Cek Kembali Niat Berkurban Agar Tak Sia-sia

Oleh: Sajadi, Wartawan Kantor Berita MINA

Alhamdulillah, bagi kita yang bisa melaksanakan ibadah kurban saat ini, meski di masa yang sulit karena pandemi virus corona atau Covid-19.

Pandemi memberikan efek domino sangat besar, berawal dari masalah kesehatan, hanya dalam waktu singkat merembet menjadi masalah ekonomi di seluruh dunia.

Beberapa lembaga internasional memprediksikan kerugian akibat Covid-19 mencapai hingga 347 miliar dolar AS atau sekitar Rp 4.962 triliun (ADB, 2021), bahkan diperkirakan angka ini akan terus meningkat jika virus ini tidak bisa dikendalikan dalam waktu dekat.

Begitu pula dengan dampaknya bagi perekonomian Indonesia. Secara nominal perekonomian nasional diperkirakan kehilangan kesempatan menciptakan nilai tambah atau mengalami kerugian kurang lebih Rp 1.356 triliun (Kemenkeu, 2021).

Dampak ekonomi yang ditimbulkan Covid-19 membuat jutaan orang kehilangan penghasilan dan pekerjaan, sehingga menyebabkan angka kemiskinan dan pengangguran meroket.

Data BPS mencatat, jumlah pengangguran pada Februari 2021 sebanyak 8,75 juta orang (6,26 persen). Bila dibandingkan dengan Februari 2020 yang 6,93 juta, jumlah ini meningkat 1,82 juta orang.

Keutamaan Berkurban

Walaupun dalam kondisi yang sedemikian rupa, tidak menyurutkan Muslimin untuk melaksanakan ibadah kurban. Karena Allah Subhanahu Wata’ala telah menjanjikan pahala dan keutamaan yang besar bagi hamba-Nya yang mau melaksanakan ibadah tersebut.

Salah satu keutamaan berkurban adalah meningkatkan ketaqwaan kepada Allah, sesuai yang tercantum dalam QS. Al Maidah ayat 27: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertaqwa.”

Melalui ayat tersebut, dapat dipahami bahwa keutamaan berkurban merupakan salah satu ibadah yang diterima Allah dari orang-orang yang bertaqwa.

Selain sebagai upaya untuk meningkatkan taqwa kepada Allah, salah satu keutamaan berkurban adalah meraih amal kebaikan yang berlimpah.

“Pada setiap lembar bulunya itu kita memperoleh satu kebaikan” (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

Bukan hanya itu, hewan-hewan yang telah disembelih saat kurban menjadi saksi di hari perhitungan amal bagi setiap hamba Allah yang melaksanakannya.

“Sasungguhnya pada hari kiamat ia akan datang dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya dan bulunya” (HR Ibnu Majah).

Berkurban di Masa Pandemi

Apalagi di era pandemi ini, yang bisa dikatakan sebagai masa-masa yang sulit, khususnya masalah ekonomi.

Dalam sebuah hadits riwayat diceritakan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah ditanya mengenai sedekah mana yang paling afdhol. Lalu beliau menjawab,

“Sedekah dari orang yang serba kekurangan.” (HR. An Nasai No. 2526)

Kemudian dalam hadits yang lain, Nabi Muhammad juga pernah bersabda mengenai sedekah saat susah. Beliau bersabda,

Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Satu dirham dapat mengungguli seratus ribu dirham“. Lalu ada yang bertanya, “Bagaimana itu bisa terjadi wahai Rasulullah?” Beliau jelaskan, “Ada seorang yang memiliki dua dirham lalu mengambil satu dirham untuk disedekahkan. Ada pula seseorang memiliki harta yang banyak sekali, lalu ia mengambil dari kantongnya seratus ribu dirham untuk disedekahkan.” (HR. An Nasai No. 2527)

Dari hadits di atas dijelaskan bahwa sedekah yang dikeluarkan seseorang saat ia kekurangan bisa mengungguli sedekah orang yang memiliki banyak harta.

Penjelasannya adalah bagi orang yang punya banyak harta pasti mudah bagi dia mengeluarkan banyak uang untuk disedekahkan.

Namun berbeda dengan orang yang kesulitan, ketika ia sampai rela mengorbankan setengah, atau bahkan seluruh hartanya untuk disedekahkan tentu saja pahalanya akan lebih besar.

Karena yang dinilai dari sedekah bukan hanya nominal, namun keikhlasan dan pengorbanannya.

Meluruskan Niat Berkurban

Namun janji pahala yang melimpah dan keutamaan berkurban dapat hilang seketika ketika tidak dibarengi dengan niat yang lurus.

Guru besar ilmu hadis Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, Prof Abdurrahman al-Barr, mengatakan atas dasar keistimewaan, berkurban tak sekadar menyembelih hewan lalu selesai dan gugur kesunatannya.

Lebih dari itu, di balik anjuran berkurban terdapat sejumlah etika yang penting dipenuhi. Itu agar kurban yang ditunaikan lebih bermakna dan tentunya potensial diterima oleh Allah.

Prof. Abdurrahman memaparkan dalam makalahnya yang berjudul “Al-Udhhiyah Fadhluha wa Ahkamuha”, poin pertama yang mutlak harus ditekankan oleh mereka yang hendak berkurban ialah meluruskan niat. Akibat inkonsistensi niat, pahala berkurban terancam sia-sia.

Motif utama berkurban seyogianya bukan perkara duniawi seperti menarik pujian atau simpati. Melainkan, sudah semestinya kurban yang ditunaikan murni ditujukan untuk-Nya.

Sebab, hakikat dan esensi berkurban ialah tercapainya ketakwaan dalam diri seseorang. “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. al-Hajj [22]: 37).

Namun sejatinya bukan hanya ibadah kurban saja yang niatnya harus dilurus, tapi semua ibadah bahkan setiap aktivitas yang kita lakukan, niatkan bismillah hanya karena Allah semata, wallahu a’lam.bishawab. (A/RE1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)