Halal-kah Daging yang Melalui Proses Stunning?

Wawancara oleh Syed Ameen Kader, Salaam Gateway

Ilmuwan mengatakan telah mengembangkan penelitian untuk menentukan apakah hewan yang distunning (pingsan) sebelum disembelih itu halal.

Perdebatan tentang apakah hewan harus distunning atau tidak sebelum mereka disembelih terus dibahas dalam industri halal.

Sementara beberapa metode stunning dianggap halal di banyak negara, tapi sebagian lainnya menentang praktik tersebut. Mereka mengatakan, kematian hewan akibat stunning tegangan tinggi membuat praktik itu tidak sesuai dengan pedoman halal, yang menentukan bahwa hewan itu harus hidup sebelum dipotong.

B.M. Naveena, seorang ilmuwan senior yang berbasis di Hyderabad di Pusat Penelitian Nasional Daging India (NRCM), mengklaim telah mengembangkan penelitian ini pada tahap awal. Ia dengan cepat dapat menentukkan apakah daging berasal dari hewan yang stunning terlebih dahulu atau langsung disembelih.

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Salaam Gateway, Dr. Naveena menjelaskan ide di balik penelitian dan bagaimana temuan tersebut dapat melengkapi proses sertifikasi halal saat ini. Berikut hasil wawancaranya

Apa motivasi Anda melakukan penelitian ini?

Naveena: Secara global, ada permintaan besar untuk produk halal, dan ini adalah industri bernilai miliaran dolar, tetapi tidak ada yang benar-benar mengetahui metode atau prosedur yang dengannya kita dapat mengidentifikasi apakah sepotong daging itu halal atau tidak.

Itulah mengapa kami di NRCM, yang berada di bawah Dewan Penelitian Pertanian India (ICAR), berpikir melakukan penelitian tahap awal untuk melihat apakah kita dapat mengembangkan prosedur bagaimana mengetahui daging yang diambil dari hewan yang distunning terlebih dahulu.

Mengapa ada perdebatan mengenai halalnya daging yang dipingsankan terlebih dahulu?

Dalam suatu metode, hewan dibuat pingsan sebelum disembelih sehingga tidak menderita rasa sakit. Ada berbagai metode stunning seperti; stunning listrik, karbondioksida, angin (pneumatic) atau stunning. Menurut pedoman halal, hanya stunning listrik yang diizinkan.

Banyak negara di Eropa dan bagian dunia lainnya, termasuk India, masih mengikuti praktik menyembelih hewan tanpa stunning. Beberapa penyedia makanan halal mengatakan, hewan harus tetap hidup saat disembelih, jika disetrum akan menimbulkan bahaya yang serius seperti kehilangan banyak darah atau bahkan kematian.

Terdiri dari apa penelitian Anda? Teknik Stunning apa yang Anda pakai?

Kami membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk melakukan penelitian ini bekerja sama dengan Dr. Kiran M., seorang ilmuwan di Universitas Sains Hewan dan Perikanan Karnataka, dan ilmuwan lain dari Pusat Nasional Ilmu Sel, Pune, tempat kami melakukan analisis protein.

Sebagai bagian dari penelitian pendahuluan kami, kami melakukan penelitian pada 30 ekor domba jantan Nellore crossbred untuk mengungkap efek stunning listrik pra-pemotongan pada efisiensi pendarahan, parameter biokimia serum, kualitas fisik-kimia dan memahami perubahan proteomik. [Proteomik adalah studi tentang protein yang diproduksi dalam suatu organisme, sistem, atau konteks biologis].

Kami hanya mencoba metode stunning listrik, yang arus listrik diterapkan ke dahi hewan sehingga mereka menjadi tidak sadar selama sekitar 30 detik atau satu menit, pada saat itulah baru kami sembelih.

Secara global, ada pendapat beragam tentang proses atau kualitas daging mana yang lebih baik. Sementara beberapa peneliti mengatakan, kualitas daging hewan yang distunning bagus, sebagian lainnya justru berpendapat sebaliknya.

Kami menyimpulkan, di samping berbagai perubahan fisiologis, mobilitas elektroforesis [pergerakan partikel ketika medan listrik diterapkan] dari beberapa protein penting akan diubah karena stres pra-pembantaian. Ini akan membantu kami membuat keputusan mengenai kesejahteraan hewan sebelum disembelih.

