Jeddah, MINA – Ketegangan geopolitik global yang terus memanas berdampak langsung pada meroketnya harga minyak mentah dunia hingga menyentuh angka $115$ dolar AS per barel pada akhir Maret 2026. Anadolu melaporkan, Selasa (31/3).
Kenaikan harga di pasar internasional ini diprediksi akan menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di berbagai negara, terutama Indonesia karena melebarnya selisih harga pasar dengan asumsi makro yang ditetapkan pemerintah.
Lonjakan ini membawa risiko serius terhadap membengkaknya nilai subsidi energi yang harus ditanggung negara untuk menjaga harga BBM dan listrik di tingkat domestik.
Jika harga minyak mentah bertahan di level tinggi dalam durasi yang lama, pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit: menambah alokasi subsidi yang berisiko memperlebar defisit anggaran, atau melakukan penyesuaian harga energi di tingkat konsumen.
Baca Juga: Rabi Terkemuka Israel Sebut Lebih Baik Dipimpin Pemerintahan Arab daripada Zionisme
Ekonom menilai bahwa ketergantungan Indonesia pada impor BBM membuat volatilitas harga global sangat mudah “menular” ke ekonomi nasional. Kenaikan harga minyak tidak hanya berdampak pada sektor transportasi, tetapi juga meningkatkan biaya logistik dan operasional industri manufaktur.
Hal ini dikhawatirkan akan memicu kenaikan harga barang kebutuhan pokok, yang pada akhirnya akan menambah beban hidup masyarakat kecil di tengah upaya pemulihan ekonomi yang sedang berjalan.
Selain tekanan fiskal, defisit neraca perdagangan juga menjadi ancaman di depan mata akibat pembengkakan tagihan impor migas. Data menunjukkan bahwa setiap kenaikan harga minyak dunia biasanya diikuti dengan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS karena meningkatnya permintaan valas untuk keperluan impor.
Jika stabilitas nilai tukar terganggu, maka biaya utang luar negeri dan harga bahan baku impor non-migas lainnya juga akan ikut terkerek naik, menciptakan efek domino ekonomi yang kompleks.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah didorong untuk segera mempercepat transisi energi menuju sumber daya terbarukan dan meningkatkan efisiensi penggunaan energi nasional.
Selain itu, optimalisasi penggunaan biodiesel (seperti B35 atau B40) perlu terus diperkuat guna mengurangi ketergantungan pada minyak mentah berbasis fosil dari luar negeri. Upaya diversifikasi energi ini menjadi kunci jangka panjang agar ketahanan nasional tidak lagi terlalu rentan terhadap gejolak politik yang terjadi di kawasan produsen minyak dunia. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
















Mina Indonesia
Mina Arabic