Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cuaca Ekstrem Kepung Italia, 25 Kota Berstatus Siaga

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Senin, 3 Agustus 2026 - 21:13 WIB

Senin, 3 Agustus 2026 - 21:13 WIB

34 Views ㅤ

Gelombang panas yang melanda Eropa (FOTO: news.sky.com)

Roma, MINA – Cuaca ekstrem kembali melanda Italia dengan gelombang panas yang mencapai puncaknya pada awal pekan ini. Pemerintah menetapkan status siaga merah di 25 kota setelah suhu udara di sejumlah wilayah diperkirakan menembus 40 derajat Celsius.

Kementerian Kesehatan Italia menyatakan jumlah kota berstatus siaga merah bertambah dari 23 menjadi 25 pada Senin (3/8).

Peringatan tertinggi tersebut berlaku di hampir seluruh kota besar, sementara hanya Reggio Calabria dan Messina yang masih berada pada tingkat siaga lebih rendah. Anadolu melaporkan.

Gelombang panas dipicu oleh masuknya massa udara panas dari Afrika Utara yang menyelimuti kawasan Mediterania. Kondisi itu diperparah oleh suhu permukaan Laut Mediterania yang lebih hangat dari biasanya, sehingga memperkuat intensitas cuaca panas di Italia.

Baca Juga: Hakim Prancis Selidiki Aduan Kejahatan Perang Tentara Israel di Lebanon

Selain suhu siang yang sangat tinggi, sejumlah wilayah juga mengalami fenomena malam tropis, ketika suhu tetap berada di atas 25 derajat Celsius.

Situasi ini meningkatkan risiko kesehatan, terutama bagi lansia, anak-anak, dan penderita penyakit kronis karena tubuh tidak mendapat waktu yang cukup untuk mendinginkan diri.

Di tengah gelombang panas, otoritas perlindungan sipil juga mengeluarkan peringatan terhadap potensi badai petir dan kebakaran hutan di beberapa wilayah.

Warga diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan pada siang hari, mencukupi kebutuhan cairan, serta mengikuti informasi resmi dari pemerintah setempat.

Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal

Gelombang panas yang berulang di Italia mencerminkan meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem di Eropa dalam beberapa tahun terakhir.

Perubahan iklim menjadi salah satu faktor yang memperbesar kemungkinan terjadinya suhu ekstrem, kekeringan, dan kebakaran hutan yang berdampak pada kesehatan, lingkungan, serta aktivitas ekonomi. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi

Rekomendasi untuk Anda

Internasional
Internasional
Internasional
Internasional
Internasional
Eropa