Guru Besar IPB: Indonesia Harus Siap Hadapi Virus-Virus Baru yang Akan Sering Muncul

(Foto: Istimewa)

Bogor, MINA – Guru Besar IPB University dari Departemen Biokimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Prof Dr Ir I Made Artika, MappSc mengaskan, Indonesia harus siap menghadapi virus-virus baru yang akan sering muncul di masa yang akan datang.

“Belakangan ini, kemunculan virus baru semakin sering. Belum selesai krisis virus Ebola di Afrika Barat, muncul virus Zika di Amerika Selatan dan kemudian diikuti kemunculan virus Corona, SARS-CoV-2, di Wuhan, Cina hingga menimbulkan pandemi. Ini membuktikan betapa rentan masyarakat dunia terhadap infeksi virus,” ujar Prof Made dalam konferensi pers Pra Orasi Ilmiah Guru Besar secara daring, Kamis (10/9).

Menurutnya, virus penyebab penyakit adalah virus yang dapat menginfeksi dan berkembang biak di dalam sel manusia. Berlanjutnya kemunculan beragam virus baru dan virus lama yang timbul kembali telah menjadi masalah utama dalam kesehatan manusia.

Kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sangat rentan terhadap penyakit infeksi baru akibat virus. Indonesia tercatat sebagai negara dengan korban kematian tertinggi akibat infeksi virus influenza A/H5N1 (virus flu burung).

Prof Dr Ir I Made Artika, MappSc yang dinobatkan sebagai Guru Besar Tetap IPB University dalam Orasi Ilmiah pada Sabtu mendatang, akan memaparkan hasil-hasil penelitiannya yang berjudul “Penerapan Teknik Biologi Molekuler dan Prinsip Biosafety dalam Deteksi dan Karakterisasi Virus Penyebab Penyakit pada Manusia.”

“Kapan dan dimana suatu virus baru akan muncul sangat sulit diprediksi. Virus baru yang berpotensi menimbulkan bencana besar di bidang kesehatan, bisa muncul dimana saja termasuk di wilayah dengan kemampuan deteksi terbatas. Tidak adanya laporan tentang sirkulasi virus tertentu di suatu wilayah, tidak selalu berarti bahwa wilayah itu bebas dari virus tersebut, melainkan bisa juga karena kemampuan deteksi yang terbatas,” paparnya.

Oleh karena itu, Prof Made berharap setiap wilayah atau negara perlu mengembangkan kapasitas untuk mendeteksi dan mengkarakterisasi virus. Selain itu, mengingat penanganan virus berpotensi menimbulkan infeksi pada petugas laboratorium, maka penerapan kaidah keselamatan (biosafety) sangat penting guna menurunkan risiko terhadap paparan maupun infeksi virus.

Selanjutnya, pengembangan vaksin dan obat antivirus sangat diperlukan untuk mencegah dan mengobati penyakit akibat virus dan teknik molekuler juga dapat diterapkan untuk pengembangan vaksin maupun obat antivirus.

Mengingat kemunculan virus baru sangat sulit diprediksi, lanjut Prof Made, setiap wilayah perlu membangun kesiapsiagaan penanganan virus, termasuk kapasitas untuk deteksi, karakterisasi, serta pengembangan vaksin dan obat antivirus.

“Indonesia berada di kawasan yang tergolong sangat rentan terhadap penyebaran (outbreak) virus baru, maka Indonesia perlu mengupayakan strategi untuk menjawab permasalahan ini termasuk melalui pengembangan keilmuan dan teknik di bidang biokimia dan biologi molekuler,” jelasnya.

Dikatakannya, kemajuan teknik biologi molekuler telah merevolusi metode deteksi dan karakterisasi virus. Khususnya, teknik polymerase chain reaction (PCR) dan teknologi sekuensing DNA merupakan metode yang sangat sensitif dan spesifik untuk menentukan jenis virus yang bersirkulasi. Kedua teknik ini telah digunakan secara luas dalam deteksi dan karakterisasi virus penyebab penyakit pada manusia.

“Pada prinsipnya, kedua teknik ini meniru fenomena hayati yang berlangsung di alam khususnya proses replikasi DNA yang melibatkan peran enzim DNA polimerase dan primer. Teknik biologi molekuler merupakan teknik yang umum diterapkan dalam bidang biokimia dan biologi molekuler yang melibatkan analisis dan manipulasi RNA, DNA, protein, dan lipid,” pungkasnya.

Saat ini hampir semua bidang hayati melibatkan kajian di tingkat molekul serta menerapkan teknik biologi molekuler. Oleh karena itu, biokimia dan biologi molekuler berperan penting dalam mendasari perkembangan dan kemajuan pengetahuan baik di bidang pertanian, kesehatan, industri maupun lingkungan. (R/R1/R2)

Mi’raj News Agency (MINA)