Dr. Ahmad Abdul Malik: Menulis Kreatif Sebarkan Ajaran Islam

Al-Muhajirun, MINA – Menulis kreatif dalam Islam adalah untuk menyebarkan ajaran Islam, pengalaman dan pengetahuan kita kepada orang lain bukan hanya hiburan atau penunjukkan kelebihan. Demikian dikatakan Dosen Universitas Sains Islam Malaysia (USIM) Dr. Ahmad Abdul Malik.

Hal itu ia sampaikan dalam acara Workshop Creative Writing yang diseleggarakan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Shuffah Al-Qur’an Abdullah bin Mas’ud (STISQABM) di Komplek Ponpes Shuffah Hizbullah dan Madrasah Al-Fatah Al-Muhajirun, Negararatu, Natar, Lampung Selatan, Ahad (5/9) .

Dalam Workshop tersebut, Abdul Malik menjelaskan, menulis kreatif dalam perspektif Keislaman itu punya tujuan yang luas karena ada kaitannya dengan akhirat, yaitu keridhaan Allah dan surga.

“Devinisi menulis kreatif yaitu tulisan yang menarik bukan akademik, kalo tidak menarik ini bukan kreatif dan menulis merupakan hasil pikirannya dan isi hatinya sendiri, beda dengan sebuah berita,” jelasnya.

“Bagi umat Islam menulis kreatif ini sangat mudah karena dapat menggabungkan antara yang umum dengan agama, dan itu merupakan sesuatu yang sudah kreatif. Dan tentu saja menulis kreatif itu sangat luas, seperti menulis syair, novel, lagu, film,” katanya.

Menurutnya, menulis kreatif dengan berpikir kreatif terdapat sesuatu yang saling berhubungan, di mana menulis kreatif sangat memerlukan berpikir kreatif karena ada pepatah yang menyebutkan, “berpikir sebelum bertindak”.

Abdul Malik juga memaparkan, ada lima hal motivasi dalam proses menulis kreatif yaitu pertama, Addahsyah yaitu mengagungkan sesuatu yang agung yaitu memikirkan keagungan ciptaan Allah bagaimana bisa terjadi.

Kedua, kita harus selalu menimbulkan pertanyaan dan harus mencari jawaban dan solusinya, dengan begitu pikiran akan berkembang.

Ketiga, banyak membaca, bagi umat Islam bisa memulai dengan membaca Al-Qur’an dan Hadits.

Keempat, kita sangat memerlukan Asy-Syak (keraguan), jadi kita tidak mudah menerima dan mengamalkan sesuatu ilmu dari ulama siapapun sebelum kita mencari kebenarannya. Ada dua jenis keraguan yaitu keraguan yang bersifat keilmuan dibolehkan, sedangkan keraguan yang tidak bersifat ilmu tidak dibolehkan.

Kelima, kita sangat perlu menjalin hubungan baik dengan orang lain dan berusaha untuk mencari berbagai jenis informasi agar kita berwawasan luas.

Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an merupakan sumber menulis kreatif dalam sejarah agama Islam sejak 1.300 tahun yang lalu.

“Dalam proses penulisan Al-Qur’an di zaman Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam, seseorang dalam menulis selalu memelihara aturan Islam, karena kita akan bertanggung jawab apa yang kita tulis,” ungkapnya.

Terdapat tiga aturan menulis kreatif menurut pandangan Islam, pertama, berpikir dengan baik apa yang akan ditulis.

“Berfikir bahwa apa yang akan kita tulis adalah sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain dan diridhai oleh Allah,” katanya.

Kedua, gunakan imajinasi sendiri jangan mengambil tulisan orang lain. Ketiga, berhati-hatilah dalam menulis karena kita punya penjaga yaitu Allah.

“Jika yang baik kamu tulis, maka ditulis pula yang baik, begitu juga sebaliknya sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Infithar ayat 1-12,” jelasnya.

Ia menyimpulkan, menulis kreatif itu dapat menjelaskan dan memperkenalkan seseorang kepada orang lain dalam pikiran dan isi hatinya, dan manfaatnya adalah bisa membantu orang lain untuk belajar agar cepat berkembang.

“Jadi, menulis kreatif ini adalah cara kita untuk menyebarkan ajaran Islam melalui cara yang menarik dan dapat diterima oleh orang muslim dan non-muslim,” tutupnya.

Workshop yang diselenggarakan secara Hybrid (Daring dan Luring) tersebut selain Dr. Ahmad Abdul Malik sebagai pematerinya, STISQABM juga menghadirkan Direktur Pemberitaan LKBN ANTARA, Aat Surya Safaat. (L/Fit/R12/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA).