arah kiblat dengan arah bayang-bayang benda:

1) pastikan benda yang menjadi patokan harus benar-benar berdiri tegak lurus, bisa gunakan bandul sebagai alat bantu;

Baca Juga:  BRIN Jadi Tuan Rumah Pertemuan Antarpemerintah Se-Asia Pasifik

2) pastikan permukaan dasar datar dan rata, sehingga bayang-bayang benda tidak bergelombang. Maka kebalikan dari bayangannya benda tegak lurus itu adalah arah kiblat. Karena setiap bayangan tegak lurus pada saat fenomena ini menghadap kiblat.

Fenomena Rashdu Qiblah.(Sumber: POF)
Fenomena ini adalah salah satu dari fenomena alam yang memberikan manfaat bagi kehidupan kita sehari-hari, dalam dengan pengetahuan peristiwa ini diharapkan kita bisa lebih tertarik lagi melihat fenomena alam ini.

Walaupun fenomena Rashdul Qiblah ini tidak sepopuler fenomena lain seperti; pencarian hilal awal bulan hijriyah, fenomena gerhana matahari ataupun gerhana bulan. Semoga kita menjadi orang-orang yang bertafakur atas segala penciptaan yang Allah ciptakan. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Wartawan: Rana Setiawan

Editor: Rana Setiawan