Dukung Pemulihan Ekonomi, Kemlu RI Garap Pasar Eropa Tengah dan Timur

Jakarta, Indonesia – Dalam menyambut geliat perekonomian pasca pandemi, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menggarap pasar potensial bagi Indonesia di kawasan Eropa Tengah dan Timur melalui pelaksanaan Forum Bisnis INACEE pada Kamis (7/10).

Forum yang bertemakan “Doing Business with Indonesia: Asia’s Economic Power House” itu diselenggarakan secara daring dihadiri para pelaku usaha dari Indonesia dan 20 negara Eropa Tengah dan Timur.

Dua puluh negara di kawasan tersebut adalah Albania, Armenia, Belarus, Bosnia & Herzegovina, Bulgaria, Ceko, Georgia, Hongaria, Kroasia, Makedonia Utara, Moldova, Montenegro, Polandia, Romania, Rusia, Serbia, Slowakia, Slovenia, Turki, dan Ukraina.

Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi dalam sambutannya mengatakan, Forum Bisnis INACEE sangat penting untuk merevitalisasi hubungan perdagangan dan investasi serta meningkatkan kerjasama ekonomi antara Indonesia dan negara-negara CEE.

“Saat kami berusaha untuk memulihkan pandemi dengan lebih kuat, satu hal yang pasti, pendekatan bisnis seperti biasa tidak akan mempan,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kemlu RI, Ngurah Swajaya menyampaikan, Forum Bisnis INACEE yang pertama ini akan menjadi jembatan bisnis antara Indonesia dan 20 negara kawasan Eropa Tengah dan Timur yang memiliki potensi bidang perdagangan, investasi, dan pariwisata.

“Kami mengundang para pelaku usaha Indonesia, termasuk sektor UMKM untuk ikut serta pada INACEE Business Forum ini”, demikian ujar Ngurah Swajaya.

Sejumlah kesepakatan kerja sama bisnis antara perusahaan Indonesia dengan mitranya dari kawasan Eropa Tengah dan Timur ditandatangani pada forum tersebut.

Menurut Ngurah Swajaya, kerja sama perdagangan Indonesia dengan 20 negara di kawasan Eropa Tengah dan Timur cenderung meningkat tahun 2021.

Dibandingkan periode yang sama tahun 2021, pada periode Januari-Juli 2021 nilai perdagangan Indonesia dengan 20 negara di kawasan Eropa Tengah dan Timur mengalami kenaikan sebesar 25 persen, menjadi USD 4,3 miliar, dengan surplus perdagangan bagi Indonesia.

Hal tersebut tidak hanya menjadi potensi pasar bagi Indonesia, namun juga sumber investasi ke Indonesia. (L/RE1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)