Hijrah Dan Jihad di Jalan Allah

Oleh: Mustofa Kamal, Tim Dakwah Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Niyabah Bangun Rejo, Lampung Tengah

 

Ada lima perintah Rasulullah kepada umatnya yang tertera dalam sebuah hadits dari Nu’man bin Basyir dan itu juga merupakan perintah Allah. Dua di antaranya adalah Hijrah dan jihad di jalan Allah.

Hijrah harus tetap dilakukan sepanjang masa walaupun ada hadits yang mengatakan “Tidak ada hijrah setelah Fathul Makkah…” Artinya tidak ada lagi hijrah dari Mekkah ke Madinah setelah terbukanya Kota Mekah, karena kota Mekkah sudah aman dan manusia sudah banyak masuk Islam. Sebagaima tertera dalam firman Allah pada Surat An-Nasr (110) Ayat 1-4

إِذَا جَآءَ نَصْرُ ٱللَّهِ وَٱلْفَتْحُ – وَرَأَيْتَ ٱلنَّاسَ يَدْخُلُونَ فِى دِينِ ٱللَّهِ أَفْوَاجًۭا – فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَٱسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ تَوَّابًۢا

Artinya: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.”

Tentang hijrah ini, disebutkan di dalam hadits:

عَنْ مُعَاوِيَةَ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : لا تَنْقَطِعُ الْهِجْرَةُ حَتَّى تَنْقَطِعَ التَّوْبَةُ وَلاَ تَنْقَطِعُ التَّوْبَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

Artinya: Dari Mu’awiyyah, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi Wasallam bersabda: ”Hijrah tidak terputus sehingga taubat terputus, dan taubat tidak terputus sehingga matahari terbit dari barat”. (HR Ahmad, Abu Dawud, Ath-Thabarani, Al-Baihaqi, Ad-Darimi, An-Nasa’i dan Abu Ya’la).

Di dalam Al-Qur’an disebutkan tentang hijrah disertai jihad. seperti firman Allah dalam Surat Al-Baqarah (2) Ayat 218:

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱلَّذِينَ هَاجَرُوا۟ وَجَـٰهَدُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أُو۟لَـٰٓئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ ٱللَّهِ ۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ

Aertinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi penyayang.”

Pada Surat Al-Anfal (8) Ayat 72 disebutkan:

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَهَاجَرُوا۟ وَجَـٰهَدُوا۟ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱلَّذِينَ ءَاوَوا۟ وَّنَصَرُوٓا۟ أُو۟لَـٰٓئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍۢ ۚ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَلَمْ يُهَاجِرُوا۟ مَا لَكُم مِّن وَلَـٰيَتِهِم مِّن شَىْءٍ حَتَّىٰ يُهَاجِرُوا۟ ۚ وَإِنِ ٱسْتَنصَرُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ فَعَلَيْكُمُ ٱلنَّصْرُ إِلَّا عَلَىٰ قَوْمٍۭ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَـٰقٌۭ ۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌۭ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Ayat-ayat yang berhubungan dengan hijrah dan jihad juga termaktub pada Surat Al-Anfal (8) ayat 74 dan 75, Surat At-Taubah (9) ayat 20, Surat An-Nahl (16) ayat 110, dan Surat Al-Hajj (22) ayat 58.

Dari Firman-firman Allah tersebut, maka kita bisa mengambil kesimpulan bahwa hijrah dan jihad fii sabilillah adalah satu paket yang harus dilaksanakan oleh kaum Muslimin sepanjang jaman.

Maka tepatlah hadits yang berbunyi “Al-Muhajiruu Man hajara maa nahallahu anhu”. Artinya : “Orang-orang yang berhijrah adalah orang yang hijrah(meninggalkan) apa-apa yang dilarang oleh Allah daripadanya.” (HR Muslim).

Maka arti yang lebih luas dari hijrah itu sendiri adalah orang-orang yang mampu mengamalkan syariat-syariat Allah.  Di sinilah wujud dari jihad di jalan Allah.

Termasuk meninggalkan perkara yang dilarang oleh Allah, yaitu Tafaruq dan i’tilafaf, yakni Mukmin berpecah belah dan berselisih seperti yang dilakukan oleh Ahli Kitab,  dan bahkan mereka bangga dengan golongan masing-masing.

Semoga momentum Tahun Baru Hijrah ini dapat membangkitkan ghirah kita bersama untuk berhijrah dan berjihaddi jalan Allah secara maksimal. Aamiin. (A/mus/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)