MUNGKIN masih banyak kaum emak-emak yang dilanda keraguan ketika sedang memasak menu untuk berbuka puasa. Kondisi berpuasa menjadi penghalang utama untuk menakar kelezatan makanan yang sedang dimasak. Tidak jarang harus meminjam lidah anggota keluarga yang sedang tidak berpuasa.
Lalu bagaimana hukum sebenarnya dalam hal mencicipi makanan di saat sedang berpuasa?
Seorang sahabat ternama dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang bergelar Habrul Ummah (Ulama Umat), Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, mengatakan tentang hal ini.
Ibnu Abbas mengatakan,
Baca Juga: Perempuan Tadarus Al-Qur’an Pakai Speaker, Apakah Boleh?
لاَ بَأْسَ أَنْ يَذُوْقَ الخَلَّ أَوْ الشَّيْءَ مَا لَمْ يَدْخُلْ حَلْقَهُ وَهُوَ صَائِمٌ
“Tidak mengapa seseorang yang sedang berpuasa mencicipi cuka atau sesuatu, selama tidak masuk sampai ke kerongkongan.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf no. 9277)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pun mengatakan, “Mencicipi makanan terlarang bagi orang yang tidak memiliki hajat, akan tetapi hal ini tidak membatalkan puasanya. Adapun untuk orang yang memiliki hajat, maka hukumnya seperti berkumur-kumur.” (Majmu’ Fatawa, 25/266-267, Maktabah Syamilah)
Yang termasuk dalam mencicipi adalah mengunyah makanan untuk suatu kebutuhan.
Abdur Rozaq dalam mushonnaf-nya membawakan Bab ‘Seorang wanita mengunyah makanan untuk anaknya sedangkan dia dalam keadaan berpuasa dan dia mencicipi sesuatu darinya’.
Baca Juga: Awas Jangan Salah Beli! Kenali 6 Ciri Kurma Israel
Abdur Rozaq membawakan beberapa riwayat di antaranya dari Yunus dari Al Hasan,
رَأَيْتُهُ يَمْضَغُ لِلصَّبِي طَعَامًا وَهُوَ صَائِمٌ يَمْضَغُهُ ثُمَّ يُخْرِجُهُ مِنْ فِيْهِ يَضَعَهُ فِي فَمِ الصَّبِي
“Aku melihat beliau mengunyah makanan untuk anak kecil –sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa-. Beliau mengunyah kemudian beliau mengeluarkan hasil kunyahannya tersebut dari mulutnya, lalu diberikan pada mulut anak kecil tersebut.”
Ulama besar penulis kitab fikih dasar yang menjadi rujukan banyak pesantren di Indonesia, Syekh Salim bin Sumair Al-Hadrami menulis dalam kitab Safinatun Najah.
“Yang tidak membatalkan puasa di antara yang masuk ke dalam rongga perut ada tujuh poin. (Pertama, kedua, dan ketiga) sesuatu yang masuk ke dalam perut orang yang berpuasa karena lupa, tidak tahu, dan dipaksa; (keempat) sesuatu yang masuk perutnya berupa aliran air liur bersamaan dengan sesuatu yang ada di antara sela-sela gigi, sementara ia tidak mampu memisahkannya di antara antara liur tersebut karena sulit.” (Lihat: Salim bin Sumair, Matan Safinatun Najah, Cetakan Darul Ihya, halaman 114).
Baca Juga: Ramadhan bagi Ibu Menyusui, Sebaiknya Puasa atau Tidak?
Dengan pengetahuan dari sahabat Rasulullan dan para ulama yang menjadi rujukan di kalangan ulama, tentunya kau emak-emak tidak perlu lagi untuk mencicipi rasa masakan yang sedang dibuat untuk menu berbuka puasa. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Bolehkah Menolak Lamaran Lelaki Saleh?
















Mina Indonesia
Mina Arabic