Hijrah dan Pengembangan Masyarakat (Oleh: Shamsi Ali)

Saat umat Islam di seluruh dunia memasuki tahun baru Islam atau lebih populer disebut tahun Hijriyah, mereka diingatkan akan banyak peristiwa sejarah Islam. Di antara semua peristiwa, yang paling penting adalah Hijrah Rasul atau migrasi Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dari Makkah, tempat kelahirannya, ke Al-Madinah, tempat kematiannya.

Oleh karena itu, pergantian tahun dalam Islam bukan sekedar pergantian waktu. Ini adalah waktu untuk mengingat dan merenungkan sejarah yang terkait dengannya, dan seperti yang telah saya sebutkan berulang kali di masa lalu, sejarah dalam Islam bukan hanya soal peristiwa yang harus dihafal, tetapi yang lebih penting adalah tentang pelajaran (‘ibrah).

Tidak diragukan lagi bahwa Hijrah Rasul (migrasi) memiliki arti penting dalam Islam. Hijrah melambangkan “harakah” (movement) yang penting bagi kehidupan kita. Tidak ada kehidupan tanpa pergerakan. Segala sesuatu dalam hidup adalah tentang pergerakan (harakah). Dalam ungkapan Al-Qur’an: “wa kullun fii falakin yasbahuun” (masing-masing bergerak dalam orbitnya sendiri).

Hijrah juga melambangkan “perubahan diri” (taghyiir) yang telah menjadi landasan penting bagi pembangunan kolektif kita. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menggarisbawahi bahwa dalam sebuah ayat: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga kaum itu sendiri yang mengubahnya”.

Oleh karena itu makna terpenting Hijrah sebagai perubahan diri adalah untuk “pembangunan bersama” umat ini, dengan kata lain, agar umat ini bangkit dan berkembang maka diperlukan perubahan.

Mencermati perjalanan perkembangan ummat ini, kita dapat melihat beberapa tahapan:

Pertama adalah dimulainya “Risalah” (risalah Islam) dengan diangkatnya Muhammad Ibnu Abdullah sebagai nabi dan utusan Allah yang terakhir. Ini dimulai dengan turunnya Al-Qur’an “Iqra‘”.

Kedua adalah pengembangan individu umat. Hebatnya ini dimulai dengan tantangan yang luar biasa, seperti boikot orang Makkah terhadap keluarga dekat Nabi. Hal ini mengakibatkan kematian istri tercinta Khadijah dan paman tercinta Abu Thalib. Perkembangan individu secara langsung dilambangkan dengan “Isra Mi’raj” Rasulullah dan karunia doa-doa harian.

Ketiga adalah pengembangan kolektif umat. Ini dimulai dengan Hijrah Rasul dari Makkah ke Madinah. Seperti yang telah kami sebutkan sebelumnya, hijrahnya Nabi ke Madinah bukan hanya karena perlawanan dan tantangan yang dihadapinya dari orang-orang di Makkah. Hijrahnya sebenarnya merupakan bagian dari perjalanannya membangun sebuah komunitas atau bangsa (Ummah). Dan Madinah (sebelumnya dikenal sebagai Yastrib) adalah pilihan terbaik untuk memulai kehidupan sosial umat ini.

Lima langkah untuk pengembangan masyarakat

Setibanya di Madinah, nabi mulai menjalankan rencananya untuk mengembangkan komunitas (masyarakat) yang dinamis dan kuat. Ada lima langkah yang dilakukan Rasulullah untuk mewujudkan rencananya.

Pertama, mendirikan masjid. Setibanya di kota itu nabi memulai misinya dengan mendirikan masjid Kuba.

Masjid dikenal sebagai tempat beribadah. Secara harfiah berarti “tempat sujud (sujud) dengan meletakkan dahi di tanah.” Padahal, sujud berarti “ketaatan” (Al-ito’ah). Sebagaimana firman Allah: “wa lillahi wasjudu maa fis-samaawati wal-ardh” (dan hanya kepada Allah sujud semua yang di langit dan di bumi).

Jadi pendirian masjid oleh Rasulullah melambangkan bahwa suatu komunitas (bangsa/masyarakat) hanya dapat berkembang dan kuat dengan menjadikan “Ketaatan kepada Allah” (ito’atullah) sebagai pusat kehidupan mereka.

Oleh karena itu, kata masjid dalam konteks ini lebih tepat diterjemahkan sebagai “pusat segala ketaatan” kepada Allah. Dari masjid semua sudut kehidupan terpancar.

Kedua, Nabi membangun ikatan persaudaraan yang kuat antara mereka yang berhijrah dari Mekah (muhajiruun) dan mereka yang penduduk asli Madinah (ansor).

Tindakan ini di zaman modern bisa disebut “rekonsiliasi internal” antar anggota masyarakat. Tindakan ini juga menunjukkan bahwa dalam satu komunitas perbedaan, jika tidak ditangani dengan baik, dapat menimbulkan masalah. Perbedaan ras atau etnis misalnya dapat menimbulkan gesekan antar anggota suatu bangsa.

Lebih penting lagi Rasulullah menyadari bahwa agar umat ini (Ummah) bangkit, berkembang dan menjadi kuat, ukhuwah harus menjadi pilar yang kuat untuk itu. Tidak ada yang bisa dicapai sebagai sebuah komunitas (Ummah) tanpa persatuan dan persaudaraan.

