Dipo Alam Hadiahkan Lukisan Batik Shinzo Abe, Lambang Kerjasama RI-Jepang

Jakarta, MINA – Mantan Sekjen D-8, Dipo Alam, pada Kamis (29/9) secara simbolis menyerahkan lukisan Shinzo Abe kepada Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Kanasugi Kenji.

“Kami semua prihatin dan sedih atas tragedi yang dialami Shinzo Abe. Sebagai bentuk apresiasi, saya sengaja membuat lukisan Abe memakai batik Hokokai Jawa,” kata Dipo dalam keterangan tertulisnya yang diterima MINA.

“Karena saya salah satu pendiri dan pemangku kepentingan di Yayasan Batik Indonesia, dan batik Jawa Hokokai adalah gaya batik yang lahir karena pengaruh Jepang, saya sengaja melukis mendiang Shinzo Abe mengenakan batik Hokokai Jawa,” tambahnya.

Lukisan itu, kata Dipo, selain sebagai bentuk belasungkawa dan apresiasi kepada Abe, lukisan ini juga dimaksudkan untuk menandai hubungan baik antara Indonesia dan Jepang.

Pemerintah Jepang, kata Dipo, baru saja menggelar upacara pemakaman kenegaraan mendiang mantan Perdana Menteri Shinzo Abe pada Selasa, 27 September 2022.

Menurut Dipo yang menjabat sebagai Sekretaris Kabinet (2010-2014) pada Kabinet Indonesia Bersatu II, serah terima lukisannya itu dimaksudkan untuk menyampaikan belasungkawa atas berpulangnya mantan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe yang menjadi korban pembunuhan pada 8 Juli 2022, serta sebagai tanda penghargaan.

Hal ini juga merupakan rasa hormat atas kerjasama antara Indonesia dan Jepang yang telah berjalan dengan baik selama ini.

“Kebetulan lainnya tanggal 2 Oktober adalah Hari Batik Nasional. Jadi, saya juga ingin mengajak Pak Kanasugi untuk menghadiri perayaan Hari Batik Nasional,” jelasnya.

Menurut Dipo Alam, selama menjabat sebagai kepala pemerintahan, Shinzo Abe telah berhasil mewujudkan sejumlah kemitraan strategis di berbagai bidang antara Jepang dan Indonesia.

Hubungan bilateral kedua negara, kata Dipo, terutama menonjol di sektor infrastruktur, seperti terlihat pada pembangunan MRT Jakarta, pembangunan Pelabuhan Patimban, dan pembiayaan pembangunan terowongan ruas Padang-Pekanbaru.

Selain itu, kata Dipo, pada masa pemerintahan Abe, Indonesia dan Jepang juga telah menjalin kerja sama IJEPA (Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement).

Kerjasama ini difokuskan pada perluasan akses pasar untuk produk-produk potensial, seperti di sektor perikanan, industri, pertanian, dan kehutanan.

“Melalui Yayasan Batik Indonesia, saya ingin memperkuat kerjasama budaya antara Indonesia dan Jepang. Sejak saya masih mahasiswa, misalnya, Jepang sudah sangat maju dalam mengembangkan teknik pewarnaan alami untuk produk tekstil,” kata Dipo.

Ia ingin kemajuan itu dimanfaatkan oleh para perajin batik di Indonesia untuk mengembangkan batik warlami (pewarna alam), khususnya untuk motif batik Jawa Hokokai yang lahir karena pengaruh Jepang.

“Jika pengrajin batik kita bisa belajar di Jepang, misalnya untuk belajar teknik pewarnaan alami, tentu akan meningkatkan nilai tambah produk batik nasional. Apalagi batik warlami memiliki harga yang sangat mahal,” imbuhnya.

Lukisan Shinzo Abe mengenakan batik diselesaikan oleh Dipo Alam dalam waktu kurang lebih dua bulan, setelah ia mulai melukis pada Juli lalu.

“Ketika saya pertama kali diberitahu tentang kasus kematian Abe, saya sedang menyelesaikan lukisan di batik Jawa Hokokai. Sejak saat itu, saya langsung berpikir bahwa saya harus melukis Abe dengan memakai batik, seperti lukisan saya dari para pemimpin dunia lainnya, yang semuanya dilukis memakai batik,” katanya. (R/R6/RS3)

Mi’raj News Agency (MINA)