Jakarta, MINA – Institut Hijau Indonesia resmi meluncurkan laporan Environmental Outlook 2025 dengan tema “Pemuda di Tengah Krisis; Telaah Persepsi Menata Solusi.” Laporan tersebut memuat hasil survei dan diskusi yang melibatkan 28.763 pemuda dari 34 provinsi di Indonesia, mengungkapkan berbagai tantangan serta rekomendasi kebijakan terkait isu lingkungan hidup.
Acara peluncuran yang berlangsung di sekretariat Institut Hijau Indonesia, Jakarta Selatan, Kamis (27/2), dihadiri lebih dari 100 peserta dari berbagai latar belakang, termasuk perwakilan kementerian, organisasi masyarakat sipil, serta lembaga internasional.
Dalam sambutannya, Chalid Muhammad, Ketua Institut Hijau Indonesia, menekankan bahwa laporan itu merupakan hasil penelitian dengan pendekatan mix method research, yang menggabungkan analisis kuantitatif dan kualitatif.
Laporan Environmental Outlook 2025 menunjukkan bahwa isu sampah menjadi perhatian utama bagi generasi muda, dengan tingkat persepsi mencapai 28%. Diikuti oleh isu pencemaran dan kerusakan lingkungan (18,5%), serta kurangnya kolaborasi dan edukasi (15,4%). Masalah lain yang juga disoroti adalah perubahan iklim (13,5%), deforestasi dan hilangnya biodiversitas (11,1%), kebijakan lingkungan (7,8%), dan bencana ekologis (5,8%).
Baca Juga: [Bedah Berita MINA] Ramadhan di Palestina, Bergembira di Tengah Keterbatasan
Direktur Institut Hijau Indonesia, Slamet Daroini, dalam paparannya menegaskan, tiga masalah utama yang menjadi perhatian pemuda adalah pengelolaan sampah yang belum optimal, pencemaran dan kerusakan lingkungan yang semakin masif, serta minimnya partisipasi pemuda dalam kebijakan lingkungan.
Selain itu, laporan itu juga menyoroti kekhawatiran generasi muda terhadap masa depan lingkungan hidup di Indonesia.
Jika kegiatan industri ekstraktif tidak dikendalikan, mereka memandang bahwa kondisi lingkungan pada 2025 akan semakin memburuk. Namun, masih ada harapan jika dilakukan upaya korektif dengan melibatkan generasi muda secara aktif.
Rekomendasi untuk Masa Depan
Baca Juga: Cuaca Jakarta Jumat Ini Berawan, Sebagian Hujan Ringan
Sebagai tindak lanjut, laporan tersebut mengajukan tujuh rekomendasi utama, yakni pertama, meningkatkan keterlibatan pemuda dalam pengelolaan dan pemulihan lingkungan. Kedua, mendorong pemerintah mendukung inisiatif pemuda di bidang lingkungan hidup. Ketiga, memperkuat pendidikan lingkungan di sekolah untuk membangun gaya hidup hijau.
Selanjutnya, keempat, membuka ruang partisipasi pemuda dalam pengambilan keputusan terkait lingkungan. Kelima, merancang kebijakan pemulihan lingkungan yang melibatkan pemuda sebagai aktor utama. Keenam, melakukan evaluasi terhadap industri ekstraktif yang berkontribusi pada kerusakan lingkungan. Ketujuh, melibatkan pemuda dalam agenda transisi energi dan pencapaian target FOLU Net Sink 2030.
Sebagai organisasi yang berkomitmen dalam pendidikan dan pemberdayaan pemuda, Institut Hijau Indonesia terus berupaya membangun kepemimpinan hijau melalui program seperti Green Leadership Indonesia, Green Youth Movement, dan Green Public Interest Lawyer.[]
Baca Juga: Dompet Dhuafa Lepas Tim Kemanusiaan untuk Palestina dan Dai Ambassador ke 11 Negara
Mi’raj News Agency (MINA)