Golongan Manusia Yang Tidak Mengenal Allah

 

Oleh: Rifa Berliana Arifin, Redaktur MINA

Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitabnya “ كيمياء السعادة” Kimiya As-Sa’adah menjelaskan tentang enam golongan manusia yang tidak mengenal Allah Subhanahu watalla. Bahkan, menurut Al-Ghazali, meski Al-Quran dengan sangat jelas menjabarkan tentang keesaan dan keberadaan Allah Subhanahu watalla, namun ternyata tidak sedikit manusia karena ingkar dan kebodohannya akan Allah masih menutup diri dan jiwanya untuk menerima Allah sebagai sang Khaliq.

Di antara beberapa penyebabnya adalah:

Pertama, golongan manusia yang tidak menemukan Allah Subhanahu watalla melalui logika pengamatan dan pemikirannya, lantas ia menyimpulkan bahwa Allah tidak ada dan dunia yang penuh keajaiban ini menciptakan dirinya sendiri. Golongan manusia seperti ini bagaikan orang yang melihat tulisan indah kemudian menyatakan bahwa tulisan itu ada dengan sendirinya tanpa ada yang menulis siapa pun, atau memang sudah ada begitu saja tanpa sebab. Mereka yang berpola pikir seperti ini telah jauh tersesat sehingga penjelasan atau perdebatan dengan mereka tidak akan memberikan manfaat.

Kedua, golongan manusia yang tidak mengenali fitrahnya. Mereka menolak keberadaan akhirat, tempat di mana manusia akan dimintai pertanggungjawabannya dan diberi balasan baik atau bahkan disiksa. Bahkan mereka menganggap diri mereka sendiri tidak lebih baik dari hewan atau tumbuhan yang akan musnah begitu saja dan tidak akan dibangkitkan lagi.

Ketiga, golongan manusia yang percaya kepada Allah dan kehidupan akhirat, tetapi keyakinanannya itu lemah. Mereka berkata, “Allah itu Maha Besar, karena kebesaran-Nya, Dia tidak bergantung kepada kita; tak penting bagi-Nya apakah kita beribadah atau tidak.” Golongan orang seperti ini layaknya seperti orang sakit yang saat dokter memberinya resep untuk penyembuhannya, mereka berkata, “Yah, terserah saya mau nurut atau tidak, apa urusannya dengan dokter”. Memang tindakannya itu tidak berdampak apa-apa pada diri dokter tetapi pasti akan merusak dirinya sendiri. Sebagaimana penyakit jasad yang tidak terobati dan perlahan menghabisi jasadnya, juga penyakit jiwa yang tidak tersembuhkan menyebabkan penderitaan di masa yang akan datang. Allah berfirman, “kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (QS: As-Syuaro:88)

Keempat, golongan manusia yang mengatakan, “Syariah mengajarkan kita untuk menahan amarah, nafsu, dan keserakahan. Perintah ini tidak mungkin dilakukan, karena manusia diciptakan dengan fitrahnya seperti itu. Itu sama dengan menuntut orang hitam  menjadi putih. ”

Golongan manusia seperti mereka sama sekali tidak melihat fakta bahwa syariah tidak mengajarkan kita untuk menghancurkan hawa nafsu ini, tetapi menempatkannya dalam batas-batasnya. Jadi, dengan menghindari dosa besar, kita bisa mendapatkan pengampunan atas dosa-dosa kecil kita. Bahkan Nabi Muhammad Shallahu alaihi wassalam bersabda, “Saya manusia seperti Anda, dan saya juga marah sepertihalnya orang lain.” Bahkan Allah menyukai orang yang mengendalikan amarahnya sebagaimana firmanya “Allah menyukai orang yang menahan amarahnya.” (QS Al-Imran: 134).

Kelima, golongan manusia yang membesar-besarkan belas kasihan Allah sambil mengabaikan keadilan-Nya, mereka mengatakan, “Ya, apapun yang kita lakukan, Allah itu Maha Pemurah dan Pemberi.” Mereka tidak berpikir bahwa meskipun Allah Maha Pemurah lagi Pemberi, tapi kita sebagai hambaNya atau siapa pun yang menginginkan umur panjang, kemakmuran, atau kecerdasan, tidak boleh hanya berkata, “Allah itu Maha Pemberi,” tetapi kita dituntut untuk harus bekerja keras. Meski Al-Quran mengatakan: “Rezeki semua makhluk hidup berasal dari Allah,” akan tetapi Allah pun mengingatkan kita semua dengan firmanNya: “dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS: An Najm :39).

Keenam, golongan manusia yang merasa dan mengaku telah mencapai suatu tingkatan ilmu dan kesucian dari dosa dan khilaf. Kebanyakan mereka muncul pada zaman ini dengan menyerupakan diri mereka dengan cara berpakaian para ahli tasawuf, cara berpikir dan penampilan, perkataan, sopan santun, gaya bahasa, dan tutur kata ahli tasawuf. Mereka tidak berhak membuat pengakuan semacam itu, mengingat para nabi (manusia paling mulia) pun selalu meratapi dosa-dosa mereka. Sebagian kelompok ini bahkan begitu sombong sehingga mereka bahkan melakukan hal-hal yang diharamkan.(T/RA-1/P1)

Miraj News Agency (MINA)