Ketiga, adalah pembentukan Piagam Madinah, konstitusi sipil pertama dalam sejarah umat manusia.

Setibanya di Madinah, disepakati dengan mufakat bahwa Rasulullah akan menjadi pemimpin. Sebagai pemimpin, ia harus melakukan segala cara untuk memastikan bahwa Madinah tetap bersatu dan merasa dilindungi. Oleh karena itu, konstitusi adalah incumbent dan dibutuhkan untuk kehidupan komunal mereka.

Dia (nabi) kemudian memprakarsai pembuatan konstitusi yang mengikat semua penduduk kota. Konstitusi ini dikenal dalam sejarah sebagai “Piagam Madinah” adalah konstitusi sipil pertama yang pernah dibuat dalam sejarah umat manusia. (Sebagai referensi dan perbandingan, itu terjadi pada tahun 622 M. Magna Carta Inggris baru ditandatangani tahun 1215 M, 593 tahun kemudian.)

Yang lebih menakjubkan lagi, dalam proses pembuatannya, Rasulullah melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Dia mengumpulkan perwakilan dari semua komunitas yang beragam, termasuk Yahudi, Kristen, dan bahkan orang-orang kafir di antara orang-orang Arab pada saat itu.

Hal ini jelas menunjukkan bahwa toleransi dan demokrasi telah menjadi bagian integral dari bangsa ini di bawah Rasulullah sejak awal.

Keempat, kita memiliki pembentukan pemberdayaan ekonomi.

Sekitar tahun kedua setelah Hijrah, ayat Zakat diturunkan. Rasulullah memahami ayat di luar pemahaman konvensional. Dia mengerti bahwa kewajiban zakat tidak hanya memberikan 2,5 harta kita setelah pengeluaran dasar yang diperlukan. Namun, lebih dari itu, juga merupakan kewajiban untuk memberdayakan ummat kita secara ekonomi.

Oleh karena itu sebagai bagian dari pemberdayaan ekonomi ummat, Nabi mengumpulkan para sahabat kaya seperti Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan lain-lain untuk bersatu dan membeli sumur dan pasar yang kebetulan dimiliki oleh masyarakat lain.

Ini adalah pelajaran dan pengingat yang kuat bahwa umat atau komunitas ini tidak dapat bertahan dan berkembang tanpa ekonomi yang kuat. Penyebutan “shalat dan zakat” secara bersamaan di sebagian besar ayat Al-Qur’an menunjukkan bahwa ketaatan kita kepada Allah harus ditopang oleh ekonomi yang kuat.

Fakta bahwa umat ini lemah secara ekonomi menyebabkan mereka terpinggirkan dan tertindas di banyak tempat di dunia saat ini. Bahkan lebih menyakitkan mengetahui beberapa bahkan senang diperbudak oleh kekuatan asing karena keserakahan dan keegoisan mereka.

Kelima, persiapan militer. Ancaman nyata dari kekuatan asing untuk melenyapkan komunitas baru Madinah membuat Rasulullah bersiap untuk membela diri.

Kita tahu dari sejarah bahwa ketika komunitas Muslim mulai didirikan di Madinah, kekuatan Mekah tidak bisa berhenti. Mereka mencoba segala cara yang mungkin untuk menghancurkan komunitas baru di bawah kepemimpinan Nabi di Madinah. Allah kemudian mengizinkan Rasulullah dan kaumnya untuk membela diri.

“Izin diberikan kepada mereka yang diserang (untuk berperang) karena mereka tertindas” (Quran).

Nabi kemudian mulai mempersiapkan umatnya secara militer. Al-Qur’an memerintahkan mereka dengan mengatakan: “wa a’idduu lahum mastato’tum mi quwwah” (melawan mereka, siapkan kekuatan Anda dengan sekuat tenaga).

Ini adalah pesan yang jelas bahwa umat ini harus siap untuk setiap kejadian yang tidak diinginkan. Kita tidak boleh menyerang siapa pun terlebih dahulu, apa pun alasannya, namun kita diberi hak untuk membela diri jika perlu.

Tetap semangat dan optimis

Ini adalah lima di antara fondasi terpenting yang digagas Rasulullah untuk mendirikan komunitas Muslim (Ummah) pertama di Madinah. Tentu masih banyak faktor lain agar ummat bisa berkembang dan kuat. Pendidikan misalnya merupakan suatu keharusan bagi setiap masyarakat untuk berkembang dan maju.

Setelah semua langkah itu, sekitar 8 tahun setelah Hijrah Rasulullah akhirnya diberikan oleh Allah jalan kembali ke Makkah dengan penuh kemenangan. Peristiwa ini dikenal dalam sejarah sebagai “Fath Makkah” atau penaklukan Makkah.

Kepastian yang kuat bahwa betapapun panjang dan berduri jalannya, harapan dan optimisme harus selalu dijunjung tinggi. Seperti yang orang Inggris katakan: “di ujung terowongan, ada cahaya yang bersinar”.

Maka, saat kita memperingati tahun baru, di tengah segala tantangan dan kenyataan menyakitkan umat, kita harus tetaplah kuat, terus melangkah dan tetap pertahankan optimisme harapan yang tinggi. In syaa Allah!

(AK/R6/P1)

Kantor Berita Mi’raj (MINA)