Festival Janadriyah, Indonesia Perkuat Program Diplomasi Budaya untuk Arab Saudi

Riyadh, MINA – Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud RI, Najamuddin Ramly mengatakan, Festival Janadriyah merupakan bentuk diplomasi budaya yang sangat dahsyat bagi Indonesia. Kesuksesan Indonesia sebagai tamu kehormatan Festival Janadriyah ke-33 menjadi sebuah pemicu untuk membuka bentuk kerja sama lain di bidang kebudayaan dengan Arab Saudi.

“Kemarin kami sudah ke Museum Nasional King Abdul Aziz. Kami merencanakan agar seluruh museum di Arab Saudi bisa digelar pameran dan seminar sejarah tentang risalah Islam datang ke Indonesia, dengan berbagai macam budaya yang mengiringinya,” ujar Najamuddin Ramly di Riyadh, Arab Saudi, Selasa (8/1).

Dikutip dari rilis Kemendikbud, di Festival Janadriyah, Indonesia membawa pertunjukan seni yang beririsan dengan kultur Islam, seperti Saman, Zapin, Gambus, hingga Wayang yang mencerminkan bagaimana penyebaran agama Islam di Indonesia. Ia melihat, Festival Janadriyah membuka pandangan masyarakat Arab Saudi tentang Indonesia.

“Selama ini Indonesia hanya dikenal sebagai negara penyedia tenaga kerja. Setelah dikenalkan budaya Indonesia di Festival Janadriyah, mereka jadi kagum dan respek. Kita pun memiliki dignity, kewibawaan,” tutur Najamuddin .

Karena itulah Indonesia tidak akan melewatkan peluang untuk terus mengembangkan program diplomasi budaya di Arab Saudi. Apalagi Arab Saudi merupakan negara terkuat di antara negara-negara teluk.

Ia menuturkan, setelah melakukan kunjungan ke Museum Nasional King Abdul Aziz, Indonesia akan bekerja sama dengan Arab Saudi untuk menggelar pameran di museum-museum. Pameran akan difokuskan kepada sejarah dan diskusi sejarah tentang bagaimana hubungan Indonesia dengan Arab Saudi sejak dulu hingga sekarang.

Direktur Sejarah Kemendikbud, Triana Wulandari mengatakan, Kemendikbud dan KBRI Riyadh di Arab Saudi melihat antusiasme masyarakat Riyadh terhadap budaya Indonesia. Hal tersebut semakin memperkuat keinginan untuk meningkatkan diplomasi budaya dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat akademis.

“Seperti seminar dan pameran yang mengangkat substansi sejarah Islam,” ujar Triana.

Kemendikbud juga menerima permintaan dari otoritas pengelola Kota Madinah dan Mekkah agar mereka bisa mengadakan pameran di masjid-masjid raya di Indonesia. Rencananya, pameran akan digelar di Masjid Istiqlal di Jakarta, di Makassar, dan Sumatra Utara. (R/R05/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)