Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dokter Bedah AS: Pasien Palestina di Gaza Meninggal karena Kurang Pasokan Medis

Rudi Hendrik Editor : Ali Farkhan Tsani - 2 menit yang lalu

2 menit yang lalu

0 Views

Dr. Mark Perlmutter (kanan) bekerja di RS Al-Aqsa dan RS Nasser di Jalur Gaza. (Gambar: Democracy Now)

Gaza, MINA – Seorang dokter bedah Amerika yang bekerja di Gaza menggambarkan kondisi mengerikan di rumah sakit, dengan mengatakan bahwa pasien Palestina meninggal karena kurangnya pasokan dan peralatan medis.

Dilansir dari Arab News, Senin (31/3), Dr. Mark Perlmutter, yang menghabiskan tiga pekan merawat pasien di Rumah Sakit Al-Aqsa dan Nasser, mengatakan kepada BBC bahwa para dokter bekerja tanpa sabun, antibiotik, atau fasilitas sinar-X.

“Rumah sakit komunitas kecil, Al-Aqsa, berukuran sepersepuluh dari semua fasilitas di negara bagian asal saya — mungkin lebih kecil — dan berhasil menangani cedera yang mengerikan itu dengan baik,” katanya kepada penyiar tersebut setelah perjalanan keduanya ke daerah kantong Palestina tersebut.

“Meskipun demikian, karena kurangnya peralatan, banyak sekali pasien yang meninggal, yang tentu saja tidak akan meninggal di rumah sakit yang peralatannya lebih baik.”

Baca Juga: Israel Bombardir Gaza Saat Idul Fitri, 32 Orang Syahid Termasuk Anak-anak

Ia menggambarkan bagaimana ia merawat anak-anak yang terluka parah, termasuk seorang gadis berusia 15 tahun yang terkena tembakan senapan mesin Israel saat mengendarai sepedanya, dan seorang anak laki-laki, seusianya, yang berada di dalam mobil bersama neneknya setelah menerima peringatan untuk mengungsi dari utara.

“Keduanya terluka parah dan tercabik-cabik oleh helikopter tempur Apache,” kata Perlmutter. “Gadis itu akan beruntung jika ia bisa menyelamatkan tiga anggota tubuhnya.”

Perlmutter berada di dalam Rumah Sakit Nasser ketika serangan udara Israel menargetkan kepala keuangan Hamas Ismail Barhoum.

Ia mengatakan, Barhoum sedang menerima perawatan medis dan memiliki hak atas perlindungan berdasarkan Konvensi Jenewa. Militer Israel mengatakan, ia berada di rumah sakit “untuk melakukan tindakan terorisme.”

Baca Juga: Hari Tanah: Rakyat Palestina Tegaskan Hubungannya dengan Tanah Airnya

Dengan sebagian besar rumah sakit di Gaza yang hampir tidak berfungsi, Perlmutter memuji komitmen dan dedikasi staf medis Palestina, yang menurutnya melampaui upaya dokter asing seperti dirinya.

“Mereka semua menelantarkan keluarga mereka, menjadi relawan dan sering bekerja tanpa bayaran. Kami bisa pulang dalam sebulan, tetapi mereka tidak,” katanya.

Kepala kemanusiaan PBB, Tom Fletcher, menyebut situasi di Gaza “mengerikan,” dan ia mencatat bahwa bantuan kemanusiaan masih terblokir di titik-titik penyeberangan perbatasan.

Serangan Israel telah menewaskan lebih dari 15.000 anak Palestina di Gaza, kata Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas, seraya menambahkan bahwa sejak Israel melanggar gencatan senjata dan melanjutkan serangannya pada 18 Maret, 921 warga Palestina telah syahid.

Baca Juga: Idul Fitri di Kamp Palestina di Lebanon, Kegembiraan Bercampur Kecemasan

Perlmutter memperingatkan bahwa jika serangan Israel berlanjut, rumah sakit yang beroperasi tanpa pasokan medis yang mendesak akan melihat lebih banyak warga Palestina yang terluka meninggal karena luka-luka yang tidak dapat diobati. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Awal Idul Fitri, Zionis Lanjutkan Serangannya ke Gaza

Rekomendasi untuk Anda