Empat Tahun Sudah Anak-Anak Hamadeh Melalui Ramadhan Tanpa Ibu

Fadwa Hamadeh (kiri) muncul di pengadilan Israel. (WAFA)

Sudah hampir empat tahun, keluarga Munther Hamadeh di lingkungan Sur Baher di Yerusalem yang diduduki, tidak lagi lengkap berkumpul di meja buka puasa Ramadhan, setelah pendudukan Israel menangkap istrinya Fadwa dan memenjarakannya. Mengubah kehidupan keluarga itu.

Fadwa, 34 tahun, adalah seorang wanita aktivis perlawanan Palestina terhadap pendudukan Israel. Lulusan universitas prodi manajemen dan akutansi perhotelan.

Pasangan ini menikah pada tahun 2009. Pada 12 Agustus 2017, dimulai kisah penahanan ibu itu. Meninggalkan anak-anaknya, yakni Hamada, Sadeen, Mohammad, Ahmad dan Mariam, bersama dengan ayah mereka Munther.

Sebuah kisah yang akan berlanjut selama sepuluh tahun ke depan. Hamadeh masih harus menjalani  masa tahanannya selama 10 tahun lagi di penjara Israel.

Munther mengatakan, hidup mereka terbalik setelah istrinya ditangkap. Saat itu anak bungsu putrinya berusia empat bulan, sedangkan yang tertua adalah putranya Hamada yang saat itu berusia delapan tahun. Tanda-tanda kegembiraan dan suasana bahagia yang menyatukan keluarga telah lenyap, sedangkan kesedihan dan kegelisahan justru terus ada.

Dengan rasa pahit ia berbicara kepada WAFA tentang kenangan bulan suci Ramadhan bersama sang istri. “Dia biasa menyiapkan makanan dan manisan terlezat, menghiasi meja buka puasa Ramadhan dengan hidangan terlezat. Setelah itu, kami biasa pergi ke Masjid Al-Aqsa untuk shalat tarawih bersama anak-anak,” ujarnya.

Namun, semua peristiwa ini lenyap dengan penangkapan istrinya.

Sang suami menunjukkan bahwa istrinya telah menjadi sasaran pelecehan psikologis, termasuk kurungan isolasi, di dalam penjara Israel. Selama tahun 2020, dia menjalani kurungan isolasi selama 75 hari, sedangkan sejak awal tahun ini dia menghabiskan 105 hari di sel isolasi, haknya untuk dikunjungi keluarga ditolak.

Dia telah hafal seluruh Al-Quran selama kurungan isolasi terakhirnya.

Mariam adalah anak bungsu dari Fadwa yang kini berusia empat tahun. Pendudukan Israel tidak hanya merampas ibunya, tetapi mencegahnya untuk memberikan ibunya bunga selama kunjungan terakhirnya dua pekan lalu. Pihak penjara berdalih melakukan upaya pencegahan penyebaran virus corona, menurut sang ayah.

Amal Rabiaa, ibu Fadwa, mengatakan, penangkapan putrinya mengubah hidup mereka sepenuhnya. Fadwa meninggalkan lima orang anak, yang bungsu adalah Mariam, yang masih menyusui ketika ibunya ditangkap.

Rabiaa sering mendapati dirinya berurusan dengan pertanyaan harian cucu-cucunya yang berulang kali setiap hari tentang ibu mereka dan kapan ibu akan kembali ke rumah.

“Setiap kali saya mengunjungi Fadwa di penjara Damon, saya kembali ke rumah membawa sakit hati karena apa yang saya lihat,” katanya.

Rabiaa menjelaskan, sebagai akibat dari kurungan isolasi, putrinya menderita beberapa penyakit pada persendian dan tulang, selain tekanan darah dan penyakit lainnya. Otoritas penjara Israel telah menolak memberinya perawatan yang diperlukan selain obat penghilang rasa sakit.

Fadwa Hamadeh adalah satu dari 12 ibu dari 41 tahanan perempuan Palestina di tahanan Israel karena aktivisme mereka dalam perlawanan terhadap pendudukan Israel.

Otoritas pendudukan Israel masih memenjarakan lebih dari 4.500 tahanan Palestina dan Arab karena menentang pendudukan di tanah air mereka. Banyak dari narapidana ini telah berada di penjara selama lebih dari 25 tahun. (AT/RI-1/P1)

 

Sumber: WAFA

 

Mi’raj News Agency (MINA)