KETIKA hutan digunduli, sungai dicemari, dan gunung diledakkan, sebenarnya yang terluka bukan hanya alam—tetapi martabat bangsa. Allah telah memperingatkan, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia.” (QS Ar-Rum: 41). Ayat ini bukan teori, tetapi peringatan nyata bahwa kerusakan adalah tanda kezaliman kolektif. Diam terhadap kezaliman ekologis sama saja menyetujui kehancuran itu.
Para ulama salaf menegaskan bahwa siapa pun yang mampu mencegah kemungkaran namun memilih diam, maka ia turut memikul dosa. Ibn Taimiyah berkata, “Barangsiapa diam terhadap kemungkaran padahal ia mampu, maka ia adalah setan bisu.” Ini mencambuk kita bahwa perusakan lingkungan bukan hanya kriminalitas, tetapi kemunkaran besar. Membiarkannya berarti menyetujui kehancuran masa depan anak cucu.
Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangan…” (HR. Muslim). Perusakan alam adalah kemungkaran yang menimbulkan banjir, longsor, kemiskinan, dan kelaparan. Namun banyak yang hanya menonton, seakan bencana hanyalah takdir, bukan akibat dari ulah manusia. Inilah tragedi terbesar: bangsa yang terbiasa memaafkan kejahatan ekologis.
Ulama seperti Imam Ghazali menulis bahwa kerusakan yang dibiarkan penguasa dan rakyatnya adalah tanda runtuhnya akhlak negara. Hutan yang hilang bukan sekadar batang pohon, tetapi hilangnya amanah. Allah memuji hamba-Nya yang menjaga bumi sebagai khalifah, bukan perusak. Maka ketika amanah ini diabaikan, murka Allah menanti dalam bentuk bencana yang beruntun.
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
Para ahli lingkungan dunia juga menegaskan bahwa hilangnya hutan berarti hilangnya penyangga kehidupan. Indonesia kehilangan jutaan hektare hutan akibat kerakusan segelintir elit, namun rakyat banyak diam seperti kehilangan rasa peduli. Padahal udara yang kita hirup, air yang kita minum, dan tanah tempat kita berpijak adalah amanah bersama. Ketika amanah rusak, kehidupan ikut hancur.
Dalam hadis sahih, Nabi SAW melarang menebang pohon tanpa alasan yang benar, bahkan dalam keadaan perang sekalipun. Ulama salaf memandang pohon sebagai nikmat yang wajib dijaga, bukan barang dagangan untuk kepentingan pribadi. Maka jika pohon dalam perang saja harus dilindungi, bagaimana mungkin dalam keadaan damai kita merelakan pembantaian hutan tanpa batas? Ini bukan hanya dosa ekologis, tapi penghianatan kepada sunnah Rasul.
Kerusakan alam yang terjadi hari ini bukanlah bencana alam—tetapi bencana moral. Ratusan ribu hektare hutan berganti sawit, tambang, dan perkebunan korporasi raksasa yang tidak memikirkan keberlanjutan. Dan masyarakat sekitar hanya bisa mengeluh tanpa daya, sementara negara kadang tutup mata. Diamnya kita ikut memperbesar luka bumi.
Allah berfirman, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS Al-A’raf: 56). Ayat ini menegaskan bahwa bumi diciptakan dalam keadaan seimbang, namun manusia merusak keseimbangan itu demi fulus. Ketika hutan diratakan, banjir bandang datang, dan kita menyebutnya musibah. Padahal itu adalah teguran keras karena kita merusak tatanan Allah.
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Para pakar geologi mengungkap bahwa longsor dan banjir besar hampir selalu terjadi di wilayah yang hutannya ditebang atau gunungnya dikeruk. Data ilmiah ini menjadi saksi bahwa alam tidak pernah berdusta. Yang berdusta adalah manusia yang pura-pura tidak tahu bahwa kerusakan ini disengaja demi keuntungan. Diam terhadap fakta ilmiah adalah aib intelektual sebuah bangsa.
Ulama salaf mengajarkan bahwa menjaga bumi termasuk bagian dari syukur nikmat. Ibn Qayyim berkata, “Kerusakan terjadi ketika manusia tidak lagi bersyukur dan melampaui batas.” Ketika alam diperlakukan seperti objek ekonomi semata, maka itu adalah puncak ketidaksyukuran. Dan ketidaksyukuran selalu berakhir dengan pencabutan nikmat.
Anak cucu kita kelak akan bertanya: siapa yang membiarkan sungai kotor, udara beracun, dan tanah hancur? Jawabannya: kita semua, jika hari ini kita memilih diam. Diam adalah bentuk pengkhianatan paling sunyi namun paling menyakitkan. Bangsa yang diam saat alam dijarah sedang menyiapkan kuburan masa depan generasinya.
Sementara itu, banyak dai, cendekiawan, dan ulama telah berteriak tentang pentingnya menjaga lingkungan—namun suara mereka tenggelam oleh hiruk pikuk politik dan ekonomi. Dakwah cinta bumi dianggap tema sampingan, padahal itu adalah inti amanah kekhalifahan manusia. Kalau ulama saja tidak didengar, apalagi rakyat kecil yang hanya menjadi korban setiap bencana. Maka bangkitnya kepedulian ekologis adalah kewajiban iman, bukan gaya hidup.
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
Kini bangsa ini harus memilih: tetap diam dan membiarkan alam habis, atau bangkit sebagai generasi yang menjaga bumi demi Allah. Perubahan tidak dimulai dari undang-undang, tetapi dari kesadaran kolektif bahwa menjaga alam adalah ibadah. Setiap langkah kecil melindungi bumi adalah sedekah jariyah yang pahalanya mengalir tanpa putus. Dan setiap diam terhadap kezaliman ekologis adalah dosa kolektif yang kelak akan ditagihkan oleh Allah di hari pembalasan.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
















Mina Indonesia
Mina Arabic