Drakor Squid Game, antara Permainan dan Kekerasan

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Wartawan MINA (Mi’raj News Agency) 

Drama Korea (drakor) Squid Game (Permainan Cumi-Cumi) sedang viral, dengan debut terbesar Netflix yang mencapai 111 juta pemirsa di seluruh dunia.

Tayangan ini kurang dari satu bulan dalam bulan September, telah menduduki puncak tangga layanan streaming di lebih dari 80 negara, mengalahkan permainan sebelumnya, Bridgerton

Viral Squid Game memperkuat pengaruh Korea Selatan yang semakin besar pada budaya populer global, mengikuti band K-pop seperti BTS dan film pemenang Oscar Parasite.

Serial ini dinamai Squid Game (Permainan Cumi-Cumi), diambil dari sebuah permainan anak-anak tradisional Korea, di mana pemain mencoba mendorong satu sama lain di luar area yang berbentuk seperti cumi-cumi.

Bersumber dari permainan anak-anak sejatinya tidak menjadi masalah. Malah dapat memperkaya jenis permainan anak-anak, yang identik dengan lepas tawa, bergerak, seru, dan meraih kemenangan.

Layaknya juga seperti permainan anak-anak di beberapa daerah di Indonesia, seperti gobak sodor, petak umpet, lompat tali karet, engklek, kucing-kucingan, dsb.

Namun yang menjadi permasalahan adalah manakala permainan itu dibuat dalam tayangan film singkat dengan tampilan kekerasan tanpa kompromi.

Itulah yang terdapat di dalam Squid Game, yang memadukan plot yang ketat, alegori sosial fenomena budaya Korea Selatan, dalam kompetisi ekstrem dengan nyawa yang dipertaruhkan jika tersisih.

Permainan Mematikan

Dalam Squid Game, sekelompok orang yang berjumlah 456 peserta, merupakan warga yang secara finansial saling bersaing untuk mendapatkan hadiah uang tunai dengan berpartisipasi dalam tantangan di sebuah pulau misterius.

Permainan yang sebelumnya berupa dolanan tradisional anak-anak Korea, dengan salah satu episode ”Lampu Merah dan Lampu Hijau”. Pemain berjalan, berlari, melintasi area berpasir. Kemudian tiba-tiba harus berhenti dan diam di tempat setiap kali boneka seram raksasa menyuruh mereka berhenti.

Ada juga jenis tarik tambang, permainan kelereng, permen sarang lebah, dan VIP.

Terdengar menyenangkan. Namun tragisnya, mereka yang kalah, harus tersisih dan menerima akibatnya, yaitu ditembak mati dengan senapan mesin oleh panitia.

Ada adegan seorang peserta ditembak di bagian otak kepalanya, meninggalkan jejak berdarah.

Memang ini sepenuhnya fiksi dan dibawa ke layar kaca oleh penulis dan sutradara Hwang Dong Hyuk.

Tentu tak bisa dibayangkan, bagaimana ratusan juta pemirsa yang terobsesi lewat media sosial, sebagiannya tentu ada anak-anak, menjadi pemirsa film tersebut?

Sungguh dunia yang mengerikan di mana orang-orang yang terpinggirkan diadu satu sama lain dalam episode permainan anak-anak tradisional. Pemenang bisa mendapatkan ratusan juta uang tunai, sementara pemain yang kalah harus dieksekusi mati. Bahkan di luar arena permainan, organ-organ tubuh peserta yang mati, diambil oleh dokter peserta yang bekerjasama dengan panitia, untuk dijual keluar.

Tinjauan Psikologi Anak

 Menanggapi viral film Squid Game, Psikolog terkemuka dari Wistar Institute Philadelphia, AS, Dr. Abdel Mohsen Daghim mengatakan, dalam segala bentuknya, film kekerasan dapat menciptakan motivasi yang kuat bagi pemirsanya untuk bertindak kekerasan terhadap orang lain.

“Bahkan mungkin mengandalkan rencana berbahaya yang telah dia saksikan,” ujar Dr. Mohsen Daghim, ilmuwan asal Mesir, seperti dirilis Sky News Arabia, Rabu (13/10/2021).

Ia menjelaskan, misalnya, dua anak dapat menonton karya dramatis yang sama, yang mencakup sejumlah adegan dan ide kekerasan, tetapi dengan efek yang berbeda. Jika anak pertama pernah mengalami kekerasan dan intimidasi, adegan itu akan menyakitkan baginya. Anak lainnya dapat memiliki niat untuk melakukan kekerasan dalam berbagai cara.

“Padahal drama kekerasan pada umumnya lebih menarik bagi anak-anak dan remaja daripada kelompok usia yang lebih tua. Itu karena memungkinkan anak-anak untuk memainkan peran heroik di lapangan,” ujarnya.

“Kelompok usia yang lebih tua juga dapat terpengaruh oleh karya-karya seperti ini, tetapi pada tingkat yang lebih rendah. Secara umum, tidak dapat dikatakan bahwa ada satu efek pada kelompok usia tertentu sebagai akibat dari menonton drama tertentu. Reaksinya akan bervariasi sesuai dengan jenis karakter yang berbeda,” lanjutnya.

Ia mencatat, film Korea Squid Game mencakup sejumlah permainan psikologis, seperti keputusan untuk meninggalkan permainan secara kolektif. Sehingga pemain tidak dapat menarik diri dari permainan secara individual. Setiap pemain juga dapat membunuh pemain lain pada jam tidur, untuk mengurangi jumlah pemain yang berpartisipasi dalam kompetisi.

