Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Haji Menyatukan Hati yang Terserak

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Ahad, 3 Mei 2026 - 13:00 WIB

Ahad, 3 Mei 2026 - 13:00 WIB

31 Views ㅤ

Ilustrasi: Wukuf Jamaah Haji di Arafah. (ist)

Rukun Islam yang kelima adalah panggilan suci menuju tanah suci Makkah al-Mukarramah. Di sanalah, di tengah debu yang bertebaran dan hati yang berdesir, nilai-nilai sosial, kebersamaan, persatuan, dan kesatuan umat Islam hadir bukan sekadar wacana, melainkan menjadi daging dan darah yang mengalir dalam setiap langkah ibadah.

Setiap ritualnya sarat makna. Dimulai dengan kain ihram yang putih tanpa jahitan, dikenakan oleh para jamaah laki-laki. Putih yang sederhana itu menjadi simbol paling jujur: bahwa di hadapan Allah, tak ada beda antara si kaya dan si miskin, pejabat dan rakyat, penguasa dan yang dikuasai. Semua telanjang dari atribut dunia. Semua setara. Hanya ketakwaan yang menjadi pembeda sejati.

Allah berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu…” (Q.S. Al-Hujurat [49]: 13)

Lalu terdengarlah talbiyah yang menggema, bukan dari satu suara, tetapi dari jutaan bibir yang basah oleh kerinduan. “Labbaikallahumma labbaik…” Panggilan yang tak pernah lekang oleh waktu.

Dan ketika kaki-kaki mulai berputar mengelilingi Ka’bah dalam thawaf, seakan waktu berhenti. Tidak ada yang lebih cepat, tidak ada yang lebih lambat. Semua berputar dalam satu pusaran cinta kepada Tuhan yang satu. Kemudian sa’i dari Shafa ke Marwah, mengingatkan pada seorang perempuan yang berlari kecil karena rindu, yang namanya Hajar diabadikan menjadi ritual sepanjang masa.

Puncaknya adalah wuquf di Arafah. Saat itu, padang pasir yang tandus berubah menjadi lautan hati yang bertakbir. Manusia dari Timur dan Barat, dari Utara dan Selatan, duduk bersimpuh di tanah yang sama, di bawah langit yang sama, untuk memohon ampun kepada Tuhan yang sama. Tiada yang membedakan kecuali getar doa dalam dada.

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

Kemudian muncullah lempar jumrah, bukan sekadar melempar batu ke tiga tiang. Ia adalah perlawanan. Ia adalah simbol penumpasan terhadap segala bentuk kezaliman, penjajahan, aneksasi, dan penindasan. Ia mengajarkan bahwa kebathilan takkan runtuh hanya oleh satu atau dua orang yang berpecah belah. Ia hanya bisa dikalahkan oleh kebersamaan, oleh jamaah yang bersatu di bawah kepemimpinan yang mengikuti jejak kenabian.

Wihdatul Ummah, persatuan umat, itulah hikmah terbesar dari seluruh rangkaian haji. Jutaan manusia larut dalam satu warna, satu gerakan, satu kiblat, satu Tuhan.

Maka Allah pun mengingatkan:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

“…Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah seraya berjamaah, dan janganlah kamu bercerai berai…” (Q.S. Ali Imran [3]: 103).

Hidup berjamaah bukan sekadar pilihan. Ia adalah syariat. Mengamalkannya berarti menegakkan agama Allah di muka bumi. Dan haji adalah pusaran paling agung yang mempertemukan umat Islam dari segenap penjuru dunia, bukan hanya untuk beribadah, tetapi untuk berta’aruf, untuk saling mengenal, untuk saling menguatkan persaudaraan dan ukhuwah Islamiyah.

Kelak, ketika jamaah kembali ke negerinya masing-masing, semoga pertemuan di Tanah Suci tidak berakhir di sana. Di era digital yang serba terhubung ini, tidak ada alasan bagi hati-hati yang pernah bersua dalam satu shaf untuk saling berjauhan. Komunikasi tetap terjalin. Doa tetap dikirimkan. Persaudaraan tetap dipupuk.

Karena pada hakikatnya, haji bukanlah sebuah perjalanan yang usai setelah pulang. Ia adalah awal dari kesadaran bahwa kita semua, di mana pun berada, adalah satu umat. Dan di bawah langit yang sama, kita terus melangkah bersama menuju ridha-Nya.

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

Aamiin, Ya Rabbal ‘Alamin. Wallahu a’lam. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina

Rekomendasi untuk Anda