Apakah Anda mengidentifikasi Adanya perbedaan nilai gizi daging yang berasal dari hasil stunning?

 Kami tidak menemukan variasi dalam efisiensi pendarahan antara domba yang distunning dan yang tidak, tetapi pH yang lebih tinggi [potensi Hidrogen- skala keasaman], kapasitas penampung air, dan gaya geser Warner-Bratzler [metode untuk mengukur kelembutan daging] diamati pada daging dari domba yang distunning.

Kami menerapkan pendekatan proteomik kuantitatif untuk menemukan panel penanda protein yang dapat membedakan proteom otot yang distunning dan yang tidak. Perbandingan proteom otot dari dua sampel ini mengungkapkan adanya 46 protein berbeda yang ditunjukkan secara signifikan.

Kami juga mengamati bahwa daging domba yang tidak distunning secara signifikan lebih empuk daripada domba yang dipingsankan, karena protein tertentu yang disebut Peroxiredoxin-6, penanda potensial kelembutan dalam daging, terdeteksi dalam kelimpahan sampel daging yang tidak distunning.

Kami pikir protein penanda yang diidentifikasi dalam penelitian ini dapat melengkapi proses sertifikasi halal yang ada dan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap daging halal.

Apakah ini penelitian pertama?

Ya, orang telah mencoba mempelajari perbedaan kualitas daging yang dipotong melalui metode stunning atau tidak, tetapi mereka tidak mencoba mengidentifikasi protein-protein ini. Kami juga mencoba memasukkan tingkat kesejahteraan hewan.

Aplikasi apa yang dapat diterapkan secara nyata saat ini? Apakah ini dapat digunakan untuk tujuan sertifikasi halal komersial?

Penelitian kami berpotensi mengatasi masalah kesejahteraan hewan, kualitas daging, dan halal karena ada pendapat beragam tentang mana yang lebih baik. Ada banyak lawan dan pendukung dari daging yang distunning dan yang tidak. Beberapa mengatakan proses yang tidak distunning memberi lebih banyak rasa sakit dan stres pada hewan dan itu mempengaruhi kualitas daging.

Sedangkan yang lain mengatakan stunning mengurangi penderitaan hewan dan kualitas daging lebih unggul. Sehingga masalah ini masih belum jelas.

Kami dapat menghasilkan bukti kuat apakah daging dari hewan yang disembelih halal (tidak distunning) atau daging dari hewan yang distunning lebih baik. Kami dapat mengetahui apakah proses tertentu memberikan sedikit atau lebih banyak rasa sakit pada hewan. Jadi hal-hal ini bisa dijawab.

India adalah salah satu pengekspor terbesar kerbau dan daging lainnya. Dapatkah penelitian Anda bermanfaat bagi industri pengekspor daging halal di India?

Pada level ini, kami hanya melakukan pekerjaan pendahuluan. Biasanya, negara pengimpor memiliki mekanisme sendiri untuk memahami prosesnya. Mereka memiliki orang-orang khusus untuk mengawasi hal ini. Sebenarnya, ada penyedia yang sangat bagus dan mapan untuk ekspor daging halal di India. Tetapi, dalam beberapa waktu mendatang, kami pikir temuan kami dapat membantu mereka dalam melengkapi proses sertifikasi halal yang ada.

Apa langkah Anda selanjutnya?  Berapa waktu dan dana yang dibutuhkan?

Ini adalah penelitian pendahuluan, yang tidak didanai oleh lembaga eksternal mana pun. Penelitian terperinci lebih lanjut diperlukan pada spesies yang berbeda dengan sekelompok besar hewan, yang mempertimbangkan faktor stres pra-pemotongan lainnya, yang dapat mempengaruhi tingkat protein.

Kami akan mendekati beberapa agen pendanaan. Kami belum tahu siapa yang akan tertarik mendanai proyek ini, tetapi secara umum, lembaga seperti Departemen Sains dan Teknologi (DST) India, Departemen Bioteknologi (DBT), ICAR, atau lembaga internasional, dewan halal atau sertifikasi daging bisa tertarik.

Biasanya, penelitian semacam itu memakan biaya sekitar 2,5 juta hingga 3 juta rupee India [$42.768], dan membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga tahun untuk menyelesaikannya. (AT/Ais/Ast/P1)

Sumber: salaamgateaway.com

Mi’raj News Agency (MINA)