Sementara, kontes ini diperlihatkan di depan mata segelintir orang kaya yang senang menyaksikan para pemegang utang bersaing sampai mati untuk mendapatkan hadiah uang banyak yang mengubah hidup.

Awasi Anak-Anak

Menangkal dampak negatif tayangan itu, yang sudah menjalar ke Eropa, Amerika, hingga Timur Tengah, Sekolah Dasar Meanwood di Rochdale, Greater Manchester, Inggris, melarang murid-muridnya menonton serial hit Korea ultra-kekerasan Squid Game.

Pihak sekolah mendesak orang tua untuk mengubah pengaturan Netflix mereka setelah mengetahui anak-anak menonton acara baru tersebut. Demikian dilaporkan Manchester Evening News , Rabu (13/10/2021).

Sekolah tersebut mengeluarkan panduan kepada orang tua tentang cara mengubah pengaturan Netflix mereka untuk mencegah anak-anak menonton game yang sangat tidak pantas, dengan sejumlah permainan mengerikan untuk mendapatkan hadiah uang tunai besar.

Dalam postingan di akun  facebook, pengurus sekolah mengatakan, “Sejumlah murid-muridnya menyebutkan bahwa mereka telah menonton Squid Games di Netflix”.

“Program baru ini sangat tidak pantas ditonton anak-anak dan mengandung adegan kekerasan,“ alasan pihak sekolah.

“Kami lampirkan poster untuk menjelaskan cara mengubah pengaturan Anda di Netflix agar anak-anak tidak menonton konten yang tidak pantas untuk usia mereka. Silakan bagikan dan bantu kami untuk menjaga keamanan anak-anak Anda,” bunyi pengumuman untuk para orang tua murid.

“Kami juga telah diberitahu bahwa ada Squid Games versi Roblox di YouTube dan ini juga tidak pantas untuk anak-anak usia sekolah dasar,” lanjutnya.

“Tolong pantau aktivitas online anak-anak di rumah untuk membantu menjaga mereka tetap aman, ujar pengumuman”

Sejumlah sekolah di Inggris Selatan juga memperingatkan orang tua untuk tidak membiarkan anak-anak mereka menonton Squid Game, setelah melihat anak-anak ingin memainkan permainan serupa di taman bermain.

Mengomentari viral Squid Game, John Jolly, CEO Parentkind, jaringan amal penggalangan dana PTA di Inggris, mengatakan, “Ada kekhawatiran tentang perlindungan anak, terutama di bawah usia 15 tahun menonton pertunjukan itu di rumah. Orang tua perlu melakukan penilaian apakah itu cocok untuk anak mereka”.

“Mereka harus menggunakan pengawasan orang tua untuk memutuskan, seperti yang seharusnya mereka lakukan ketika datang ke hiburan apa pun yang berisi tema dewasa yang ingin dilihat anak mereka. Di sini ada kekhawatiran khusus. Karena itu, kami mendorong sekolah untuk bekerja sama dengan orang tua,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Ini akan meningkatkan kesadaran orang tua tentang masalah ini dan memastikan bahwa orang tua dapat memperkuat nilai-nilai sekolah di rumah”.

Pendampingan Edukasi

Memang tidak serta merta pelarangan mutlak main games dan gadget anak-anak pada jaman digital saat ini. Ada mungkin beberapa manfaatnya, seperti untuk menggali informasi, menambah ilmu pengetahuan, dan bermedia bersosial positif.

Bukan hanya Squid Game, era TikTok, sangat memerlukan pendampingan edukatif dari orang dewasa, terutama orang tua dan guru. Terlebih dalam film itu tidak dicantumkan peringatan usia penonton.

Memang sebagian analis film memberikan penilaian instrinsik seperti pesan agar jangan terbuai rayuan ingin mendapatkan uang banyak dengan cara cepat melalui kompetisi mematikan. Namun permainan dengan saling mengorbankan sesama orang yang terjerat utang, dengan sesama kawan, bahkan terhadap seorang kakek lemah. Itu tak mendidik dalam pendidikan anak.

Jika melihat waktu, itupun bisa dikategorikan memubadzirkan waktu saja untuk sesuatu permainan nyang mengandung kekerasan. Termasuk juga kategori “lagha” atau sia-sia, karena tidak banyak mendapatkan kebaikan dari tontonan itu selain ‘permainan kematian’, ‘kepuasan melihat tertembaknya lawan yang tersisih’ dan ‘saling menjatuhkan kawan dan lawan dalam satu kompetisi mengejar gelimang uang’.

Alangkah berkualitas jika kegiatan anak, terutama anak-anak Muslim, jika diarahkan menyimak tontonan yang lebih bermanfaat seperti perjalanan sejarah bangsa, Sirah Nabawiyah, para pejuang Islam dan kemerdekaan, spiritual journey, tausiyah dan murottal, serta tontonan edukasi lainnya. Memang terkesan monoton dan dianggap membosankan bagi anak.

Menjadi tantangan juga bagi animator muda Indonesia untuk membuat teman-tema mendidik berbasis permainan anak daerah, yang lebih mencerahkan, menginspirasi dan memberdayakan.

Untuk mencetak generasi emas mendatang, ya harus demikianlah polanya, mendidik dan mengarahkan. Bukan sekedar bermain yang melalaikan, malah berdampak negatif. (A/RS2/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)