HARMONI, KOMUNITAS HINDU JAGA PERNIKAHAN MUSLIM

pernikahan muslim india onislam
Prosesi pernikahan Muslim India (Foto: Onislam)

New Delhi, 29 Dzulhijjah 1436/13 Dzulhijjah 2015 (MINA) – Gesekan antara komunitas Muslim dan warga Hindu di India kerap terjadi, bahkan menjadi komoditas politik pihak tertentu. Salah satu penyebab gesekan yang tak jarang berujung pada kekerasan dan pembunuhan adalah soal konsumsi daging sapi.

Masyarakat penganut Hindu, yang menjadi mayoritas di India, menganggap sapi sebagai binatang suci. Menyembelih hewan itu telah dilarang di sebagian besar wilayah ‘Negeri Hindustan’ dalam beberapa tahun terakhir.

Di tengah gesekan itu, aksi solidaritas terekam di Kota Dadri, Distrik Gautam Buddha Nagar, Negara Bagian Uttar Pradesh, seperti dilaporkan Onislam, Senin (12/10). Di sana, tepatnya di Desa Bishada, warga Hindu bahu-membahu membantu dan mengatur pernikahan dua anak perempuan keluarga Muslim.

Ayah dari salah satu pengantin, Hakeem, mengatakan bahwa ia sebenarnya telah memutuskan akan menggelar prosesi pernikahan untuk puterinya di luar desa guna menghindari ketegangan menyusul pemukulan Mohammad Akhlaq, 50 tahun, hingga mati.

Keluarga Akhlaq, yang tinggal di pinggiran New Delhi, diserang oleh massa yang menggerebek rumah mereka pada 28 September lalu. Penyerangan terjadi setelah merebak tuduhan bahwa famili Akhlaq telah mengonsumsi daging sapi.

Kecemasan Hakeem sirna setelah komunitas Hindu setempat datang menyambut mempelai pria. Para keluarga Hindu juga menawarkan bantuan untuk persiapan pernikahan, penyediaan hidangan, dan tenda.

Salah satu mempelai pria menyatakan terkejut dan senang dengan perlakuan penduduk desa yang menangani semua pengaturan pernikahan.

“Perencanaan dan persiapannya luar biasa. Kedua pihak Hindu dan Muslim datang bersama-sama untuk merayakan pernikahan ini. Ya, saya mengakui bahwa ada sedikit khawatir karena apa yang telah terjadi sebelumnya, tapi setelah datang ke sini dan melihat apa yang telah mereka lakukan untuk kami, saya tidak ragu,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Para penduduk desa adalah bagian dari ‘baraat’ (prosesi pernikahana) dan kami berharap mereka hadir untuk ‘bidai’ juga. Tidak ada diskriminasi di sini. Kami sangat senang mendapatkan perlakukan baik seperti ini.”

Lewat pernikahan itu, penduduk desa setempat seakan ingin mengirimkan pesan yang kuat kepada bangsa dan para politisi bahwa Bishada tetap kuat, bersatu, dan surga bagi umat Hindu dan Muslim.

Ramesh, salah satu penganut Hindu di Desa Bishda, menuding media dan parade politisi yang tidak pernah habis kerap menyebabkan masalah tidak proporsional. Ia menampik penggambaran desa itu sebagai zona perselisihan komunal.

“Saya seorang Hindu Rajput dari desa ini dan saya dengan jujur mengatakan bahwa tidak ada masalah di sini dan begitu juga di masa lalu. Semua yang terjadi (pemberitaan negatif) ditujukan untuk menciptakan kesenjangan di antara kami. Tapi biarkan saya memberitahukan Anda bahwa kami kuat sebelumnya, tapi kami telah lebih kuat setelah apa yang telah terjadi,” tegasnya.

Sejak Narendra Modi, seorang nasionalis Hindu dan pemimpin partai sayap kanan Partai Rakyat India (Bharatiya Janata Party/BJP), menjadi perdana menteri India pada Mei 2014, kelompok nasionalis Hindu radikal telah meneror agama minoritas di seluruh negeri.

Menurut sebuah lembaga hak asasi Kristen terkemuka, seperti dilaporkan Aljazeera, Kamis (8/10), setidaknya 600 serangan terjadi antara periode pemilihann Modi dan Agustus tahun ini. Dari jumlah itu, sebanyak 149 menargetkan orang Kristen, sisanya (451 serangan) menyasar komunitas Muslim. (T/P022/P4)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0